
Seminggu sudah sejak Fatimah pergi ke kantor Rayyan, sejak saat itu, setiap hari Fatimah akan datang untuk mengantar makan siang sang suami dan menemani Rayyan kerja sampai sore hari, bahkan ketika Rayyan harus lembur pun, Fatimah akan setia menemaninya.
Rayyan emang masih lupa akan masa lalu yang menyakitkan, tapi Rayyan ingat akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan perusahaan.
Rayyan juga semakin semangat jika kerja di temani sang istri, ia bahkan tidak pernah keluar dari ruangannya kecuali emang ada meeting atau ada hal yang mendesak. Rayyan juga sedikit demi sedikit mengajari sang istri tentang bisnis agar Fatimah punya ilmu tentang sebuah bisnis, karena bagaimanapun kita tak pernah tau bagaimana kedepannya. Untuk itu, Rayyan ingin menggali potensi Fatimah dan mengajari Fatimah apa yang ia bisa.
"Sayang," panggil Rayyan, Fatimah yang tengah duduk di hadapan komputer langsung menoleh ke arah suaminya.
"Iya, Mas," jawab Fatimah sambil melihat ke arah Rayyan.
"Nanti malam, Mas di undang oleh Pak Ridwan di ulang tahun istrinya. Mas sebenarnya males mau kesana. Tapi mau nolak juga gak enak, karena Pak Ridwan adalah rekan kerja Mas. Menurutmu gimana?" tanya Rayyan meminta pendapat Fatimah, bagaimanapun saat seorang suami meminta pendapat istrinya, maka sang istri akan merasa di hargai.
"Kalau memang di undang, datang aja Mas. Apalagi dia kan rekan kerja Mas Rayyan, pasti dia akan senang jika melihat Mas datang di acara istrinya," balas Fatimah. Sebenarnya dalam islam, tidak ada yang namanya ulang tahun, tapi Fatimah juga tidak mungkin membatasi pertemanan suaminya, apalagi jika sudah berkaitan dengan bisnis. Bisa jadi Pak Ridwan akan sakit hati, misal Rayyan gak datang, padahal sudah di undang,
"Baiklah, tapi kamu harus ikut Mas ya. Soalnya Rio gak bisa datang karena ada urusan lain," pinta Rayyan dengan lembut.
"Iya, Mas. Emang jam berapa acaranya?" tanya Fatimah.
"Jam setengah delapan."
"Baiklah, ada waktu bersiap siap. Nanti habis sholat maghrib baru kita berangkat. Jauh, gak?"
"Deket kok, sekitar satu jaman."
"Oh, berarti nanti kita pulang lebih awal ya Mas?"
__ADS_1
"Iya, Sayang."
"Baiklah."
"Apa perlu kita beli baju baru?"
"Enggak usah Mas. Lagian baju kita banyak di lemari, bahkan bajuku juga banyak yang belum di pakai. Lebih baik pakai yang ada dulu, dari pada harus beli baju baru terus." jawab Fatimah yang tak ingin buang-buang uang.
"Baiklah, jika memang itu yang terbaik," ucapnya mengalah.
Setelah itu, tidak ada percakapan lagi. Sehingga Fatimah mulai fokus ke komputer yang ada di hadapannya. Seminggu belajar dari suaminya, membuat Fatimah sedikit demi sedikit mengerti tentang perusahaan, sehingga bisa membantu meringankan pekerjaan Rayyan.
Walaupun hanya tamatan SMA, tapi Fatimah cukup pintar untuk menerima dan menangkap penjelasan Rayyan. Memang benar, jangan melihat seseorang dari tamatan apa atau lulusan apa. Melainkan lihat bagaimana dia mau belajar, mau berusaha sehingga bisa seperti yang lain.
Rio pun juga tak menyangka, hanya dalam sebulan, Fatimah sudah bisa membantu meringankan pekerjaan Rayyan, Rio sangat bersyukur sekali dengan kepintaran Fatimah. Karena jika Fatimah tidak membantu Rayyan, maka otomatis pekerjaan yang belum terselesaikan oleh Rayyan, akan jatuh padanya. Yang artinya, mau gak mau, suka gak suka, dirinya harus menyelesaikan pekerjaan yang bukan tanggung jawabnya.
Jam empat sore, Rayyan sudah mengajak Fatimah pulang dengan di jemput oleh Pak Ihsan. Karena Rio sendiri gak bisa mengantar mereka pulang karena masih ada pekerjaan yang belum terselesaikan. Rayyan pun mengerti, bagaimanapun Rio punya tanggung jawab besar, dialah yang banyak berperan di perusahaan yang ia miliki dan Rayyan hanya terima beres. Karena sebagai pemimpin perusahaan, pekerjaannya tidak sebanyak seperti sekertaris Rio yang juga merupakan sahabat sekaligus tangan kanannya.
Rio yang menyiapkan semuanya, sehingga ia hanya perlu mengecek dan tanda tangan, memberikan ide, serta memimpin rapat jika memang dirinya yang harus turun tangan. Namun selama masih bisa di atasi oleh Rio, maka Rio sendiri yang akan menghadiri rapat itu.
Tentu penghasilan yang Rio dapatkan berpuluh puluh kali lipat dari karyawan yang lain, karena memang tanggung jawab yang di embannya tidak main-main.
Saat dalam perjalanan pulang, mobil berhenti di lampu merah. Tiba-tiba ada dua anak yang menawari tisu pada Fatimah, kebetulan emang jendela mobil di buka setengahnya sehingga dua anak itu mendatangi Fatimah berharap Fatimah mau membeli tisu yang mereka bawa.
Memang setiap lampu merah, kita akan menemukan banyak anak-anak remaja yang mengamen, menjual tisu, koran dan juga buah rambutan serta makanan lainnya. Bahkan juga ada Ibu-ibu yang gendong anak kecil mengharap belas kasih dari pengendara sepeda motor dan mobil yang berhenti di lampu merah.
__ADS_1
Bukan hanya Ibu-ibu, tapi juga ada bapak-bapak yang mengemis dengan baju yang bolong sana-sini, bahkan ada yang rela pura pura lumpuh hanya agar orang mau kasihan dan memberikan uang lebih. Bahkan ada juga kakek-kakek dan nenek nenek yang ikut ikutan mengemis. Tentu, banyak yang mau melakukan pekerjaan itu mengingat hasilnya juga lumayan. Hanya cukup menengadahkan tangan, maka mereka akan mendapatkan uang dengan mudah.
Namun Fatimah tidak mau memiliki hati yang kotor, jadi apapun alasannya dan bagaimana mereka menipu orang lain, Fatimah tidak mau ikut campur. Yang penting Fatimah mau memberi seikhlasnya dan selain itu, biar Allah aja yang mengurusnya. Toh yang penting niat baik kita pada orang lain, sedangkan masalah orang lain, biar jadi urusan mereka dengan Tuhannya.
Fatimah mengambil uang di dompetnya lalu membeli semua tisu yang di jual oleh anak laki-laki yang mungkin umurnya baru delapan tahunan.
Melihat Fatimah membeli semua tisu yang ia bawa, tentu senyum anak itu merekah. Fatimah pun ikut senang bisa bantu orang lain dan membuat orang lain tersenyum bahagia.
"Terima kasih, Kak. Semoga Allah membalas kebaikan kakak," ucap anak itu dengan tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Seakan ia sangat bersyukur karena ada orang yang baik hati mau membeli semuanya, setelah dari pagi, hanya ada satu orang yang membeli tisu yang ia bawa. Bahkan ia mendapatkan uang lebih dari yang seharusnya.
"Sama-sama," balas Fatimah.
Setelah itu, mobil pun mulai melaju karena lampu merah kini sudah berganti lampu warna hijau. Anak itu pun segera berjalan menuju pinggir jalan. Kini anak itu bisa pulang sore dan bisa membeli beras untuk ibu dan adiknya yang menunggu kepulangannya.
Sedangkan Fatimah menaruh tisu itu di kursi depan.
"Kok beli banyak?" tanya Rayyan..
"Kasihan, Mas. Lagian uang Mas Ray, gak akan habis hanya karena membantu meringankan beban orang lain," balasnya membuat Rayyan mengangguk.
"Iya, kamu benar. Lain kali, aku pun akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan," ujarnya.
"Nah itu baru suamiku." Fatimah menghadiahkan ciuman singkat di pipi suaminya. Rayyan yang mendapatkan ciuman singkat dari istrinya pun langsung membalasnya, tentu tak sesingkat yang Fatimah berikan tadi.
Sedangkan Pak Ihsan, ia pura pura tuli dan fokus ke jalan. Namun dalam hati, ia bersyukur melihat majikannya yang kini tengah bahagia dan berharap kebahagiaan itu akan terus berlangsung lama sampai mereka kakek nenek, sampai ajal menjemput mereka berdua.
__ADS_1