
Sesampai di bandara, mereka di jemput oleh Asisten Rio. Mata Rio juga bengkak, seperti habis menangis.
"Rio, bagaimana keadaan Bibi?" tanya Fatimah setelah mereka berada di dalam mobil.
Rio menghela nafas kasar, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Fatimah.
"Bibi Aisyah sudah pergi," jawabnya dengan suara serak.
"Pergi, pergi kemana?" tanya Fatimah seperti orang linglung.
"Bibi Aisyah, sudah meninggal," jawabnya pelan, tapi karena suara hening, membuat Fatimah dan Rayyan mendengar dengan jelas.
Rayyan merasa hatinya berdenyut sakit, begitupun dengan Fatimah. Ia bahkan langsung pingsan.
Rayyan yang melihat Fatimah terkulai lemas, langsung panik seketika.
"Sayang, sayang ... " panggilnya sambil menepuk pelan pipi Fatimah.
"Fatimah, Ya Allah. Kamu kenapa, Sayang," ujarnya yang terus berusaha menyadarkan Fatimah.
__ADS_1
Rio pun tak kalah soknya, dia yang tadinya mau langsung pulang ke Mension, langsung ke rumah sakit terdekat tanpa izin dulu pada Rayyan.
"Sayang, bangun. Please, jangan bikin khawatir," ujarnya. Entah kenapa ada rasa ketakutan tersendiri, takut jika misal Fatimah kenapa-napa.
"Sayang," Rayyan membawa Fatimah ke pangkuannya. Tapi sayang, Fatimah seakan enggan membuka matanya.
"Tuan," panggil Rio.
"Ada apa? Kenapa dengan istriku?" tanyanya membuat Rio hanya bisa menghela nafas.
"Tuan, sekarang kita ada di rumah sakit. Lebih baik Anda membawa Non Fatimah periksa untuk mengetahui lebih lanjut," ujarnya. Dan benar saja, Rayyan langsung melihat ke arahnya, tanpa aba-aba, Rayyan langsung membawa Fatimah keluar dari mobil. Sedangkan Rio, dia tidak diam saja, ia langsung mengambil brankar untuk Fatimah, namun Rayyan menolaknya.
Selagi Rayyan mengurus Fatimah, Rio langsung mengurus administrasinya. Bahkan Rio bukan hanya meminta dokter terbaik di rumah sakit itu, melainkan juga kamar VVIP.
Melihat jika yang membawa pasien adalah Rayyan, pengusaha muda yang namanya sering ada di majalah, di sosial media dan di TV. Tentu para dokter langsung memberikan pelayanan terbaik.
Rayyan bahkan di biarkan masuk dan melihat langsung saat dokter memeriksa Fatimah.
"Istri saya kenapa, Dok?" tanyanya
__ADS_1
"Nyonya hanya kelelahan saja, dan apakah sebelumnya Nyonya mendapatkan kabar yang buruk?" tanyanya dengan tutur kata yang lembut, takut jika dia menyinggung perasaan Rayyan.
"Iya," jawabnya sambil fokus melihat ke arah Fatimah.
"Apakah istri saya tidak apa-apa? Atau harus di rawat di rumah sakit?" tanyanya lagi.
"Nyonya tidak harus di rawat di sini, dan sebentar lagi, Nyonya akan segera sadar. Dia hanya kelelahan dan butuh istirahat yang cukup, dan jangan biarkan Nyonya terlalu lelah dan stres. Karena itu bisa membuat Nyonya pingsan seperti ini," tuturnya.
Rayyan hanya menganggukkan kepalanya saja.
Ya, setelah di fikir-fikir, wajar misal Fatimah kecapean, karena di Singapura jalan-jalan terus, dan belum sempat istirahat.
Apalagi Fatimah menangis berjam-jam lamanya, dan tadi, ia mendapatkan kejutan yang membuat dirinya sangat sok.
Bahkan Rayyan sendiri pun, merasa hatinya begitu sakit saat tau Bibi Aisyah meninggal apalagi Fatimah yang beberapa bulan ini sangat akrab dengan Bibi Aisyah.
Dokter itu segera keluar, dan memberikan kesempatan buat Rayyan berdua dengan Fatimah.
Sedangkan Rio hanya bisa menunggu mereka di luar pintu rawat inap. Rio gak berani masuk karena takut menganggu mereka.
__ADS_1
Bagaimanapun Rayyan pasti butuh waktu sendiri, apalagi dalam kondisi Fatimah yang lagi tak sadarkan diri.