
Setelah Rayyan pergi, Sofi, Anggi dan Della serta ART lainnya langsung pergi ke kamar Fatimah untuk menjenguk keadaaan Fatimah. Ternyata Fatimah kini tengah pingsan, mungkin sudah tak tahan lagi dengan rasa sakitnya. Bibi Aisyah cuma bisa mengompres perut Fatimah agar bisa mengurangi rasa sakitnya.
Sofi membawa bubur, Anggi membawa teh hangat dan Della membawa obat pereda nyeri.
"Fatimah kenapa, Bi?" tanya Sofi.
"Pingsan, setelah tadi dia terus mengeluh kesakitan di area perutnya," ujarnya.
Anggi dan Della melihat wajah Fatimah yang masih bengkak, bahkan mereka nyilu sendiri rasanya melihat keadaan Fatimah seperti itu.
"Ini makanannya gimana, Bi?" tanya Sofi lagi.
__ADS_1
"Taruh aja di meja, nanti kalau sudah sadar, biar Bibi suapi Fatimah," jawabnya. Sofi pun menganggukkan kepalanya, lalu menaruh bubur itu di atas meja, Anggi pun juga menaruh minuman yang ia pegang di samping bubur, begitu pun dengan Della, ia menaruh obat itu di samping bubur dan teh hangat.
"Kasihan ya, Bi," tutur Anggi.
"Iya, kita harus bantu doa, agar Fatimah di berikan kesembuhan dan Tuan Ray di bukakan hatinya agar tak lagi terus menerus menyiksa Fatimah," ujar Bibi Aisyah dan mereka pun mengangguk setuju.
"Iya, Bi. Amiin."
Tak lama kemudian, Dokter Ratih datang bersama Mbak Nana. Melihat mereka datang, Sofi dan kedua temannya pun segera pergi dari sana. Mereka cukup tau diri, kalau tidak boleh terus menerus berada di sana, walaupun dalam hati, mereka ingin tetap ada di situ menemani Fatimah. Namun selain karena pekerjaan yang sudah menunggu mereka, mereka juga merasa sungkan dengan Dokter RAtih yang merupakan dokter pribadi di mension ini. Jadi siapa yang sakit, pasti andalannya akan memanggil Dokter Ratih, karena memang Dokter Ratih di percaya untuk menangani semua masalah yang ada di mension ini, tentu yang hanya berkaitan dengan kesehatan aja. Selebihnya Dokter Ratih tak akan bisa bantu.
Mbak Nana pun hanya bisa diam, hatinya sakit, dadanya sesak melihat Fatimah dalam kondisi seperti ini. Bibi Aisyah pun menceritakan ulang apa yang tadi malam terjadi, persis seperti yang Fatimah ceritakan padanya.
__ADS_1
"Bang-sat, setan dia itu. Gak punya hati, semoga kelak dia bisa merasakan rasa sakit, perih dan pedih yang luar biasa. Dan jika saat itu tiba, aku gak akan membantu dia mengobatinya, bahkan jika dia memohon di kaki aku sekalipun," geram Dokter Ratih. Mbak Nana yang ada di sampingnya pun mengamini ucapan Dokter Ratih.
Ia gak bisa mengumpat, karena sebelumnya Bibi Aisyah sudah mewanti wanti agar tidak sampai berbicara yang tidak tidak karena selain ada CCTV juga ada perekam suara yang langsung terhubung ke HP Rayyan.
Makanya, Mbak Nana hanya bisa diam dan menangis. Berbeda dengan Dokter Ratih yang mempunyai banyak keberanian karena dia dan Rayyan adalah teman.
"Ini sebenarnya harus di bawa ke rumah sakit lagi, Bi. Ada banyak luka dalam, gak bisa nih kalau di obati di rumah. Bahaya nanti, itu juga ususnya hancur, kita harus segera memotong bagian yang hancur. Terpaksa, Fatimah harus menjalani operasi," ujar Dokter Ratih.
"Allah, mau sampai kapan Fatimah keluar masuk rumah sakit hiks hiks, kasihan hidupnya penuh dengan penderitaan," tutur Bibi Aisyah menangis.
"Ayo, Bi. Cepetan, kita bawa Fatimah ke rumah sakit, pakai mobil aku aja biar cepet. Kasihan kalau sampai Fatimah terus menerus menahan rasa sakit," ucap Dokter Ratih, karena ini cukup serius dan tidak bisa di tangani di rumah.
__ADS_1
Akhirnya lagi dan lagi, Fatimah harus di bawa ke rumah sakit untuk operasi. Pak Han hanya bisa melihatnya, namun dalam hati ia mendoakan Fatimah agar Fatimah lekas sembuh dan baik baik saja. Bahkan Pak Han juga berharap, jika Fatimah bisa keluar dari mension yang penuh dengan neraka ini.
Sofi yang melihat Fatimah lagi lagi di bawa ke rumah sakit pun, hanya bisa mengepalkan tangannya. "Tuhan, jika Engkau emang maha melihat, tolong berilah keadilan untuk Fatimah. Berikan keadilan untuknya, Tuhan. Kumohon."