
Tak terasa mereka sudah tiga berada di Singapura, hari ini Rio akan kembali ke Indonesia dan fokus kerja disana. Sedangkan Rayyan maish bertahan di Singapura untuk menghabiskan waktu di sana sekalian bulan madu kedua.
Rio tak memperdulikannya, ia malah mensuport mereka dan meminta untuk segera di berikan momongan. Tentu Rayyan dan Fatimah juga tidak sabar menanti kehadiran malaikat kecil di keluarga mereka.
Setelah kepergian Rio, Rayyan langsung mengajak Fatimah untuk pergi di beberapa wisata yang terkenal di Singapura. Dan semua itu di abadikan di Hp Rayyan. Rayyan tak mempermasalahkannya jika galerinya penuh dengan foto dan video mereka.
Sesekali Fatimah juga mengirim foto dan vidio itu kepada Rio untuk di jadikan album. Rio pun menerimanya dan menyimpan semua itu dalam file secara online agar Fatimah juga bisa mengaksesnya sendiri.
"Mas, setelah pulang dari sini, kita pergi ke panti asuhan, yuk," ajak Fatimah.
"Boleh, panti asuhan mana?"
"Dimana aja, Mas. Yang penting kita berbagi di sana sambil minta di doakan agar aku bisa segera hamil."
"Aku sebenarnya tidak terlalu buru-buru, Sayang. Memang benar, aku ingin punya anak, tapi aku gak buru-buru, lagian punya anak bukan ajang perlombaan, kalau emang sudah di takdirkan sama Allah, pasti kamu akan hamil. Entah itu kapan. Aku akan setia menunggu."
"Terimakasih ya, Mas. Dan maaf karena sampai detik ini, aku belum bisa memberikanmu anak."
__ADS_1
"Kenapa harus minta maaf, sambil nunggu anak tiba di tengah-tengah kita, kita juga bisa memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang, menghabiskan waktu berdua liburan dan memupuk rasa cinta di antara kita. Lagian kita kan sudah periksa dan semuanya subuh, jadi gak perlu terlalu di fikirkan."
Fatimah, lagi-lagi bersyukur karena Rayyan tak menuntut dirinya untuk hamil dalam waktu cepat. Setidaknya itu tidak terlalu membebani fikirannya tapi tetap aja, ia ingin segera punya anak untuk mempererat hubungannya dengan sang suami. Apalagi anak adalah ikatan kuat untuk suami istri.
Rayyan sangat menikmati waktu berdua dengan Fatimah, jika siang hari mereka bersenang-senang, maka di malam hari merekapun juga bersenang-senang di atas ranjang, menikmati surga dunia.
Di saat mereka bersenang-senang, tiba-tiba Fatimah mendapatkan telfon dari Sofi, yang mengatakan bahwa Bibi Aisyah masuk rumah sakit karena jatuh di kamar mandi.
Mendengar hal itu, Fatimah merasa kakinya lemas hingga Rayyan harus menahannya agar tidak jatuh.
"Ada apa, Sayang?" tanya Rayyan khawatir melihat istrinya menangis sambil memegang telfon.
"Astaghfirullah, kok bisa?"
"Jatuh di kamar mandi "
Walaupun Rayyan tidak terlalu ingat dengan Bibi Aisyah, tapi mendengar jika Bibi Aisyah jatuh dan masuk rumah sakit, dadanya ikut sesak.
__ADS_1
Hari itu juga, mereka pun memutuskan pulang lebih awal, mereka tak mungkin bersenang-senang di saat Bibi Aisyah mini tengah sakit, entah lukanya parah apa enggak.
Fatimah tidak terlalu mendengarkannya penjelasan Sofi karena terlalu sok dan kaget.
Sepanjang jalan, Fatimah terus saja menangis. Hatinya begitu sakit, dan Dadanya terasa sesak. Ia tak menyangka jika kepergiannya untuk menikmati bulan madu kedua, malah mendapatkan musibah seperti ini. Seharusnya ia cukup di rumah aja dan menjaga Bibi Aisyah yang tak lagi muda.
Apalagi memang akhir-akhir ini, Fatimah melihat jika Bibi Aisyah pucat dan seperti tengah sakit.
Seharusnya Fatimah tidak meninggalkan, kini ia menyesali keputusannya yang memilih ikut suaminya ke Singapura. Alih-alih ia menjaga, Bibi Aisyah.
Fatimah terus saja merasa bersalah, sedangkan Rayyan tak tega melihatnya, ia hanya bisa menenangkannya dengan kata-kata lembut dan dengan elusan berharap Fatimah tak terlalu sedih.
"Sayang, jangan nangis terus, nanti matamu bengkak," tutur Rayyan lembut.
"Bagaimana aku tidak nangis, Mas. Aku takut Bibi Aisyah kenapa-napa, aku takut kehilangan Bibi Aisyah. Dia selalu ada di saat aku terpuruk, sungguh aku sangat menyayanginya dan aku ingin Bibi Aisyah selalu sehat dan menemani kita sampai tua, bahkan sampai aku punya anak dan cucu. Aku ingin Bibi Aisyah sehat terus," balas Fatimah.
"Iya aku tau, tapi saat ini yang di butuhkan Bibi Aisyah adalah doa dari kita, jangan nangis lagi ya," ujarnya sambil menyeka air mata Aisyah dengan tisu yang ia ambil dari tas milik istrinya.
__ADS_1
Fatimah tidak mau menangis, tapi air mata keluar sendiri tanpa bisa ia cegah, Rayyan sendiri juga sebenernya cukup khawatir sama kondisi Bibi Aisyah. Walaupun ia tak ingat semuanya, tapi samar-samar ia seperti melihat Bibi Aisyah yang selalu menjaganya dari kecil. Hanya ingatan yang samar tapi membuat Rayyan mengerti, jika Bibi Aisyah cukup berarti dalam hidupnya.
Rayyan sebenarnya juga sangat khawatir sekali, tapi ia gak bisa menangis layaknya perempuan, ia harus tegar. Lagian ada istri, yang harus dia hibur saat ini.