
Malam harinya, jam sepuluh malam, Fatimah ketiduran setelah seharian ia hanya duduk di sofa dan menatap ke arah pintu. Tadi Bibi kembali ke kamar hanya untuk memberikan Fatimah makan dan meminta Fatimah untuk minum obat. Setelahnya, Bibi Aisyah pergi begitu saja.
Jam satu dini hari, Tuan Ray menyelinap ke kamar itu dan melihat Fatimah yang tertidur pulas, kali ini Tuan Ray tidak akan memaksa Fatimah untuk melayaninya. Ia akan nunggu hari esok, hari di mana ia akan menikahi Fatimah dan setelah itu, ia akan melakukannya sampai puas.
Setelah cukup melihat keadaan Fatimah yang tertidur, barulah Tuan Ray pergi dari sana dan kembali ke kamarnya.
Di kamar, Tuan Ray menatap figora istrinya. Di sana istrinya berfoto dengan sangat **** sekali sambil tersenyum manis ke arah kamera. Tuan Ray sangat menyukai foto itu apalagi baju maroon sangat cocok melekat di tubuh sang istri yang mempunyai kulit putih.
"Besok aku akan menikahinya. Namun percayalah, aku menikah bukan karena aku mencintai dia, melainkan karena aku ingin menikmati tubuhnya. Semoga kamu mengerti apa yang aku rasakan. Semoga kamu tidak marah atas apa yang aku lakukan. Karena jujur, aku seperti ini karena aku terluka. Aku masih belum ikhlas membiarkan kamu pergi dariku. Aku kecewa karena kamu memilih menyembunyikan semuanya dariku, dan memilih untuk mengakhiri hidup. Padahal jika saat itu kamu cerita, aku akan melindungi dirimu dari mereka. Aku akan membawa kamu pergi jauh dari mereka, agar kamu tidak lagi tertekan, tapi kamu tidak mau terbuka dan menyimpan semua rapat-rapat dariku." ucap Ray mengusap lembut foto sang istri.
Setelah puas berbicara sendiri, Tuan Ray menaruh figora itu di atas meja, lalu ia pun masuk ke ruang kerjanya dan mulai menghidupkan komputer.
Keesokan harinya, Fatimah sudah selesai mandi dan memakai baju daster milik Felisha. Fatimah belum berani keluar dan memilih untuk tetap diam di kamarnya, namun tiba-tiba saja, pintu kamarnya terbuka dan menampakkan Tuan Ray yang sudah rapi dengan jas kantornya.
__ADS_1
"Pakai ini dan segera keluar. Aku menunggu di ruang makan!" Tuan Ray melempar tas ke arah Fatimah hingga mengenai wajahnya.
Setelah melemparkannya dengan keras, Tuan Ray langsung pergi begitu saja. Sedangkan Fatimah, ia membuka tas itu dan isinya hanyalah gaun panjang warna putih. Namun sayang, di bagian punggungnya cukup terbuka sehingga bisa mengespos bagian-bagian yang tak seharusnya dilihat oleh orang lain.
Ingin rasanya Fatimah memakai baju yang lain, yang lebih tertutup, tapi jika ia tak memakainya, Tuan Ray pasti akan marah besar padanya. Jadi mau gak mau, Fatimah pun akhirnya memakai baju itu, baju yang pas body dan menampilkan punggungnya yang putih mulus. Fatimah memilih untuk tidak mengikat rambutnya dan menguraikannya untuk menutupi punggungnya yang terbuka lebar.
Setelah selesai, barulah Fatimah keluar dari kamar dan pergi menuju ruang makan. Melihat tampilan Fatimah, beberapa ART di sana bukannya terpukau malah merasa kasihan melihat Fatimah yang kurang nyaman dengan baju yang ia pakai. Namun mereka memilih untuk diam dan pergi begitu saja dari ruang makan.
"Duduk!" ucapnya dingin.
"Makan yang banyak, setelah itu ikut aku ke KUA, kita akan menikah hari ini menggunakan wali hakim!" ujarnya. Fatimah hanya menganggukkan kepala lalu, ia makan makanan yang tersaji di hadapannya. Cukup sulit untuk ia telan, namun ia memaksanya untuk tetap masuk. Ia tak ingin melihat Tuan Ray murka lagi dan membuat sesuatu yang akan menyakiti dirinya.
Selesai makan, Fatimah segera pergi dari sana bersama Tuan Ray dan juga Asisten Rio yang ternyata sudah menunggu di luar.
__ADS_1
Setelah Fatimah pergi, Bibi Aisyah dan semua ART yang ada di sana hanya menatap sedih kepergian Fatimah. Jika biasanya ada yang menikah, mereka ikut bahagia, namun yang terjadi malah sebaliknya. Mereka sedih, karena Fatimah akan menikahi majikan mereka. Tak apa jika majikannya baik, tapi jika majikannya seperti monster, tentu mereka merasa khawatir dan was was terhadap nasib Fatimah.
Sedangkan di jalan, Fatimah memilih diam, begitupun dengan Tuan Ray dan juga Asisten Rio. Tak ada yang buka suara bahkan sampai mereka sampai di depan KUA pun, juga tak ada yang bicara.
Lalu setelah itu, mereka bertiga turun dari mobil dan masuk ke dalam KUA. Asisten Rio sudah menyiapkan semua berkas-berkasnya. Dan asisten Rio juga akan menjadi saksi pernikahan mereka. Tentu bukan hanya asisten Rio tapi yang akan jadi saksi pernikahan, tapi juga beberapa laki-laki pekerja KUA. Karena jika hanya Rio sendiri, tentu tidaklah sah.
Karena bagaimanapun untuk saksi sah setidaknya di perlukan paling tidak, dua orang.
Untuk wali, Fatimah menggunakan wali hakim karena Ayah kandung Fatimah sudah meninggal dan saudara Ayah kandungnya pun seorang perempuan sedangkan Kakek kandung dari pihak Ayahnya juga sudah tidak ada. Adanya cuma Nenek dari pihak Ayah dan anak perempuannya.
Sedangkan untuk dari pihak Ibu sangat lengkap tapi mereka tidak ada hak untuk menjadi wali nikah Fatimah. Jadi untuk itu, mereka memutuskan untuk memakai jasa wali hakim.
Saat detik-detik ijab qobul, Fatimah merasa deg-degan, karena baginya ini adalah detik-detik menuju kehancurannya.
__ADS_1
Namun tidak bagi Tuan Ray, ini adalah awal di mana ia bisa melakukan apa saja kepada Fatimah yang bentar lagi sudah sah jadi istrinya.
Ijab qobul pun di lakukan dan kini Fatimah sudah sah jadi istri dari Rayyan Abraham Alexander. Fatimah menitikkan air mata, bukan air mata haru atau air mata kebahagiaan, melainkan air mata kesedihan dan juga kekecewaan, tak menyangka jika jodohnya adalah Tuan Ray, pria penjahat kedua setelah ayah tirinya.