Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Kemesraan Di Pagi Hari


__ADS_3

Keesokan harinya, Rayyan mengatakan pada Rio jika dirinya ingin kembali bekerja. Jadi Rayyan meminta Rio untuk menyiapkan berkas penting dan apa saja yang ia lewatkan selama ini.


Mengetahui suaminya akan kembali bekerja, Fatimah bangun pagi-pagi sekali, untuk memasak sendiri khusus untuk sarapan pagi suaminya. Ia ingin Rayyan makan masakan yang ia buat dari tangannya sendiri.


Semua koki pun membiarkan Fatimah untuk memasak sendiri buat suaminya. Semua koki di sana juga berharap, dengan ketulusan Fatimah, bisa membuat Rayyan benar-benar jatuh hati pada Fatimah dan jika suatu saat Rayyan Ingat semuanya, Rayyan tak lagi menyiksa Fatimah seperti dulu lagi.


Ada orang yang mengatakan, dari masakan bisa membuat orang jatuh cinta. Itulah kenapa, Pak Han juga mengizinkan Fatimah menguasai area dapur, misal ingin memasak khusus buat Rayyan. Para Koki juga bahkan tidak membantu sama sekali, bukan karena tega, tapi memang mereka ingin melihat perjuangan Fatimah dalam membuat suaminya luluh padanya. Serta mereka ingin, Rayyan melihat sendiri perjuangan Fatimah dan bagaimana Fatimah melayaninya selama ini.


Setelah selesai memasak dan menaruhnya di meja makan, Fatimah langsung pergi ke kamar lagi dan melihat suaminya sudah berpakaian rapi.


Fatimah menghampiri suaminya dan membenarkan dasi yang sedikit miring.


"Aku fikir belum bangun," ujarnya. Karena memang tadi, Rayyan sehabis sholat subuh, izin istirahat sebentar karena masih mengantuk.


Tadi Rayyan emang tidur jam tiga pagi karena mengurus berkas yang harus ia bawa hari ini.


"Aku sudah bangun dari tadi, terimakasih sudah menyiapkan bajuku." Rayyan memberikan kecupan di kening Fatimah.


"Sama-sama, itu sudah tugas aku sebagai seorang istri."

__ADS_1


“Kamu dari mana?”


“Masak, ayo sarapan, Mas harus menyicipi masakan aku, aku dapat resep baru tadi.”


“Dapat dari mana?”


“Dari iseng iseng coba hehe,” Fatimah tersenyum malu-malu, membuat Rayyan gemas sendiri jadinya.


“Hmm dari iseng-iseng ya, tapi aku yakin, masakan kamu pasti sangat enak,” puji Rayyan.


“Coba dulu, baru komentar.”


Tanpa aba-aba, Rayyan langsung menggendong Fatimah ala bridal style, membuat Fatimah kaget dan menjerit tanpa sadar. Namun pada akhirnya, ia bahagia dengan apa yang di lakukan oleh suaminya.


Fatimah mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, dan menatap wajah suaminya yang sangat tampan. “Semoga kamu terus seperti ini, Mas. Menyayangi aku dan tak lagi menyakiti aku seperti dulu,” gumam Fatimah dalam hati.


Sesampai di ruang makan, Rayyan menurunkan Fatimah, lalu setelah itu, Rayyan duduk di kursi kebesarannya sedangkan Fatimah, ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk, lalu memberikannya kepada Rayyan, tak lupa segelas air putih hangat yang juga ia siapkan.


“Ayo sarapan bareng,” ujar Rayyan, Fatimah menganggukkan kepalanya. Ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Dan setelahnya, mereka pun makan bersama. “Rasanya enak banget, bumbunya pas.” Puji Rayyan, mendengar hal itu, tentu Fatimah sangat bahagia sekali. Ia berjanji, akan selalu memasakkan masakan yang enak untuk suaminya itu.


Setelah seleasi makan, Rio datang.


Fatimah menyuruh Rio makan dulu, tapi Rio menolaknya dengan halus, karena ia sudah sarapan di apartemennya.


Fatimah mengantarkan Rayyan sampai depan rumah, ia mencium punggung tangan Rayyan dengan menyelipkan doa yang penuh dengan harapan.


“Aku kerja dulu ya,” pamit Rayyan.


“Iya, Mas. Nanti siang aku akan minta sopir mengantarkan makan siang buat kamu ya. Enggak papakan?” Tanya Fatimah, karena ia tak akan melakukan sesuatu tanpa izin suaminya.


Fatimah sangat takut, takut jika dirinya melakukan kesalahan yang akan membuat suaminya marah. Jadi apapun yang akan Fatimah lakukan, harus ada izin suaminya lebih dulu.


“Iya, tapi kalau bisa, kamu sendiri yang datang ke kantor ya. Aku ingin kita makan bersama. Nanti suruh Pak Ihsan buat antar kamu ke kantor.”


“Baiklah, jika itu yang Mas mau.”


“Hmm, aku pergi dulu. Kamu hati-hati di rumah.”

__ADS_1


Setelah mencium kening Fatimah, barulah Rayyan dan Rio pergi dari sana.


__ADS_2