
Selama proses pemakaman Fatimah, dia beberapa kali jatuh pingsan walaupun hanya sebentar-sebentar. Rayyan bahkan harus terus berada di sampingnya untuk terus memberikan semangat untuk Fatimah. Tidak ada yang sesedih sampai sehisteris Fatimah, semuanya emang bersedih tapi masih dalam tahap wajar, tidak seperti Fatimah yang seperti kehilangan dunianya.
Tapi wajar jika Fatimah sampai seperti itu, karena bagaimanapun Bibi Aisyah lah orang pertama yang mengulurkan tangan untuk menolong Fatimah bahkan saat Fatimah di nyatakan meninggal dulu, Bibi Aisyah juga yang paling sedih, bahkan dia sampai pingsan dan terkena serangan jantung ringan.
Setelah proses pemakaman selesai, Fatimah bahkan enggan untuk pulang. Akhirnya hanya ada Rayyan dan Rio yang setia menemaninya, hanya saja Rio menemani dengan jarak yang cukup jauh karena tak ingin menganggu mereka. Rio tetap bertahan di sana, karena ia harus menjaga Tuan dan Nonanya.
Setelah waktu sholat ashar mau habis, barulah Fatimah langsung berdiri dan pergi dari sana, karena bagaimanapun ia tak mungkin melewati sholat yang wajib ia lakukan.
Rayyan dan Rio pun mengikutinya namun tak ada yang bicara sepatah katapun. Sesampai di mension pun, tak ada yang berani menyapa Fatimah. Fatimah langsung masuk kamar untuk membersihkan diri. Lalu ia segera memakai baju terbaiknya, dan mengambil mukenah terbaru yang belum pernah ia pakai. Setelah selesai, ia mengambil sajadah dan mulai sholat ashar. Sedangkan Rayyan, ia juga langsung membersihkan diri dan sholat ashar.
Setelah Rayyan selesai sholat, ia melihat Fatimah yang terus bersujud dengan isakan tangisnya. Rayyan hanya diam dan duduk di atas sajadah. Ia membiarkan Fatimah meluapkan isi hatinya dengan Tuhannya.
Tak tega, tapi hanya itu satu satunya cara untuk Fatimah melepas rasa sesaknya.
Rayyan juga mendoakan Bibi Aisyah, dan kedua orang tuanya serta kakek neneknya. Karena Rayyan yang belum ingat tentang masa lalunya dan hanya tau jika mereka sudah meninggal, jadi dengan tulus ikhlas, Rayyan pun mendoakan mereka.
__ADS_1
Andai Rayyan ingat bagaimana masa lalunya dulu, mungkin ia enggan hanya untuk menyebut nama mereka.
Sampai adzan maghrib Fatimah terus saja bersujud, "Apa dia gak sakit sujud seperti itu terus menerus?" gumamnya, namun ia gk berani mendekatinya.
Setelah adzan selesai, baru Fatimah duduk dan berdoa, karena memang doa di antara adzan dan Iqamah adalah hal yang memang sangat di anjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Selesai berdoa, barulah Fatimah meminta Rayyan memimpin sholatnya. Rayyan hanya mengiyakan saja.
Mereka pun sholat jamaah, selesai sholat, Fatimah dan Rayyan mengaji untuk Bibi Aisyah. DI luar sebenarnya juga di adakan pengajian kecil-kecilan, tapi tetap aja, Fatimah lebih nyaman ngaji dan berdoa bareng suaminya di kamar.
Selesai sholat, Fatimah melepaskan mukenanya dan menaruhnya di tempatnya. Rayyan juga melakukan hal yang sama, ia melipat sajadahnya dan menaruhnya di tempatnya, agar terlihat rapi..
Fatimah duduk di pinggir ranjang, sedangkan Rayyan ia juga duduk di samping Fatimah. Melihat Fatimah menangis lagi, Rayyan membawa Fatimah ke dalam dekapannya. "Jangan nangis lagi ya, kamu gak mau kan bikin aku sedih karena lihat kamu terus menangis dari pagi," tutur Rayyan. Mendengar hal itu, Fatimah langsung menghapus air matanya, tapi sayangnya, air matanya seakan tidak mau di ajak kerjasama, karena walaupun berkali kali di hapus, tetap aja keluar dengan sendirinya.
Rayyan pun tak memaksanya lagi dan hanya terus memeluk Fatimah dengan erat.
__ADS_1
Jam delapan, Pak Han mengetuk pintu. Rayyan melepaskan Fatimah dari pelukannya, dan berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan pelan. "Ada apa?" tanyanya dengan wajah datar.
"Saya mengantarkan makanan dan minuman untuk Tuan dan Non Fatimah," jawabnya.
Rayyan memperhatikan nampan yang di bawa oleh Pak Han, lalu ia mengambil nampan itu darinya. Setelah itu, ia menutup pintu itu kembali dan membawa nampan itu ke meja samping ranjang. Pak Han tak mempermasalahkan sikap Rayyan, karena apapun perlakuannya, Pak Han akan selalu memakluminya.
Rayyan mengajak Fatimah makan, namun Fatimah menolaknya terus menerus. Alhasil, Rayyan sedikit meninggikan suaranya dan itu sukses membuat Fatimah takut. Ia jadi keingat kembali dengan sikap Rayyan yang dulu. Sekarang tak ada lagi yang bisa melindunginya karena Bibi Aisyah sudah gak ada.
Alhasil, Fatimah pun menurutinya untuk makan bareng bersama suaminya. Walaupun susah untuk di telan, tapi ia tetap memaksanya agar nasi itu masuk ke dalam perutnya.
Ia juga menahan air matanya agar tidak membuat Rayyan semakin marah.
Sedangkan Rayyan, ia hanya bisa menghela nafas, melihat Fatimah kembali takut dan gugup dengannya. Melihat Fatimah seperti itu, membuat nafsu makan Rayyan hilang seketika, ia tak lagi memperdulikan perutnya yang sudah keroncongan. Tanpa menghabiskan makanannya, Rayyan meletakkan piring dengan kasar dan pergi dari kamarnya.
Sedangkan Fatimah melihat suaminya pergi membuat Fatimah merasa takut, cemas dan menyesal karena tak langsung menuruti keinginan suaminya bahkan menolaknya beberapa kali untuk segera makan.
__ADS_1