
Dua Minggu kemudian, Rayyan dan Rio kembali. Rayyan langsung masuk kamar tanpa menyapa Fatimah lebih dulu.
Fatimah yang sudah tak tahan lagi, langsung menahan tangan Rayyan dan bersimpuh di kaki suaminya.
Fatimah bahkan tak segan-segan mencium kaki Rayyan, membuat Rayyan terkejut.
"Maafin aku, tolong jangan seperti ini," ucap Fatimah terisak.
"Aku menyesal, tolong hukum aku, tapi jangan diamkan aku seperti ini. Aku lebih baik sakit fisik, dari pada batinku yang tersiksa," ujar Fatimah yang trus memohon ampunan.
Rayyan hanya diam, namun lama-kelamaan ia luluh mendengar tangisan Fatimah.
Rayyan memegang pundak Fatimah dan menyuruhnya untuk berdiri.
Setelah itu, Rayyan memeluk Fatimah dengan erat. Mereka menangis bersama.
__ADS_1
"Maafin aku, maaf sudah mendiamkanmu. Aku merasa kamu tak lagi menghargai aku karena kamu tak mempedulikan perasaan aku. Aku merasa egoku terluka karena kamu tak patuh pada suamimu sendiri. Aku tau kamu sedih, tapi aku gak suka lihat kamu menangis histeris bahkan sampai pingsan berkali-kali. Aku benci lihat kamu, seakan terpaksa melakukan perintahku. Aku kecewa, aku sedih, aku marah. Aku tau kamu sedih karena kehilangan, tapi kamu tidak harus melupakan kesehatanmu. Melihatmu nangis, melihatmu terluka, melihat kamu sampai histeris, melihat kamu sampai pingsan Berkali-kali, jujur itu juga membuat hatiku sakit. Aku juga kehilangan Bibi Aisyah, tapi bukan berarti kita sampai melupakan kesehatan kita dengan mengabaikan waktu makan dan yang lainnya. Aku juga butuh kamu, jika aku sakit, siapa yang akan merawat aku. Siapa yang akan menemani aku jika kamu sibuk dengan duniamu sendiri?" tanya Rayyan membuat Fatimah semakin merasa bersalah.
"Sungguh, sayang. Aku takut kamu terlena dengan kesedihan kamu, sampai kamu lupa bahwa ada aku yang juga butuh kamu," lanjutnya membuat Fatimah melepaskan pelukannya dan menatap mata suaminya.
"Maaf." hanya itu kata yang bisa di ucapkan oleh Fatimah.
"Hmm, aku maafkan. Tapi jangan di ulangi lagi, okey."
"Iya. Jadi kita baikan sekarang?" tanya Fatimah.
Setelah agak lama pelukan, Rayyan pamit untuk membersihkan dirinya. Dan Fatimah pun dengan sigap langsung mengambilkan baju untuk Rayyan.
Fatimah juga membuka koper yang tadi d bawa oleh Rayyan. Dan saat membukanya, tentu ada banyak gamis, hijab, sepatu wanita, dan coklat dengan tulisan "Untuk Istriku."
Membaca itu, tentu Fatimah merasa senang. Ia tak menyangka, di saat Rayyan masih marah pun, ia tak lupa membelikan sesuatu untuknya.
__ADS_1
Fatimah langsung mengeluarkan semua oleh-oleh itu, dan di koper kedua, berisi Belian yang sangat mewah. "Astaghfirullah, apa ini untukku juga?" tanya Fatimah.
"Ya, itu untukmu," balas Rayyan yang hanya memakai handuk.
"Mas, Mas Ray udah mandi?" tanyanya.
"Belum, ada yang kelupaan."
"Apa?" tanya Fatimah bingung, karena semua keperluan mandi, tentu sudah ada semuanya.
"Kamu." balas Rayyan dan setelah itu, ia langsung menggendong Fatimah ala bridal style. Fatimah pun memekik kegirangan, ia langsung mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Walaupun dirinya sudah mandi, ia tak keberatan untuk mandi sekali lagi bersama suaminya.
Apalagi Fatimah memang sangat merindukan Rayyan dan ingin mengumpulkan banyak kenangan manis untuk Rayyan sebelum Rayyan ingat akan masa lalunya. Ia tak ingin menyia-nyiakan waktunya yang mungkin tak akan lama lagi.
Kemaren ia terlalu bodoh, karena karena tak kuat menahan kesedihan, Fatimah sampai mengabaikan suaminya sendiri.
__ADS_1