
Jam tiga sore, Rayyan dan Rio pergi untuk membahas masalah kerjasama dan kemungkinan besar selesai jam lima sore, atau paling telat jam tujuh malam. Fatimah pun tak mempermasalahkannya, karena ia tau, suaminya sibuk bekerja, bukan sibuk merayu wanita di luaran sana. Jadi, ia tenang-tenang saja walau Rayyan pergi tanpa dirinya
Saat Rayyan pergi, Fatimah langsung sholat ashar dan mengaji hingga adzan Maghrib tiba. Setelah adzan, ia sholat Maghrib dan lanjut berdzikir sampai adzan isya tiba.
Selesai sholat isya, Fatimah segera melipat mukenahnya, dan memakai baju agak terbuka untuk menyambut kedatangan suaminya yang pasti lelah bekerja.
Fatimah juga mengurai rambutnya dan memakai makeup tipis-tipis hingga tampak natural namun tetap terlihat elegant.
Tak lupa parfum pun ia semprotan di beberapa bagian tubuhnya, termasuk baju yang ia pakai.
Fatimah juga memakai hembody agar kulit tangan dan kakinya tetap lembab dan halus.
Jam tujuh lewat sepuluh menit, Rayyan datang sambil membawa makanan.
"Assalamualaikum," ucap Rayyan sambil menaruh makanan di meja.
"Waalaikumsalam," balas Fatimah sambil berjalan mendekati suaminya dan mencium punggung tangan suaminya.
__ADS_1
Fatimah mengambil tas kerja Rayyan dan menaruhnya di kursi. Lanjut, Fatimah membantu Rayyan membuat jas, kaos kaki, dan sepatu pantofel.
"Kok malem banget Mas, pulangnya?" tanya Fatimah dengan nada lembut.
"Iya tadi sedikit ada masalah, jadi agak molor. Maaf ya, kamu pasti lama nunggu aku."
"Enggak papa kok, yang penting Mas Rayyan datang dengan selamat."
"Oh ya, tadi Mas Ray pulang sama Rio juga."
"Iya, kan berangkatnya sama dia, pulangnya juga sama dia."
"Enggak, aku sengaja tadi pulang sebelum makan malam. Sebenarnya clientnya udah minta buat makan malam sebelum pulang, cuman aku menolak, karena ingin makan bersama kamu. Rio juga sama, dia gak ikut makan sama mereka dan memilih untuk membungkus makanannya untuk dibawa pulang.
"Maaf ya, Mas. Gara-gara mikirin aku, kamu jadi gak makan sama mereka."
"Ini bukan salah kamu, Sayang. Aku cuma lebih nyaman makan berdua sama kamu ketimbang sama mereka," ujarnya membuat Fatimah tersenyum.
__ADS_1
"Mau mandi dulu apa gimana?"
"Kayaknya malam ini, aku cukup sikap gigi sama cuci muka aja. Lagian tadi sebelum berangkat sudah mandi juga."
"Iya sudah, Mas cuci muka dulu, aku akan menyiapkan bajunya Mas Ray. Setelah itu, kita makan bareng."
"Oke."
Setelah membuka semua kain yang melekat di tubuhnya, Rayyan pun mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Sedangkan Fatimah, ia menaruh baju di tempat khusus, untuk di laundry besok pagi.
Setelah itu, Fatimah menyiapkan baju dan sarung untuk Rayyan. Lanjut, Fatimah mulai mengambil makanan yang di bawa oleh Rayyan dan menatapnya di meja makan. Untung di kamar ini ada dapur mini, meja makan, kulkas dua pintu dan peralatan buat makan serta peralatan buat masak pun ada.
Cuma karena Rayyan tak memintanya untuk masak, jadi Fatimah tak menyentuh dapur sama sekali.
Selagi nunggu Rayyan selesai, makanan juga sudah di tata rapi, Fatimah mengambil Hpnya dan membalas pesan dari Dokter Ratih dan Mbak Nana, serta Sofi juga.
Mereka emang seringkali kirim kabar sehingga hampir tiap hari, hp Fatimah sering banyak notif karena banyak chat masuk dari mereka yang emang rusuh banget, terutama Dokter Ratih yang sesekali suka menggodanya.
__ADS_1
Apalagi saat ini, setelah Dokter Ratih tau, dirinya ikut Rayyan ke Singapura sekalian mau bulan madu kedua, Dokter Ratih, tak henti-hentinya menggoda dirinya, membuat Fatimah jadi malu sendiri.