Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Ketegangan Rio Menghadapi Rayyan


__ADS_3

Hari ini, Alfian balik ke negara X, kembalinya Alfian ke negara X untuk mengelabui Rayyan, jika suatu saat Rayyan mencari tau tentangnya. Sungguh, ini sedikit agak rumit, tapi mau bagaimana lagi, Rayyan orang yang cukup berpengaruh,  dia tidak bisa di remehkan. Harus punya rencana yang sangat matang untuk bisa menyelamatkan Fatimah dan membawa Fatimah dari kehidupan Rayyan.


Kalau bukan karena rasa kasihan dan rasa kemanusiaan, serta karena permohonan Rio dan Ratih, mungkin Alfian tak akan melakukan hal yaang menurutnya terlalu ribet, dia juga masih banyak urusan yang harus di selesaikan. Tapi demi mereka, Alfian rela melakukan hal yang membuang-buang waktu berharganya.


Setelah kepergian Alfian, Rio langsung berangkat kerja, namun sebelum itu, ia harus menjemput Rayyan dulu di mension.


"Kok lama?" tanya Rayyan dengan aura dinginnya.


"Maaf, Tuan," hanya itu kata-kata yang bisa di ucapkan oleh Rio.


"Kamu tau Alfian ada di Indo?"


"Ya, kemaren dia menghubungi saya."


"Dia pulang hari ini, seseorang mengabari aku tentang keberangkatannya. Sayang ya, padahal kita bertiga belum bertemu secara bersamaan. Tapi karena dia yang jauh lebih sibuk dariku, aku hanya bisa memakluminya."


Rio hanya diam mendengarkan. Mendengar seseorang sudah memberi kabar pada Rayyan, Rio sedikit khawatir tentang pertemuannya dan Alfian saat di apartemen. Walaupun apartemen itu di jaga ketat, tapi bisa jadi orang suruhan Rayyan sudah menyelinap dan mencari informasi tentang dirinya dan Alfian, apalagi jika sampai mendengar pembicaraan mereka berdua.

__ADS_1


Rio jadi harap-harap cemas, dia berharap apa yang di lakukannya dengan Alfian tak ada yang mengetahuinya. Sungguh, jika apa yang di rencanakan sudah di ketahui oleh Rayyan tidak menutup kemungkinan, Rayyan juga sudah menyiapkan sesuatu agar Fatimah tetap bertahan di sampingnya. Bahkan bisa jadi, Rayyan diam-diam juga berusaha untuk membalas perbuatan Rio dan Alfian karena sudah berani mengkhianatinya.


"Kamu kenapa? Kok diam terus dari tadi?" tanya Rayyan melihat Rio dengan curiga. Karena tidak biasanya, Rio pagi-pagi sudah melamun seperti ini.


"Gak papa, Tuan," jawabnya berusaha untuk tak memperlihatkan wajah gusarnya.


"Hemm, jika ada masalah, bilang sama aku. Jangan di pendem sendiri."


"Iya, Tuan."


Rio pun menjelaskan jadwal Rayyan untuk hari ini, sambil berjalan dan membukakan pintu mobil. Rayyan masuk dan duduk di kursi belakang, setelah itu, Rio pun segera menutup pintu mobilnya dan berjalan mengelilingi mobilnya dan membuka pintu mobil depan.


Rio duduk di belakang kemudi dan tak lupa memasang sabuk pengaman. Setelah itu, Rio pun mulai menjalankan mobilnya dengan pelan.


"Rio," panggil Rayyan.


"Iya, Tuan."

__ADS_1


"Kamu kenapa akhir-akhir ini berubah?"


"Berubah bagaimana, Tuan?"


"Kamu seperti sedang menjaga jarak dariku. Aku juga merasa, kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku."


Mendengar hal itu, jelas Rio merasa tegang, akankah ini kode dari Rayyan, jika sebenarnya Rayyan tau apa yang kini tengah ia sembunyikan darinya. Akankah Rayyan tau, rencana dia untuk membebaskan Fatimah darinya. Atau apakah Rayyan sudah tau, jika dirinyalah dalang utama yang membuat dia hilang ingatan. Atau apakah Rayyan merasakan jika dirinya sudah tak lagi berpihak padanya, melainkan berpihak pada Fatimah yang merupakan korban di sini.


Jujur, Rio keringat dingin, ia bahkan bingung mau jawab apa.


"Kamu kenapa. kok malah gugup gitu?" tanya Rayyan yang semakin menaruh curiga pada sahabatnya itu.


"Kamu gak berkhianat padaku, kan?" desak Rayyan membuat Rio menghela nafas lalu berkata, bukan sebagai bawahan dan atasan, tapi sebagai sahabat.


"Apa kamu pernah lihat aku berkhianat selama ini, Ray. Aku sudah menuruti semua keinginanmu, tanpa aku membantah sama sekali, bahkan jikapun kamu melakukan kesalahan yang cukup fatal pun, aku juga memilih diam, dengan berpura pura buta dan tuli. Aku selalu mentolerir semua kesalahan kamu, apa itu belum cukup, aku bahkan rela menutupi semua kesalahan dan kejahatan kamu selama ini, aku memilih diam karena aku tak ingin berkhianat. Aku sadar, kamulah yang sudah memberikan aku pekerjaan seperti ini, yang membantuku bangkit dari keterpurukan, membantuku bisa mempunyai segala-galanya hingga tak ada lagi yang berani merendahkan aku. Kamu sudah berjasa dalam hidupku dan untuk membalas semua jasamu itu, aku rela melakukan apapun, bahkan jika itu bertentangan dengan hati nurani aku, apa itu belum cukup?" tanya Rio dengan wajah datar dan menahan amarah. Mengingat bagaimana masa lalunya, dia yang tidak tegaan, mendadak ikutan kejam demi membantu sahabatnya.


Mendengar hal itu, Rayyan cukup merasa bersalah hingga ia memilih diam karena tak ingin memancing amarah Rio. Karena bagaimanapun jika Rio sudah marah, dirinya juga yang akan repot nantinya.

__ADS_1


__ADS_2