
Setelah selesai sholat Maghrib, Fatimah dan Rayyan langsung siap-siap untuk pergi ke pesta. Mereka menggunakan baju couple Sehun terlihat semakin romantis dan menawan.
Kali ini, Rayyan memilih untuk menyetir sendiri sambil menghabiskan waktu berdua dengan Fatimah.
Fatimah juga tidak keberatan, siapapun yang nyetir mobil, yang penting baginya adalah bisa bersama sang suami kemanapun suaminya pergi.
Sejak Fatimah dan Rayyan hidup bahagia dan harmonis, Fatimah jarang ngobrol dengan Bibi Aisyah dan yang lainnya. Kesibukannya membuat dirinya benar-benar tidak ada waktu walaupun hanya sekedar cerita-cerita.
Mereka juga tidak mempermasalahkan sikap Fatimah, karena bagaimanapun mereka tau betul, saat ini Fatimah tengah berjuang untuk bisa mendapatkan hati dan cinta suaminya sebelum Rayyan mengingat siapa dirinya dan bagaimana masa lalunya.
Mereka malah selalu berdoa agar apa yang Fatimah lakukan saat ini, bisa membuahkan hasil.
"Sayang?" panggil Rayyan yang kini tengah fokus mengemudi mobil dengan harga yang fantastis.
"Iya, Mas?" jawab Fatimah sambil menoleh ke arah Rayyan.
Rayyan menggenggam tangan Fatimah menggunakan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya memegang kemudi.
"Kamu mau mengadakan pesta?" tanyanya.
"Pesta apa?"
"Pesta pernikahan kita."
"Enggak usahlah, Mas. Dari pada uangnya buat hal-hal yang gak perlu, mending disumbangkan aja. Lebih bermanfaat."
"Tapi apa kamu gak iri misal lihat yang lain mengadakan pesta mewah buat pernikahan mereka atau pesta ulang tahun dan lainnya?"
"Aku gak iri kalau cuma masalah dunia. Aku hanya iri melihat mereka yang berlomba-lomba dalam urusan akhirnya."
__ADS_1
"MasyaAllah. Mas bersyukur punya istri seperti kamu, yang tidak silau akan dunia."
"Dan aku juga bersyukur karena aku punya suami seperti Mas Rayyan. Dan berharap kita bisa bahagia dunia akhirat."
"Aamiin."
Mereka terus mengobrol satu sama lain, hingga akhirnya mereka sampai di tempat acara.
Rayyan memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah disediakan. Lalu setelahnya Rayyan dan Fatimah turun dari mobil dengan bergandengan tangan. Tentu kedatangan mereka langsung di tatap oleh banyak orang, namun Rayyan tidak memperdulikannya.
Jujur, kadang di dalam hati, Rayyan merasa kebingungan. Ia lupa akan masa lalunya, seperti orang tua, keluarga dan beberapa hal lainnya. Tapi ia sedikit-sedikit mulai ingat akan pekerjaannya, tanggung jawabnya dan beberapa rekan bisnisnya serta hal-hal yang menurutnya tidak terlalu penting.
Pernah beberapa kali dirinya nanya pada Rio, namun Rio hanya menjawab, tidak perlu mengingat sesuatu yang tidak seharusnya dirinya ingat.
Dan jikapun dipaksakan buat ingat, yang ada dirinya malah berakhir kesakitan. Yah, rasanya kepalanya seperti di pukul oleh palu dengan sangat keras.
Sekarang Rayyan hanya ingin mengikuti semuanya seperti air mengalir, ia yakin cepat atau lambat, dirinya akan tau tentang masa lalu yang terlupakan itu.
Saat melewati petugas keamanan di pintu masuk, Rayyan dan Fatimah diperiksa. Kalau Rayyan yang dulu, mungkin tidak akan ada yang berani memeriksa Rayyan mengingat melihat wajah Rayyan, mereka sudah ketakutan.
Akan tetapi tidak untuk sekarang, melihat wajah Rayyan yang tampak biasa aja walaupun punya aura yang menakutkan, tetapi setidaknya tidak terlihat mematikan sehingga mereka masih bisa melakukan prosedur atas perintah atasan mereka.
Memang semua tamu yang masuk, wajib untuk diperiksa, takutnya mereka kecolongan seperti ada penyusup yang masuk untuk menghancurkan pesta itu, lebih menakutkan lagi misal ada yang ingin melukai mereka yang ada di dalam.
Bagaimanapun menjadi seorang pengusaha tidaklah mudah, akan ada beberapa orang yang tidak menyukainya sehingga ingin menjatuhkannya dan melukainya.
Setelah memasuki pintu masuk, ada beberapa pasang mata yang melihat ke arah Rayyan dan Fatimah. Namun sekali lagi, Rayyan tidak memperdulikannya. Rayyan terus menggenggam tangan Fatimah dan pergi menuju rekan kerjanya untuk memberitahu selamat.
Rio sudah menjelaskan semuanya, walaupun Rayyan cukup ingat dengan beberapa rekan bisnisnya, tapi Rio tetap menjelaskan siapa saja yang menjadi rekan bisnisnya dan siapa yang menjadi musuhnya. Karena Rio takut, jika Rayyan akan dilukai oleh orang-orang yang tidak menyukainya.
__ADS_1
Jadi, Rayyan harus hati-hati apalagi Rayyan tidak membawa pengawal, atau membawa Rio di sampingnya. Terlebih saat ini, Rayyan membawa Fatimah yang juga harus ia lindungi selain dirinya sendiri.
"Sayang, kamu mau makan atau mau minum dulu?" tanya Rayyan, mengingat tadi sebelum berangkat, mereka belum makan apa-apa. Bahkan terakhir makan saat tadi siang.
"Mau nyoba kue itu, Mas. Boleh?" tanyanya sambil menunjuk kue yang dari tadi memanjakan mata.
"Boleh dong. Bentar Mas ambilkan," ujarnya.
"Iya."
Setelah itu, Rayyan pergi untuk mengambil piring kecil dan mengisinya dengan kue yang disukai oleh Fatimah. Tapi saat ia hendak kembali, Rayyan melihat seseorang tidak sengaja menabrak Fatimah, sehingga minuman yang di pegang oleh wanita itu, mengotori baju Fatimah.
"Apa yang kamu lakukan!" bentak Rayyan, tak terima melihat gamis istrinya kotor.
"Ma .. maaf, saya tidak sengaja," ucapnya dengan ketakutan.
"Kamu punya mata itu di pakek, jangan asal jalan," omel Rayyan yang masih kesal. Bahkan beberapa orang di dekat mereka sampai menoleh ke arah Rayyan membuat Fatimah yang ada di tengah mereka merasa malu.
"Sudah, Mas. Aku gak papa," tuturnya sambil memegang tangan Rayyan agar Rayyan tak melanjutkan kemarahannya.
"Tapi, sayang ... " Rayyan melihat ke arah Fatimah, Fatimah hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Sudah ya, jangan marah lagi, malu dilihatin orang," ujarnya lembut.
Rayyan hanya menghela nafas kasar, "Oke, aku maafin kamu. Kalau bukan karena istriku, habis kamu di tangan aku," ujarnya dan membawa Fatimah pergi dari sana. Rayyan bahkan menaruh piring yang berisi kue yang ia ambil barusan, ia sudah tak selera membawa kue itu untuk Fatimah. Fatimah juga tidak mempermasalahkannya, ia bisa membeli kue itu di luar, yang penting saat ini, ia harus bisa menekan emosi suaminya yang seperti mau meledak.
Orang-orang di sana hanya menatap kepergian Rayyan dengan tatapan ngeri. Mereka tak menyangka, jika hal sepele bisa membuat Rayyan semarah itu. Sedangkan wanita yang tadi menumpahkan air di baju Fatimah juga segera pergi dari sana, ia malu dengan tatapan orang yang melihat ke arahnya. Sungguh, dirinya benar-benar tidak sengaja. Ia gak ada maksud untuk mencari masalah dengan orang lain, apalagi dengan wanita yang merupakan istri dari Tuan Ray.
Ya, dia mengenali siapa Rayyan, untuk itulah, ia merasa gugup dan ketakutan. Andai bukan Rayyan, mungkin ia masih bisa meminta maaf dengan benar dan menggantikan baju yang sama seperti yang Fatimah lakukan, atau setidaknya ia akan bertanggung jawab dengan membersihkan baju Fatimah agar tidak kotor lagi dan cepat kering. Sayangnya, di hadapan Rayyan, ia langsung gemeteran bahkan kata-kata yang ingin ia ucapkan pun seakan tercekat di tenggorokan, sehingga dirinya hanya bisa mengucapkan beberapa kata yang berhasil keluar dari mulutnya.
__ADS_1