Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Sikap Yang Menghangat


__ADS_3

Empat jam kemudian, Rayyan bangun dan melihat Fatimah ada di sampingnya. Bibi Aisyah lagi pergi ke musholla untuk sholat. Sebenarnya Fatimah yang menyuruh Bibi Aisyah untuk sholat di Musholla karena Fatimah ingin waktu berdua dengan Rayyan.


Entah kenapa melihat Rayyan yang sekarang, Fatimah tidak lagi merasa takut, karena tak ada tatapan tajam lagi dan tak ada wajah angkuh lagi. Rayyan terlihat polos seperti bayi, mungkin karena dia lupa ingatan, sehingga sikapnya saat ini adalah sikap dia yang asli. Berbeda sama yang sebelum Rayyan mendapat musibah seperti ini.


Saat Rayyan bangun, ia melihat Fatimah yang menatap dirinya dengan penuh ketakutan. Rayyan mencabut infusnya yang ada di tangan, membuat Fatimah kaget. Namun Rayyan tidak memperdulikannya. Ia bersujud di kaki Fatimah dan meminta maaf berulang-ulang.


"Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi aku minta maaf atas perlakuan aku sama kamu. Aku menyesal," ucap Rayyan memohon ampunan. Melihat hal itu, hati Fatimah terenyuh.


"Saya sudah memaafkan Tuan Ray, sekarang bangunlah. Tidak pantas seorang suami sujud di kaki istrinya," ujar Fatimah sambil berusaha membantu Rayyan berdiri. Namun Rayyan hanya melihat ke wajah Aisyah.


"Jangan panggil aku, Tuan. Aku bukan majikan kamu. Panggil aku suami, atau apapun. Bukankah aku suamimu?" tanyanya dan Fatimah menganggukkan kepalanya.


"Dan jangan bicara formal, kita ini suami istri, bukan?"

__ADS_1


Lagi-lagi Fatimah menganggukkan kepalanya.


"Ngomong biasa aja, seperti kamu ngomong sama Bibi. Aku ingin memperbaiki hubungan kita dari awal. Kamu mau, kan?" tanyanya dan lagi-lagi, Fatimah menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, sudah memberikan aku kesempatan. Aku janji, aku gak akan bikin kamu terluka lagi, perut kamu masih sakit?" tanyanya dan kali ini, Fatimah menggelengkan kepalanya.


"Maaf ya, maaf sudah bikin kamu masuk sakit berkali-kali. Maaf, gara-gara aku, kamu hampir kehilangan nyawa kamu," paparnya membuat Fatimah tersenyum.


"Aku seneng Mas berubah, aku harap ini adalah awal yang baik untuk hubungan kita berdua," balas Fatimah dan Rayyan pun menganggukkan kepalanya. Ia lalu memeluk Fatimah dan mencium kening Fatimah berulang-ulang. Kali ini, Fatimah pun merasakan ketulusan, berbeda seperti biasanya.


"Kamu siapa?" tanya Rayyan bingung.


"Saya sahabat sekaligus Asisten pribadi Anda, Tuan. Saya yang membantu Anda mengurus perusahaan selama ini," jawabnya dengan sedikit menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Dalam hati, Asisten Rio bersyukur karena obat itu sudah berjalan. Melihat Rayyan bersikap lembut seperti ini, membuat hatinya menghangat. Apalagi ia melihat Rayyan yang memeluk Fatimah, mereka sudah seperti suami istri yang normal. Tidak ada lagi siksaan dan hinaan yang di terima oleh Fatimah dari Rayyan.


"Oh jadi kamu asisten aku?" tanyanya.


"Iya, Tuan."


"Mulai hari ini aku perintahkan kamu yang mengurus semua masalah perusahaan. Aku akan mengajak istriku liburan," ujarnya. Mendengar hal itu, Asisten Rio pun tak mempermasalahkannya. Yang penting, Rayyan tak lagi menjadi jahat dan membuat nyawa Fatimah terancam.


Walaupun mungkin nanti ia akan sibuk berkali-kali lipat dari biasanya, ia rela asal FAtimah mendapatkan kasih sayang dari Rayyan, suaminya.


"Baik, Tuan."


"Sekarang kamu boleh pergi!" usir Rayyan. Asisten Rio pun segera undur dari sana, namun sebelum pergi, ia memberikan senyuman hangat kepada Fatimah. Fatimah pun menganggukkan kepala, sekarang ia mengerti, jika di balik hilang ingatan suaminya, ada campur tangan asisten suaminya.

__ADS_1


Entah Fatimah harus bersyukur apa enggak, tapi jujur, ia sangat berterima kasih karena pada akhirnya suaminya mau bersikap lembut padanya, walaupun ia tidak yakin, waktu seperti ini akan berjalan sampai kapan. Namun Fatimah akan berusaha semaksimal mungkin, untuk membuat Rayyan jatuh cinta padanya.


__ADS_2