
Jam lima sore, Rayyan memilih untuk pulang ke apartemen miliknya. Dia tak ingin pulang ke mension.
Rayyan tak ingin menyakiti Fatimah yang kini tengah berbadan dua.
Jika Rayyan bertemu Fatimah tidak menutup kemungkinan, jika Rayyan akan menyakiti Fatimah lagi, atau bisa jadi Rayyan khilaf sampai melukai Fatimah dengan sangat fatal.
Jadi Rayyan memilih untuk tidak bertemu lebih dulu, sampai dia bisa mengendalikan emosinya dan tak lagi menyakiti sang istri.
Rayyan juga akan mencoba untuk konseling ke psikolog agar dirinya bisa berdamai dengan masa lalunya, sehingga ia tak lagi merasa dendam dan sakit hati terus-menerus.
Rayyan juga ingin hidup normal seperti manusia lainnya. Ia tak ingin selamanya hidup dihantui masa lalu yang buruk, karena itu bisa jadi menghancurkan masa depannya.
Sejujurnya Rayyan ada rasa rindu terhadap Fatimah, tapi apalah daya, dirinya masih belum bisa mengendalikan emosinya dan jika dipaksakan, takutnya akan berakhir dirinya memukul Fatimah lagi.
Jadi untuk hari ini dan seterusnya, mungkin Rayyan memilih untuk tinggal di apartemen miliknya yang lebih dekat dengan kantor. Sedangkan Rio dia merasa sedikit lega, saat dirinya tahu, jika Ryan memilih untuk pisah rumah setidaknya dengan begitu Fatimah tidak lagi merasa tersiksa.
Tapi Rio tidak akan leha-leha, Rio masih akan tetap memikirkan cara agar bisa membawa Fatimah keluar dari Mension itu.
Pak Han yang mendapatkan kabar dari Rio jika Rayyan tidak akan pulang ke mansion untuk beberapa hari ke depan pun merasa lega, karena artinya Fatimah akan bebas dari cengkraman Rayan.
Fatimah yang tidak tahu jika suaminya tidak pulang, masih terus menggigil ketakutan. Fatimah terus memohon sama Tuhan agar bisa menjauhkan dari Rayan untuk sementara waktu.
Sungguh, setiap jam pulang kerja Fatimah akan terus merasa ketakutan. Ia baru bisa bernafas lega saat tahu Rayyan tidak ada di mension ini.
Pak Han pun memberitahu semua ART disana, Sofi orang pertama yang merasa bahagia.Dia bahkan langsung lari ke kamar Fatimah untuk memberitahu kabar bahagia.
"Fatimah, Fatimah, aku ada kabar bahagia buat kamu," ucapnya sambil membuka pintu kamar Fatimah.
Saat cuma berdua, Sofi emang memilih untuk memanggil nama saja, sesuai permintaan Fatimah agar mereka lebih akrab.
"Ada apa?" tanya Fatimah dengan wajah lemahnya.
__ADS_1
"Tuan Ray hari ini nggak pulang. Dia memilih untuk tinggal di apartemennya."
"Alhamdulillah." Fatimah sujud syukur, akhirnya ia bisa bernafas lega, setidaknya ia malam ini bisa tidur dengan tenang tanpa merasa ketakutan lagi.
"Kamu tau dari siapa?" tanya Fatimah yang langsung melihat ke arah Sofi.
"Pak Han, dia yang bilang seperti itu barusan."
"Oh, kapan Mas Ray balik ke sini?"
"Enggak tau, kata Pak Han, belum diketahui kapan pulang ke mension. Tapi yang jelas, Tuan Ray kemungkinan agak lama tinggal di apart."
"Syukurlah. Masalah itu gimana?" tanyanya dengan suara kecil sekali.
"Aku gak tau, Pak Han masih bingung kayaknya. Tuan Rio juga belum ada konfirmasi apa-apa lagi." balasnya dengan menunduk sedih.
"Iya sudah gak papa. Aku akan bersabar lagi. Rio pasti kini sedang berfikir keras, bagaimanapun yang ia hadapi adalah orang yang lebih berkuasa darinya."
Setelah kepergian Sofi, Fatimah merasa sedikit lega, dan ia juga berpikir bagaimana ia kabur dari rumah ini tanpa bantuan mereka kalau bisa.
Karena bagaimanapun Fatimah tidak ingin mereka harus menanggung resiko atas apa yang ia lakukan.
Fatimah yang sedikit banyak paham tentang mension ini, mulai membuat denah di kertas yang ia pegang.
Fatimah juga melingkari beberapa CCTV yang telah ia ketahui. Fatimah juga berusaha mencari jalan mana yang sekiranya aman dan tidak diketahui oleh siapapun.
Fatimah juga harus memastikan ia bebas dari para penjaga bayangan yang mungkin tengah mengintainya.
Fatimah terus memohon sama Tuhan sambil memikirkan cara agar ia bisa keluar tanpa melibatkan siapapun.
Setelah ia corat-coret kertas hampir 2 jam lamanya ia sedikit mendapatkan pencerahan apa yang harus dilakukan.
__ADS_1
Fatimah ingat tentang rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Rayyan dan dirinya.
Ya dulu saat Rayyan masih hilang ingatan, Rayyan mengungkapkan sebuah rahasia. dan mungkin rahasia itulah yang akan mengantarkan dirinya menuju kebebasan.
Fatimah tersenyum bahagia, dia sudah mendapatkan jalan keluarnya, tinggal memikirkan kapan waktu yang tepat untuk dirinya kabur dari mension ini.
Mendengar suara adzan maghrib, Fatimah segera menyembunyikan kertas yang sudah ia coret-coret sedari tadi. Ia menyimpannya serapi mungkin agar Jangan sampai ada yang mengetahuinya.
Fatimah segera membersihkan dirinya lalu ia mengambil wudhu dan melaksanakan salat Maghrib. Fatimah juga menyempatkan diri untuk mengaji dan berwiridan sebentar.
Saat adzan isya terdengar, Fatimah segera sholat, mumpung ia masih punya wudhu.
Selesai sholat, Fatimah melipat mukenanya lagi.
Fatimah memegang foto dirinya dan Rayyan. Dia tersenyum bahagia mengingat kebersamaan dirinya dan Rayyan saat itu.
"Aku pernah bilang, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Bahkan aku rela jika kamu siksa aku sampai mati. Aku ikhlas, jika harus mati ditangan mu. Tapi karena kini ada bayi yang harus aku lindungi, maka aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk terus menjaga dan melindunginya. Kamu tau kan, tidak mudah buat kita untuk mendapatkan penerus kita. Jadi untuk itu, aku akan bertahan semaksimal, aku tak ingin kelak kamu menyesalinya karena sudah membunuh anak yang bahkan belum lahir. Jika suatu saat, keputusan aku menyakitimu. Ingatlah satu hal, aku melakukannya demi dirimu dan anak kita. Aku yakin, kelak kamu akan menyadari cinta dan kasih sayang aku. Dan aku percaya, kelak kamu akan berubah menjadi manusia yang berhati malaikat. Aku tidak akan pernah berhenti untuk terus mendoakan kamu, suamiku."
"Aku tidak akan mengambil posisinya Mbak Felisha di hati kamu, karena aku tak ingin menggeser posisi siapapun. Aku akan menciptakan sendiri tempat yang berbeda, sehingga kamu tetap bisa mencintainya dan mencintaiku."
"Suamiku, aku menyayangimu, aku mencintaimu. Aku sedih karena pada akhirnya kamu kembali seperti dulu, menyiksaku tanpa belas kasih. Entah kesalahan apa yang aku perbuat hingga kamu begitu membenciku. Aku juga tak ingin ada di posisi seperti ini, posisi dimana aku dijual oleh Ayah tiriku. Lalu aku di jadikan budak s e k olehmu. Suamiku, kita sama-sama punya masa lalu yang kelam, aku di tinggal oleh ayahku. Lalu hidup aku dan Ibuku berubah drastis, karena tulang punggung yang seharusnya mencari nafkah untuk kami, tiba-tiba di ambil Tuhan. Lalu saat Ibuku menikah lagi, disanalah aku mulai menderita. Namun aku bertahan sebisaku, sampai akhirnya Ibu sakit dan aku harus menjadi tulang punggung untuk Ibu dan Ayah tiriku. Suamiku, aku juga sama menderitanya, tapi mungkin penderitaanku tidak sebesar yang kamu rasakan. Namun tetap aja, aku juga menderita, bukan? Aku bahkan sulit untuk sekedar tersenyum. Hanya saat sama dirimulah, aku mulai tertawa lagi. Singkat, tapi jujur itu sangat berarti buat aku."
"Suamiku, aku menyayangimu, aku mencintaimu. Entah dengan cara apa agar aku bisa membuatmu mencintaiku. Suamiku, bisakah kita seperti keluarga yang lain? Saling menyayangi satu sama lain, saling mencintai satu sama lain, saling menjaga dan saling melindungi satu sama lain. Aku ingin punya keluarga yang sempurna, tidak saling menyakiti seperti ini. Bisakah? bentar lagi kita akan menjadi orang tua, haruskah hubungan kita akan seperti ini selamanya? Bagaimana tanggapan anak kita jika punya orang tua yang saling menyakiti, ah lebih tepatnya mempunyai seorang ayah yang memperlakukan ibunya dengan kasar. Apakah kamu gak kasihan melihat mental anak kita yang harus rusak dari usia dini?"
"Suamiku, tidakkah kamu lihat kenangan kita saat bersama, tidakkah kamu ingat akan janji-janji yang kamu ucapkan. Tidakkah kamu lihat perjuanganku untuk mencari celah agar kami bisa mencintaiku? Dulu aku berfikir, dengan banyak kenangan yang terkumpul, jika kamu ingat kembali dan melihat kenangan itu, Hatimu akan tersentuh. Tapi ternyata enggak, apakah perjuangan aku selama ini hanya sia-sia?"
"Suamiku, aku sakit. Badanku remuk rasanya saat kamu pukul dan tendang aku. Bahkan sampai detik ini, sakit itu masih aku rasakan. Apakah aku seperti samsak, yang bisa kamu pukul seenaknya. Sebegitu bencikah kamu sama aku? Tapi apa kesalahan aku, sifat dan sikap yang mana yang sudah membuat kamu begitu jijik sama aku, hingga kamu memperlakukan aku begitu kejam. Jika emang aku ada salah, tolong kasih tau, biar aku perbaiki. Bukan malah memukul aku dengan tenaga yang kamu punya. Aku wanita lemah suamiku, aku sama seperti wanita kebanyakan, aku sakit jika terus kamu sakiti. Haruskah aku meregang nyawa di depanmu, agar kamu menyesali perbuatan yang kamu lakukan?" tanyanya
Fatimah menangis, ia tau jika saat ini Rayyan tengah memperhatikan dirinya dan mungkin juga mendengar suaranya. Untuk itulah, Fatimah berbicara panjang lebar. Berharap jika Rayyan saat ini mengetahui isi hatinya.
Dari mana Fatimah tau, dari lampu cctv yang menyala, tidak terang memang, tapi cukup membuat Fatimah tau, jika saat ini dirinya tengah di pantau oleh suaminya.
__ADS_1