
Fatimah melahirkan kedua buah hatinya dengan selamat, ya ternyata Fatimah hamil kembar. Rayyan merasa terharu sekali saat melihat putranya yang lahir lebih dulu, lalu lima menit kemudian, di susul oleh putrinya yang sangat cantik, perpaduan dirinya dan Fatimah.
Sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena setelahnya Fatimah kejang-kejang dan tak sadarkan diri.
Rayyan bahkan sampai berteriak kesetanan, Dokter langsung meminta Rayyan keluar dari sana karena aka menganggu para dokter yang sedang mencoba menyelamatkan nyawa Fatimah.
Rayyan menangis tersedu-sedu, Rio dan Dokter Ratih yang tidak tau apa-apa dibuat bingung, tapi setelah Rio mencari tau, barulah mereka menangis bersama.
Mereka tidak menyangka jika Fatimah akan drop setelah berhasil melahirkan putra-putrinya.
"Tuhan, tolong selamatkan istriku. Biarkan aku menebus semua kesalahan aku,"gumam Rayyan dalam hati.
Setelah empat jam, akhirnya dokter keluar dan mengatakan jika Fatimah koma.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Rayyan langsung jatuh lemas, di saat dia baru aja bertemu dengan Fatimah, tapi Fatimah malah dalam keadaan seperti ini. Kenapa susah sekali untuk dirinya merasa kebahagiaan, "Tak pantaskah aku bahagia, Ya Tuhan?" tanya Rayyan dengan deraian air mata.
Setelah tangis Rayyan mereda, dokter menemui Rayyan dan memberikan kedua buah hatinya, karena ada dua, akhirnya Dokter Ratih yang menggendong yang perempuan.
Karena Rayyan yang masih kaku, tidak mungkin menggendong dua duanya.
Rayyan merasa bersyukur karena akhirnya dia bisa bertemu dengan putra-putrinya, sungguh ia tak menyangka jika Fatimah akan melahirkan anak kembar yang lucu-lucu seperti ini.
"Mau di kasih nama siapa?" tanya Rio yang sedari tadi memperhatikan dua bayi yang tertidur pulas.
Rio memfoto Azzam dan Azzura lalu mengirim kepada Alfian, Nana dan semua karyawan yang bekerja di mension Rayyan. Rio juga meminta doa mereka agar Fatimah lekas bangun dari komanya.
"Apakah kamu akan menhwa babbysitter?" tanya Rio pelan.
__ADS_1
Rayyan menggeleng, "Enggak, aku akan merawat Azzam dan Azzura dengan baik. Mungkin aku akan minta bantuan kalian diawal, tapi aku janji akan belajar lebih keras agar aku bisa menghandle semuanya. Walau mungkin agak repot, tapi aku yakin, aku pasti bisa merawat mereka dengan tanganku sendiri," ucapnya dengan tegas.
Rayyan tak ingin ada orang luar yang menyentuh kedua buah hatinya kecuali orang-orang terdekatnya.
"Baiklah, lalu bagaimana dengan perusahaan? Apakah Fatimah akan kita bawa ke Indonesia?" tanya Rio, dia sadar, ini bukan saat yang pas untuk mempertanyakan hal ini, tapi Rip tetap harus melakukannya agar ia tau langkah apa yang ia ambil setelahnya.
"Aku akan di sini menemani Fatimah dan merawat kedua anakku, untuk perusahaan aku titip ke kamu ya," pinta Rayyan ke Rio dengan tatapan memohon.
Melihat hal itu, Rio pun akhirnya hanya bisa mengangguk dengan pasrah
"Toh, kamu mau bantu aku kan, rawat kedua bayiku, setidaknya sampai aku bisa, paling tidak untuk dua Minggu ke depan. Aku mohon."
"Baiklah, aku akan bantu kamu." Mendengar hal itu, Rayyan pun bernafas lega.
__ADS_1
Setidaknya ia tak merasa kesulitan untuk beberapa hari ke depan. "Fatimah, aku akan merawat anak-anak kita dengan baik, semoga kamu segera sembuh dan bangun ya. Aku dan anak-anak membutuhkan kamu." gumam Rayyan dalam hati.