Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Kesakitan Rayyan


__ADS_3

Saat ini, Fatimah tengah menjalani operasi. Sedangkan Bibi Aisyah dan Mbak Nana menunggu di luar. Semua dokter yang lagi-lagi harus menangani Fatimah untuk ketiga kalinya dengan luka parah terus menerus, merasa geram. Terlebih hari ini, semua organ dalamnya pada terluka terutama area perutnya.


"Apa kita akan biarkan Tuan Ray  melakukan ini terus menerus?" tanya seorang dokter yang tengah marah.


"Terus kita harus melakukan apa? Lapor polisi? Percuma, paling cuma beberapa jam aja dia sudah keluar. Yang ada malah karir kita tamat. Belum lagi keluarga kita yang tak tau apa-apapun juga kena getahnya. Mau? Kita doa aja, semoga karma cepat datang padanya. Semakin banyak yang berdoa, semakin cepat datangnya sebuah karma. Aku juga ingin lihat dia menderita, bahkan nangis darah jika di perlukan. Jika dia sampai menderita, percayalah aku akan jadi orang pertama yang akan bahagia di atas deritanya," ucap Dokter Ratih, yang juga sangat marah sekali.


Yah ,semua dokter itu marah, marah karena melihat kondisi Fatimah yang kembali kritis karena ulah Rayyan.


Semua dokter yang ada di sana mengutuk Ray, bahkan semua ART yang ada di mension pun juga melakukan hal yang sama, termasuk Pak Han. Asisten Rio pun juga mulai mengutuk perbuatan Rayyan yang memang tidak manusiawi.


Bahkan Bibi Aisyah yang merawat Ray sejak kecil pun juga mengutuk Rayyan dan berharap jika Rayyan merasakan apa yang di rasakan oleh Fatimah. Semua orang seakan begitu kompak mendoakan keburukan buat Rayyan.


Di saat Fatimah lagi lagi berjuang antara hidup dan mati, berbeda dengan Rayyan dan Rio. Saat ini Rio tengah fokus bekerja sampai ia mendapatkan laporan, jika FAtimah kembali kritis. Melihat hal itu, tangan Rio mengepal. Ingin rasanya ia menendang pintu ruangan Rayyan dan mencekik pria itu hingga kesulitan bernafas. Ia ingin memukul Rayyan sampai babak belur, bahkan jika perlu sampai dia yang meminta sebuah kematian karena tak tahan menahan rasa sakit.


Tapi sayangnya, Rio tak bisa melakukannya, karena ia sadar diri akan posisinya. Yang bisa ia lakukan hanya mengirim pesan pada Pak Chris, sayangnya sampai detik ini, masih belum ada tanggapan. Rio juga mengirim pesan pada sahabatnya yang ada di luar negeri, untuk segera datang ke Indonesia dan membawa Fatimah pergi dari mension itu secara diam-diam.

__ADS_1


Yah, seseorang yang punya kekuasaan yang sama seperti Rayyan. Seseorang yang juga Bibi Aisyah dan Dokter Ratih harapkan kedatangannya. Karena hanya pria itu yang bisa melawan kekuasaan Rayyan.


Di saat semua orang lagi mencaci maki dan mendoakan keburukan Ray. Ray entah kenapa merasa kesakitan di daerah perut dan dadanya. Ia bahkan seperti sesak nafas. Ray menghirup udara beberapa kali dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"Ada apa dengan tubuhku? Kenapa dadaku dan perutku terasa sakit banget?" tanyanya. Ia bahkan sampai keringetan karena menahan rasa sakit itu. Padahal ruangan berAC. Tapi baju kemejanya sampai basah oleh keringat. Ray membuka jasnya dan membuka dua kancing kemeja di atasnya. Ia berjalan menuju balkon dan lagi-lagi menghirup udara segar.


Entah kenapa tiba-tiba perlakukan dia ke Fatimah dari pertama sampai tadi malam, seperti kaset yang terus berputar di otaknya. Terutama tadi malam, saat ia menyiksa Fatimah secara brutal.


"Aaaaa, stop. Aku bilang stop." Rayyan memukul kepalanya sendiri, menggelengkannya berulang-ulang, namun kejadian demi kejadian terus berputar hingga membuatnya kepalanya semakin sakit.


"Stoppppppppppp." Rayyan memukul kepalanya ke tembok yang ada di sebelah, ia terus memukul kepalanya sendiri, tapi dia masih melihat dengan jelas, bagaimana dirinya bak seorang kesetanan terus memukul dan memukul Fatimah. Bahkan wajah Fatimah yang sudah babak belur pun tetap ia hajar, layaknya samsak.


Ia juga melihat wajah Fatimah yang kesakitan, menangis dalam diam, dan juga sesekali meringis, menahan rasa sakit. Namun ia seperti tidak punya hati, ia terus menyiksa Fatimah bahkan saat Fatimah pingsan sekalipun. Ia juga menyiram Fatimah agar Fatimah kembali sadar, ia terus melakukan hubungan badan sambil menyiksa fatimah lagi dan lagi.


"OH Tuhan, aku mohon STOP." Dan tiba-tiba ia juga melihat dirinya yang tengah membunuh Mama, Papa dan Kakeknya sendiri. Bagaimana ia membunuh mereka secara brutal.

__ADS_1


Rayyan terus memukulkan kepalanya hingga terluka dan mengeluarkan darah, namun sayangnya bayangan itu masih ada.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaa," Rayyan teriak sekeras mungkin, ia memukul apa saja yang ada di sana untuk melampiaskan emosinya. Jiwanya seakan tidak baik-baik saja.


Rio yang mendengar teriakan Rayyan pun segera pergi ke ruangan Rayyan, ia melihat Rayyan yang tengah mengamuk, Rio memilih diam dan melihat itu semua. Biasanya ia akan langsung menghampiri dan menanyakan ada apa. Tapi tidak kali ini, ia terus melihat bagaimana Rayyan melukai dirinya sendiri.


Beberapa orang juga mendengarnya, namun mereka memilih mengabaikannya dan tidak mau ikut campur. Apalagi, Rayyan terkenal jahat dan dingin. Jadi mereka tidak ada yang berani untuk melihat apa yang terjadi. Mereka tetap bekerja dan menulikan telinga mereka, demi kebaikan mereka sendiri.


"Entah kenapa melihatmu menyiksa dirimu sendiri, aku tidak merasa kasihan sedikitpun. Karena kamu emang pantas mendapatkan semua luka itu," gumam Rio dengan pelan.


Rio terus lihat Rayyan yang menghancurkan semua barang yang ada di sekitarnya dengan kepala yang berlumuran darah, ia terus berteriak bak kesetanan. Entah apa yang terjadi, namun Rio tak akan mendekat dan membiarkan Rayyan melampiaskan emosinya itu.


Setelah hampir lima belas menit, Rio melihat Rayyan pingsan. Barulah setelah itu, ia mendekat. Ia melihat banyak luka di tangan dan kepalanya. Namun luka itu tidak akan sebanding dengan luka yang di dapatkan oleh Fatimah.


Namun ia juga tidak akan membiarkan Rayyan mati begitu saja, akhirnya Rio pun memutuskan untuk memanggil ambulans.

__ADS_1


Jika dulu, mungkin ia akan panik sekali, tapi tidak untuk saat ini. Ia benar-benar sangat tenang, bahkan ia memilih menunggu ambulans dari pada meminta karyawan lain untuk membantu dirinya menggotong Rayyan ke mobil. Kalau dulu, ia yang akan membawa Rayyan ke rumah sakit, menyetir sendiri, tentu ia akan nyetir dengan kecepatan tinggi hingga melanggar lalu lintas, hanya demi Rayyan.


Tapi sekarang, ia ingin melihat kesakitan Rayyan, ia ingin Rayyan tau bagaimana Fatimah juga harus menahan sakit setiap kali habis di siksa olehnya.


__ADS_2