
Dua hari setelah Fatimah menggerakkan tangannya, akhirnya ia bangun juga dari tidur panjangnya. Walaupun awalnya sedikit linglung, tapi sekarang Fatimah mulai mengingat semuanya, dan Fatimah gak menyangka jika dia akhirnya melihat Rayyan untuk pertama kalinya, suaminya yang lama ia tinggalkan dan juga ia rindukan diam-diam.
Terlebih Fatimah merasa bahagia dengan dua anak kembar yang telah ia lahiran hingga hampir kehilangan nyawa.
Dulu saat hamil, Fatimah gak pernah mencari tau jenis kelaminnya, setiap dia periksa, ia hanya ingin tau, apakah bayinya sehat dan baik-baik aja. Selebihnya, ia sengaja tidak bertanya karena ingin menjadi kejutan tersendiri.
Namun siapa sangka, jika kejutannya sungguh luar biasa, kini ia telah menjadi ibu dari dua anak yang sangat tampan dan cantik
Walaupun sedikit sedih karena dirinya telah melewatkan tujuh bulan kehidupan putra-putrinya, namun ia juga bersyukur karena Tuhan memberikan dirinya kesempatan untuk bisa berkumpul dengan suami dan kedua anaknya dan jika pun di masa depan, Tuhan masih mengizinkan dirinya hamil lagi, sungguh Fatimah tidak keberatan sama sekali.
__ADS_1
Fatimah juga memaafkan Rayyan dan menerima Rayyan sepenuhnya. Rayyan sangat bahagia sekali, ia sangat bersyukur Tuhan masih mengizinkan dirinya kumpul dengan istri dan kedua anaknya dan memberi kesempatan untuknya untuk bisa memperbaiki kesalahannya di masa lalu.
Walau Fatimah sudah bangun, namun kakinya masih lemas dan sulit digerakkan, alhasil Rayyan yang akan menggendong Fatimah ke kamar mandi, ke ruang tamu atau ruang tengah. Awalnya Fatimah gak mau karena tak ingin merepotkan suaminya, namun Rayyan tetap memaksa, lagian Fatimah sangat ringan sekali, mungkin setelah ini dia harus memberikan banyak makanan agar Fatimah bisa berisi lagi.
Fatimah juga mulai belajar jalan pelan-pelan karena ia tak ingin selamanya lumpuh, ia juga ingin menjaga dan merawat anaknya dan menjadi ibu serta istri yg bisa berbakti. Bukan malah hanya diam dan membiarkan suaminya kelelahan seorang diri.
Satu Minggu, Dua Minggu, Tiga Minggu. Setelah belajar dengan giat, akhirnya Fatimah pun kembali normal dan bisa jalan. Toh sebenarnya kakinya baik-baik aja, hanya karena lama gak di gerakkan makanya kakinya sedikit kaku. Tapi kini Fatimah sudah bisa jalan normal dan sudah bisa beraktivitas, mengajak kedua anaknya bermain dan bisa melayani suaminya serta jalan-jalan santai ke taman atau supermarket untuk belanja bulanan.
Rayyan juga sudah mengabari semuanya, Alfian, Nana, Rio, Ratih, dan semua pelayan yang ada di mension kalau kini Fatimah sudah sadar dan baik-baik aja.
__ADS_1
Fatimah juga vidio call dengan mereka semua , Fatimah bahagia melihat mereka yang begitu antusias dengan kesembuhannya.
Fatimah juga mendengar cerita Ratih dan Rio tentang pengorbanan dan perjuangan Rayyan selama ini.
Setelah Fatimah dan Rayyan kembali ke negaranya, Rio dan Ratih juga akan segera melangsungkan pernikahan mereka untuk menyusul Fatimah dan Nana yang sudah menikah lebih dulu. Dan setelah itu, Ratih ingin segera mempunyai anak agar bisa merasakan apa yang Fatimah dan Nana rasakan.
Fatimah, sekali lagi mengucap syukur. Setelah derita yang ia alami, bahkan hingga ingin menyudahi kehidupan di dunia ini, namun siapa sangka jika setelahnya Tuhan memberi kebahagiaan yang bertubi-tubi. Kebahagiaan yang mampu menyembuhkan segala luka.
Andai dulu Fatimah memilih menyelesaikan semua urusannya di dunia, mungkin akan beda cerita. Untungnya Fatimah mau bertahan hingga kini ia bisa memetik hasil dari kesabarannya, hasil dari ujian yang ia dapatkan selama ini. Hasil yang sangat memuaskan.
__ADS_1
Fatimah menatap suami dan kedua buah hatinya yang tertidur pulas, sungguh Fatimah sangat menyayangi mereka semua. Fatimah berharap jika ke depannya tak ada lagi ujian berat yang menimpanya. Jika pun berat, semoga dirinya bisa lebih kuat untuk menghadapi semua ujian itu.
"Tuhan, terimakasih atas nikmat yang Engkau berikan."