Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Kebohongan Nana


__ADS_3

Hari ini Mbak Nana tidak datang ke rumah sakit seperti biasanya, karena Mbak Nana sudah dari tadi pagi, sehabis sholat subuh pergi ke kampung Fatimah. Ia ingin menepati janji untuk mencari tau tentang keadaaan Ibunya Fatimah.


Fatimah yang berada di rumah sakit pun merasa lega, ia berharap jika Mbak Nana pulang membawa berita baik. Fatimah menunggu dengan cemas, ada harapan besar di dalam hatinya. Yah, dia berharap jika Ibunya masih hidup sampai sekarang dan masih baik-baik aja.


Dokter Ratih dan Bibi Aisyah yang tau jika Fatimah tengah cemas menunggu info dari Mbak Nana pun mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dengan mengobrol santai, mengobrol apa saja yang membuat Fatimah melupakan sejenak masalahnya.


"Dokter, gak kerja?" tanya Fatimah karena ia sering melihat Dokter Ratih sering datang ke kamarnya.


"Kerja tapi aku bagian shift malam dari jam enam sore sampai jam enam pagi."


"Oh gitu, dokter ada shift nya juga ya, kayak orang kerja di toko?" tanyanya dengan polos.


"Ya ada, tapi emang jadwalnya gak nentu. Makanya aku bisa menemani kamu seharian di sini, tapi nanti sore baru aku pergi ke ruangan aku buat mandi dan bersiap-siap untuk bekerja."


"Dokter gak pulang ke rumah?" tanyanya.


Dokter Ratih menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Enggak papa, lagian di rumah gak ada siapa-siapa."


"Kedua orang tua Dokter ada di mana?" tanyanya.


"Di Surabaya."


"Dokter merantau ke  sini?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Iya gitu deh. Makanya di rumah aku kesepian."


"Oh, Dokter sudah lama tinggal di Jakarta?"


"Iya cukup lama sih sejak lulus SMA. Kuliah empat tahun, lalu koas dua tahun, lalu kerja sambil ambil kuliah S2. Dan baru tahun kemaren aku lulus."


"Wah cukup lama ya juga ya?"


"Hmm ... dokter tinggal di mana sekarang?"


"Di perumahan gak jauh dari sini."


"Oh, enak ya. Dulu aku juga pengen jadi dokter, sayangya aku harus mengubur impian aku, karena aku tidak punya biaya." ucapnya tersenyum miris.


"Sabar ya, semoga kelak kamu menjadi orang besar, entah dengan cara apa. Semoga kelak Tuhan bisa mengabulkan keinginan kamu."


"Aamiin."


Di tempat yang beda, Tuan Ray selalu mendapatkan laporan dari penjaga yang ada di depan pintu ruang inap Fatimah, mereka selalu melaporkan tentang kondisi Fatimah yang semakin hari semakin membaik, mendengar hal itu, Tuan Ray pun biasa aja. Tak ada rasa senang, sedih atau hal yang lainnya. Bahkan rasa bersalah karena sudah menyakiti Fatimah pun juga tak ada. Perasaannya hambar seperti mati rasa.


Tiga hari kemudian, Mbak Nana kembali datang ke ruang inap Fatimah. Mbak Nana memberitahu jika Ibunya Fatimah baik-baik aja dan sekarang di rawat oleh keluarga Ibunya. Mendengar hal itu, Fatimah pun merasa senang. Ada harapan untuk segera sembuh dan bisa berkumpul lagi dengan sang Ibu.


Kini, Fatimah berubah menjadi ceria. Tak ada lagi wajah sendu, dan saat Fatimah menanyakan tentang Ayah tirinya, Mbak Nana bilang, Ayah tirinya sudah tidak lagi tinggal di situ. Fatimah pun beranggapan jika Ayah tirinya pasti kabur setelah menjual dirinya kepada Tuan Ray.


Namun Dokter Ratih yang melihat kebohongan di mata temannya itu.


"Oh ya Na, pekerjaan yang kemaren gimana?" tanya Dokter Ratih berbohong.

__ADS_1


"Pekerjaan yang mana?" tanya Mbak Nana yang memang tidak faham.


"Itu  loh yang kita bahas beberapa hari yang lalu. Lupa ya, gimana kalau kita bahas di ruangan aku aja," ucapnya sok serius.


"Oh okay. Fatimah, aku tinggal dulu ya, gak papa kan?" tanyanya ramah.


"Iya gak papa, Mbak. Makasih ya atas informasinya, aku punya hutang budi sama Mbak Nana."


"Santai aja," ujarnya  tersenyum ramah.


Lalu setelah itu, Dokter Ratih dan Mbak Nana pun segera keluar dari ruangan Fatimah dan pergi ke ruangan dokter Ratih.


Di sana Dokter Ratih duduk dengan kasar di kursi, sedangkan Nana ia duduk di kursi di depan meja yang berhadapan dengan Dokter Ratih yang saat ini menatap tajam ke arahnya.


"Aku tau kamu berbohong barusan, ada apa sebenarnya?" tanya Dokter Ratih.


Mendengar hal itu, Nana tau, jika ia tidak bisa berbohong di depan Ratih. Lalu, Nana pun menceritakan semuanya.


Sebenarnya Ayah tirinya Fatimah itu sudah meninggal. Saat ia mendapatkan uang dari hasil menjual Fatimah, saat dalam perjalanan pulang, seseorang dengan sengaja menabrak tubuh Ayah tirinya Fatimah hingga meninggal di tempat.


Mendengar hal itu, Dokter Ratih pun shock berat. Namun ia tetap diam mendengarkan cerita Nana selanjutnya.


"Nah untuk keadaaan Ibu Fatimah sendiri, dia hilang misterius. Saat Ayah tirinya Fatimah meninggal karena kecelakaan dan di bawa ke rumah sakit. Lalu di bawa ke rumah Ibunya Fatimah untuk di makamkan, di sana sudah tidak ada lagi Ibunya Fatimah. Rumahnya kosong plong. Seperti tidak ada penghuninya sama sekali. Warga di sana malah curiga jika Fatimah pergi bersama Ibunya dari rumah, karena memang tidak ada yang tau jika sebenarnya Fatimah itu sudah di jual oleh Ayah tirinya. Ayah tirinya Fatimah pun akhirnya di kuburkan di rumah keluarganya sendiri, yang rumahnya tak jauh dari sana. Sedangkan untuk Rumah yang pernah di tempati oleh Fatimah dan Ibunya, kini sudah di jual oleh adik dari Ayah kandungnya Fatimah. Jadi rumah itu sekarang sudah jadi milik orang lain."


"Astaga, jadi Ibunya Fatimah hilang misterius. Apa dia di culik? Karena kan kata Fatimah, Ibunya itu struk, gak bisa jalan atau berbicara, dia cuma bisa berbaring di atas kasur. Gak mungkin dia tiba-tiba menghilang begitu saja."


"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Tak ada yang tau keberadaan Ibunya Fatimah saat ini, entah masih hidup atau sudah tiada. Dan aku gak mungkin cerita yang sejujurnya kepada Fatimah, karena itu akan membuat mentalnya semakin terganggu. Kamu mau Fatimah gila karena ia sudah tak tahan lagi dengan tekanan batinnya?" tanya Nana dan Dokter Ratih pun menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Untuk saat ini, gak papa, kita bohong. Yang penting Fatimah sembuh dulu dari rasa sakitnya. Dia harus kuat mental dulu, baru setelah itu kita jujur apa yang terjadi sebenarnya. Saat ini yang penting adalah kesehatan Fatimah." tutur Nana dan Dokter Ratih pun mengangguk setuju.


Akhirnya setelah pembicaraan itu selesai, mereka kembali ke kamar Fatimah dan di sana, mereka melihat Fatimah sudah kembali ceria dan mengobrol dengan Bibi Aisyah. Yah, kabar gembira yang di bawa oleh Nana, membuat dampak positif untuk kesehatan Fatimah. Fatimah sudah mulai bisa tertawa dan bercerita panjang lebar. Dia tak lagi murung atau terlihat tertekan lagi. Mungkin karena ia ingin segera sembuh dan bisa bertemu kembali dengan Ibunya.


__ADS_2