Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Ajakan Tuan Ray Yang Membuat Fatimah Merinding


__ADS_3

Tuan Ray berjalan mendekati Fatimah yang semakin berwajah pucat, badannya pun kembali gemeteran. Tuan Ray bukan tidak menyadari perubahan Fatimah, namun ia memilih diam dan berdiri di samping brankar. Fatimah pun menunduk tak berani menatap wajah Ray.


Tuan Ray memegang kepala Fatimah, bukan untuk menjambak atau menarik rambut itu dengan keras, namun kali ini Tuan Ray bersikap lembut. Ia mengusap rambut Fatimah dengan pelan.


"Gimana keadaanmu?" tanyanya walau dengan suara datarnya.


"Ba ... baik," jawab Fatimah dengan penuh ketakutan.


"Hm, lain kali jangan melakukan itu lagi," ucapnya seakan memberi nasihat dan Fatimah hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Masih sakit?" tanyanya, kini ia berpindah memegang tangan kiri Fatimah yang sudah di jahit dan di perban.


Fatimah menggelengkan kepalanya..


"Jawab jika aku bicara!" ujarnya dingin.


"Enggak, sudah gak sakit," dustanya, padahal rasa sakit di tangan bahkan masih belum hilang sampai detik ini, masih ada rasa nyeri saat di gerakkan.


Tuan Ray, tau kalau Fatimah tengah berbohong, namun ia berpura-pura untuk mempercayainya.

__ADS_1


"Sudah makan?" tanyanya sok perhatian.


"Su ... sudah," jawabnya.


"Baiklah, aku gak mau basa-basa lagi. Aku cuma mau bilang, setelah kamu keluar dari rumah sakit ini, aku akan menikahi kamu," ungkapnya membuat Fatimah tanpa sadar melihat ke arah Tuan Ray, hanya sekian detik, mereka saling tatap, lalu Fatimah menundukkan kepalanya kembali.


"Kenapa? Kamu gak mau?" tanyanya dingin.


Fatimah masih diam, karena ia bingung mau jawab apa.


"Ingat! Kamu sudah aku beli, itu artinya kamu sudah jadi milikku sejak Ayah tiri kamu itu menerima uang dariku." imbuhnya.


"Jadi, bahkan tanpa menunggu persetujuan dari kamu pun, aku bahkan bebas melakukan apa saja, karena kamu sudah menjadi bu-dak ku," paparnya membuat hati Fatimah berdenyut sakit mendengarnya. "Budak, ya hanya seorang budak," gumam Fatimah dalam hati, ia hanya tersenyum miris dengan kehidupan pahit yang ia jalani.


Mendengar hal itu, Tuan Ray hanya menyeringai, ia puas dengan jawaban Fatimah.


"Bagus! Cepatlah sembuh dan setelah itu mari bersenang-senang." Dan tanpa menunggu jawaban FAtimah, Tuan Ray segera pergi dari sana, ia membuka pintu dan melihat Asisten Rio masih ada di sana, bahkan Bibi Aisyah, Dokter Ratih dan Mbak Nana juga ada di depan pintu.


Setelah Tuan Ray berjalan meninggalkan kamar rawat inap Fatimah, Asisten Rio pun juga segera pergi dari sana dan mengikuti langkah Tuan Ray yang ternyata menuju parkiran.

__ADS_1


Sedangkan Dokter Ratih, ia mendorong kursi roda Bibi Aisyah untuk masuk ke dalam. Begitupun dengan Mbak Nana, yang mengikuti mereka dari belakang.


"Fatimah kamu gak dia apa-apain, kan?" tanya Mbak Nana khawatir.


"Enggak," jawabnya tersenyum kecut ke arah mereka.


"Lalu apa yang di katakan oleh Ray?" tanya Dokter Ratih.


"Dia mengajak aku menikah," jawabnya yang membuat mereka bertiga kaget.


"Me ... menikah?" tanya Mbak Nana, tak menyangka jika kedatangan Ray ke sini untuk mengajak Fatimah menikah.


"Apalagi yang di rencanakan oleh Ray? Aku yakin dia pasti sedang menyusun rencana," tutur Dokter Ratih dengan tangan mengepal.


"Tapi bisa jadi, Tuan Ray itu menyadari kesalahannya dan ingin menebusnya dengan mengajak Fatimah menikah," ucap Mbak Nana. Namun, Bibi Aisyah dan Dokter Ratih tak akan mempercayai begitu saja. Mereka kenal siapa Ray, terutama Bibi Aisyah, tentu tidak akan mudah buat mereka mempercayai Tuan Ray begitu saja.


Sedangkan Fatimah hanya bisa diam, pikirannya berkecamuk. Sesungguhnya ia tak ingin menikah, apalagi dengan orang yang sudah membuatnya begitu hina. Tapi apa bisa dia berontak? Apa bisa ia melawan? Apa bisa ia lepas dari Tuan Ray? Apa bisa, Fatimah kabur dan tinggal di tempat yang tak ada satu orang pun yang tau kecuali sang Ibu. Apakah Fatimah bisa menemukan sang Ibu dan tinggal berdua dengannya di tempat yang jauh, yang tidak akan ada yang menyakiti mereka lagi? Nyatanya, Fatimah tidak bisa berbuat apa-apa, selain hanya bisa berkata, Iya.


Ibarat barang, Ayah tirinya sudah menjual dirinya kepada Tuan Ray, dan Tuan Ray pun berhak melakukan apa saja pada dirinya bahkan pada tubuhnya sekalipun.

__ADS_1


Namun, nyatanya Fatimah tidak bisa. Ia tidak bisa membiarkan Tuan Ray terus menerus menikmati tu-buhnya dan menganggap rendah dirinya layaknya seorang ja-lang. Walaupun nantinya ia dinikahi, namun Fatimah bahkan masih belum rela, jika ia menyandang gelar status istri dari pria yang begitu menyeramkan. Pria yang sudah tega mencabik-cabik tubuhnya dan menyiksanya di hari pertama mereka bertemu.


Fatimah gak rela dan gak ikhlas, ia ingin menentang takdirnya. Tapi apakah bisa? Sedangkan ia hanya wanita lemah yang tak punya kekuasaan apapun. Apakah Tuan Ray emang jodohnya? Tapi kenapa harus Tuan Ray, kenapa buka laki-laki lain yang bisa memberikan dirinya kebahagiaan, bukan laki-laki yang taunya hanya menyiksa dan menyiksa batin dan fisiknya.


__ADS_2