Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Jatuh Cinta Berkali-kali


__ADS_3

Keesokan harinya, Fatimah bangun sebelum subuh. Ia segera mandi dan sholat malam. Selesai sholat, ia melihat ke arah Rayyan sesekali sambil berdzikir. Entah kenapa melihat Rayyan tidur dengan sangat nyenyak, membuat hati Fatimah merasa tenang dan damai.


Setelah menyelesaikan dzikir nya, ia mengambil hpnya sendiri dan memotret wajah imut Rayyan.


Sungguh jika dulu Fatimah merasa tidak terima karena mendapatkan jodoh seperti Rayyan yang berhati iblis, tapi kini Fatimah merasa bersyukur sekaligus beruntung karena bisa hidup bersama suaminya dengan kebahagiaan yang bahkan ia sendiri sulit menggambarkan, bahkan untuk di ungkapkan dengan kata-kata pun rasanya begitu sulit.


Intinya Fatimah sangat bahagia dan ia mensyukuri takdir yang kini ia jalani.


Fatimah yakin, bahwa sifat asli Rayyan adalah yang sekarang, berhati lembut, penuh dengan cinta dan kasih sayang, dan seperti malaikat, karena Rayyan selalu memperlihatkan dirinya dengan sangat baik sekali.


Andai Rayyan tidak menjalani masa-masa yang sulit, tidak tertekan, tidak di lahirkan di keluarga yang hanya memikirkan kekuasaan, tidak merampas kebahagiaan masa kecilnya dan membuat istri pertamanya frustasi dan bunuh diri. Mungkin akan beda jalan ceritanya.


Tapi inilah takdir yang memang harus Rayyan jalani, tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan, dan gak ada yang bisa memutar waktu. Kita hanya bisa menjalani apa yang memang sudah menjadi takdirnya.


Seperti kehidupan Fatimah, dulu ia di lahirkan di keluarga yang penuh dengan kehangatan, mempunyai orang tua yang sangat baik, lembut dan penuh cinta. Tapi kebahagiaan itu terenggut sejak kematian ayah kandungnya.


Dan kebahagiaan itu berubah menjadi malah petaka setelah ibunya memilih menikah lagi, setelah kematian ayahnya.

__ADS_1


Sejak saat itulah, takdirnya berubah Fatimah harus hidup dalam tekanan dan tinggal satu atap dengan laki-laki yang kasar dan bermulut pedas. Suka main tangan dan hanya memikirkan dirinya sendiri.


Penderitaannya semakin bertambah setelah ibunya stroke. Namun walaupun begitu, Fatimah berusaha menerima dengan ikhlas walaupun hatinya tersayat-sayat.


Namun ia tidak ikhlas jika ayah tirinya menyiksa ibunya. Tapi kini semua itu sudah berlalu.


Tiba-tiba, Fatimah ingat dengan ibunya. Sesungguhnya ia sangat merindukan Ibunya. Namun ia gak tau, dimana ibunya berada. "Ibu, aku kangen. Aku harap Ibu baik-baik aja di luar sana. Tunggu aku, suatu saat aku sendiri yang akan turun tangan mencari Ibu dan menjemput Ibu," gumam Fatimah dalam hati.


Saat adzan subuh terdengar, Fatimah membangunkan Rayyan dengan lembut.


"Mas, bangun. Waktunya sholat subuh," ujarnya.


"Aku mau ambil wudhu dulu, kita sholat jamaah." Ujarnya sambil turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.


Selagi Rayyan ambil wudhu, Fatimah mengambil sarung dan baju Koko untuk Rayyan.


Tak lama, hanya sepuluh menit, Rayyan sudah keluar dari kamar mandi. Rayyan segera memakai sarung dan baju yang sudah di siapkan.

__ADS_1


Setelahnya, mereka pun sholat jamaah bareng


Selesai sholat, Rayyan dan Fatimah pun ganti baju lagi, karena mereka akan jalan-jalan lagi sambil mencari makanan yang mungkin mengunggah selera mereka.


Saat mereka keluar, Rayyan melihat Rio yang baru datang dari luar


"Kamu dari mana pagi-pagi gini?" tanya Rayyan.


"Saya lagi cari udara dingin," ujarnya. Karena terlalu malas di dalam kamar, jadi Rio memutuskan jalan-jalan sendiri.


"Jangan terlalu formal, kita bukan dalam posisi lagi kerja," tegur Rayyan tak suka.


"Maaf, kalian mau kemana?" tanya Rio


"Jalan-jalan, kamu mau ikut?"


"Enggak dulu deh, aku mau mandi setelah itu mau menyelesaikan pekerjaan aku. Nanti jangan lupa ada meeting lagi jam 8," ucapnya mengingat.

__ADS_1


"Oke, kalau gitu aku pergi dulu."


Rio menganggukkan kepalanya, Rayyan dan Fatimah pun pergi dari sana sambil pegangan tangan. Rio yang melihat kemesraan mereka, tentu senang sekali. Walaupun bukan dirinya yang merasakan secara langsung, tapi melihat kebahagiaan Rayyan dan Fatimah, Rio pun ikut bahagia.


__ADS_2