Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Malam Pertama F dan R


__ADS_3

Malam harinya, sehabis sholat Isya'. Fatimah langsung menggigil ketakutan, ia takut, takut jika Rayyan akan masuk ke kamarnya dan melakukannya lagi.


Sampai saat ini, trauma itu masih ada dan bahkan rasa sakit di area kemalu-annya pun masih terasa. Namun apakah Fatimah bisa menolaknya, sedangkan saat ini status Rayyan, adalah suaminya dan dia berhak meminta apa yang sudah menjadi haknya. Bisakah Fatimah mengatakan kata 'tidak' tapi ia takut dosa, ia takut malaikat akan murka dan mengutuknya.


Namun Fatimah juga tidak bisa melayaninya saat ini, bukan tidak mau, tapi Fatimah ingin menyiapkan diri sehingga bisa menerimanya dan melayaninya dengan ikhlas, bukan karena keterpaksaaan.


Tapi apakah, Rayyan mau menunggu? Di saat Fatimah masih belum menjadi istrinya aja, Rayyan bahkan memaksanya untuk melayani naf-su be-jatnya, apalagi saat ini, Fatimah sudah resmi jadi istrinya. Tidak menutup kemungkinan Rayyan akan melakukan hal yang bahkan jauh lebih menyakitkan dari pada yang kemaren.


"Oh Tuhan, tolong aku. Ingin rasanya aku hilang dari muka bumi ini. Kenapa harus aku ya Rabb, kenapa harus aku yang mengalami semua ini. Kenapa harus aku yang Engkau uji terus menerus. Kenapa harus aku yang mendapatkan siksaan seperti ini. Sesungguhnya aku sudah tidak sanggup lagi dengan semua derita yang aku alami," keluh Fatimah dengan air mata yang mulai mengalir.

__ADS_1


"Mau sampai kapan hidupku seperti ini, tak bisakah Engkau memberikan sedikit kebahagiaan untukku? Tak bisakah aku menjalani hidup dengan tenang, tanpa adanya sebuah ketakutan? Tak bisakah aku hidup dengan nyaman tanpa takut akan sebuah ancaman. Tak bisakah aku hidup normal seperti yang lainnya?" tanyanya sambil menengadah ke atas, seakan akan ada Tuhan yang kini tengah melihat ke arahnya.


"Aku lelah, Tuhan. Aku lelah, tak bisakah Engkau merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Ketakutan aku, kegelisahan aku dan yang lainnya? Bukankah Engkau tak pernah tidur. Engkau melihat apa yang terjadi pada hidupku saat ini. Tak bisakah Engkau menolong aku Ya Rabb. Biarkan aku pergi menjauh dan menjalani hari-hariku dengan tenang bersama Ibuku."


Fatimah terus berbicara sendiri, namun tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.


"Hallo, Sayang. Gimana? Apakah kamu sudah siap melayani aku malam ini?" tanyanya dengan senyuman yang begitu menakutkan.


"A .. aku .... " Fatimah bingung harus jawab apa. Jika ia bilang belum siap, akankah Rayyan mau menerima jawaban seperti itu, atau ia akan murka karena tidak mendapatkan jawaban seperti yang dia mau.

__ADS_1


"Aku tau, kamu pasti juga tidak sabar merasakan indahnya surga dunia kan?" tanyanya dengan senyuman yang mengerikan.


Mendengar hal itu, Fatimah semakin ketakutan. Ia bahkan tidak ingin merasakan hal itu lagi. Baginya itu bukan surga dunia, tapi sebaliknya.


"Baiklah, ayo kita lakukan malam ini dengan pelan-pelan, okay. Jangan bikin aku marah, atau kamu akan tau akibatnya," ucapnya dengan suara lembut, namun mengandung ancaman di balik kata-katanya itu.


Takut jika suaminya akan semakin murka, Fatimah pun menuruti kemauan suaminya itu. Dengan terus menyebut nama Allah, Fatimah mendekat dan Rayyan pun langsung menarik tangan Fatimah hingga Fatimah jatuh dalam pelukannya.


"Jangan takut, okay. Aku gak akan membu-nuh kamu selama kamu tidak membuat aku kesal. Layani aku, dan bikin aku puas. Kamu NGERTI kan?" tanyanya dan Fatimah menganggukkan kepalanya, walaupun ia masih bingung apa yang di inginkan oleh Rayyan dan bagaimana membuat suaminya itu puas.

__ADS_1


__ADS_2