
Rayyan dan Fatimah berangkat ke Singapura bersama dengan Asisten Rio juga. Mereka berangkat menggunakan pesawat pribadi.
Sesampai di bandara, mereka langsung di jemput oleh mobil mewah dan diantar langsung ke hotel yang sudah di pesan oleh Rio.
Sepanjang jalan, Fatimah hanya sesekali aja menikmati perjalanannya, ia lebih banyak tidur karena Fatimah merasa lelah akibat tadi malam, dirinya dan sang suami olah raga sampai mendekati adzan subuh.
Sedangkan Rayyan dan Rio sibuk membahas masalah kerjasama untuk tiga hari ke depan. Karena waktu Rio di Singapura hanya tiga hari saja, setelahnya ia harus kembali ke Jakarta untuk mengurus perusahaan Rayyan yang ada disana.
Sedangkan Rayyan, sendiri ia akan menghabiskan waktu bersama Fatimah sekalian menikmati waktu di negara orang. Mereka ingin bulan madu kedua, menciptakan banyak moments yang diabadikan di hp Rayyan.
Saat mereka tiba di hotel yang akan menjadi tempat tinggal mereka selama beberapa hari ke depan, Rayyan dan Fatimah langsung masuk ke kamar VVIP di lantai paling atas. Sedangkan Rio akan menempati di lantai yang sama, hanya beda kamar.
"Hueftt, leganya," ucap Fatimah sambil menaruh tas yang ia bawa, lalu membuka hijab dan gamisnya. Fatimah juga membuka sepatu dan kaos kakinya, sehingga kini Fatimah hanya memakai ****** ***** dan bh saja, membuat Rayyan yang melihat ke arah Fatimah kembali terang-sang.
"Kamu menggodaku ya?" tanya Rayyan yang kini bertelanjang dada, dan hanya menyisakan ****** ***** saja.
__ADS_1
"Enggak, aku cuma mau mandi," kilahnya.
"Kok buka baju di depan aku?" tanyanya sambil mencium leher jenjang Fatimah.
"Emang gak boleh ya?" tanya balik Fatimah, pura-pura polos.
"Boleh, boleh banget. Asalkan aku juga boleh nyicip-nyicip." Setelah itu, tanpa ba bi bu lagi, Rayyan langsung mengangkat Fatimah dan membawanya ke kamar mandi. Tentu mereka akan mandi berdua dan melakukan ritual yang membuah mereka ketagihan.
Fatimah hanya bisa pasrah aja, toh Rayyan melakukannya dengan lembut. Dan tidak kasar seperti dulu lagi. Jadi walaupun harus melayani berjam-jam lamanya, Fatimah tidak merasa kesakitan.
Menjadi bawahan, memang waktunya tidak bisa sesantai atasan. Karena banyak pekerjaan yang dibebankan padanya, apalagi menjadi orang kepercayaan, sungguh pekerjaannya akan berkali-kali lipat, namun semua itu setara dengan gaji yang ia dapatkan.
Setelah dua jam lebih, Rayyan dan Fatimah baru keluar dari kamar mandi. Mereka langsung segera mengeringkan rambut dan tubuhnya, dan memakai baju yang ternyata sudah ada di dalam lemari. Ternyata Rio pandai mengatur semuanya, bahkan sampai keperluan Fatimah seperti make up pun juga disediakan.
Entah bagaimana caranya, Fatimah tidak mau memikirkannya untuk saat ini. Namun ia sangat memuji kepiawaian atau kepandaian Rio dalam mengatasi semua pekerjaannya.
__ADS_1
Setelah memakai baju, Rayyan dan Fatimah sholat berjamaah, lanjut Rayyan memesan makanan. Sambil nunggu makanan, Rayyan dan Fatimah nonton tivi sambil mengobral santai.
"Mas, kamu gak pesenkan makanan untuk Rio?" tanyanya tanpa ada embel-embel Mas atau Kak, karena Fatimah gak mau suaminya cemburu lagi.
"Biar dia pesen sendiri," jawabnya sambil tidur di pangkuan Fatimah.
Mendengar hal itu, Fatimah hanya diam dan fokus ke layar tivi.
Setelah menunggu lima belas menit, makanan datang. Rayyan langsung berdiri dan mengambil makanan yang di antar oleh pelayan hotel.
Rayyan dan Fatimah makan saling suap-suapan, mereka cukup menikmati makanan yang disediakan oleh pihak hotel, hanya saja makanannya tidak seenak makanan yang ada di mension.
Namun mereka tetap menghabiskannya hingga tak tersisa. Termasuk minuman yang mereka pesan.
Selesai makan, mereka kembali nonton tivi sampai dua puluh menitan, sebelum akhirnya mereka naik ke atas ranjang dan tidur siang sebentar. Karena nanti sore, Rayyan dan Rio harus bertemu clientnya yang tempatnya tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap
__ADS_1