
Kedatangan Rio membuat Bibi Aisyah dan Mbak Nana terkejut. Mereka gak menyangka, jika asisten Rayyan akan datang ke ruangan Fatimah.
"Asisten Rio, kenapa ada di sini?" tanya Bibi Aisyah.
"Aku lagi menunggu Tuan Ray yang ada di ruang UGD, Bi," sahut Rio. Tapi tatapannya mengarah ke arah Fatimah yang masih berwajah bengkak.
"Tuan Ray sakit?" tanya Bibi Terkejut.
"Iya. Tadi dia ngamuk-ngamuk di kantor dan membenturkan kepalanya sendiri ke tembok," balasnya membuat Bibi Aisyah dan Mbak Nana terkejut. Tak menyangka, jika Rayyan akan menyakiti dirinya sendiri sampai seperti itu.
"Tapi kenapa?" tanya Bibi Aisyah, yang masih merasa heran. Padahal sudah lama, Rayyan tak menyakiti dirinya lagi. Kenapa sekarang, ia melakukannya lagi.
"Entahlah, Bi. Aku juga tidak tau. Mungkin dia tengah memikirkan sesuatu yang berat, atau dia mengingat sesuatu yang membuat dirinya tak bisa mengontrol dirinya sendiri," jawabnya membuat Bibi Aisyah diam.
__ADS_1
"Akankah Tuan Ray ingat tentang penyiksaannya kepada Fatimah tadi malam, sehingga ia menjadi seperti itu? Atau karena ada alasan yang lainnya," gumam Bibi Aisyah dalam hati.
"Lukanya parah?" tanya Bibi Aisyah. Sedangkan Mbak Nana hanya diam dan jadi pendengar setia.
"Enggak terlalu, cuma kepalanya aja yang luka, sama tangannya sedikit," ucapnya. Yah, menurutnya luka yang ada di tubuh Rayyan, tidaklah seberapa di banding luka yang ada di tubuh Fatimah.
"Oh syukurlah," ujar Bibi Aisyah lega.
"Keadaan Fatimah gimana?" tanya Asisten Rio.
"Tiga kali, Fatimah di bawa ke rumah sakit, sekarang yang paling parah. walaupun yang kedua sempat kritis dan koma. Tapi kata dokter, luka yang sekarang yang sangat parah, karena ususnya hancur. Hingga harus di operasi. Ada beberapa luka dalam juga yang ada di tubuh Fatimah," imbuh Bibi Aisyah memberitahu.
"Asisten Rio, apakah tidak bisa membantu Fatimah keluar dari mension itu? Bibi takut, jika Fatimah terus berada di sana, Fatimah bisa aja meninggal karena Tuan Ray terus menyiksanya tiada henti," ucap Bibi Aisyah.
__ADS_1
"Aku masih mengusahakannya, Bi. Doakan aja." Mendengar kata itu, Bibi Aisyah pun lega. Karena ternyata diam-diam, asisten Rio juga memihak pada Fatimah.
"Nak, banyak orang yang ingin menolong kamu. Semoga Tuhan memberikan jalan keluar, agar kamu bisa bebas dari mension terkutuk itu. Bibi gak akan pernah rela, jika sampai kamu mati muda di tangannya," gumam Bibi Aisyah dalam hati sambil melihat ke arah Fatimah.
Mbak Nana pun juga merasa senang, ia percaya Asisten Rio pasti bisa membantu Fatimah, entah dengan cara apa. Tapi yang jelas, cepat atau lambat. Fatimah akan mendapatkan kebebasannya lagi.
Setelah merasa cukup lihat kondisi Fatimah, Asisten Rio pun segera pergi dari sana.
"Semoga Asisten Rio bisa segera membawa Fatimah keluar dari sana ya, Bi," tutur Mbak Nana.
"Aamiin, semoga aja. Pasti Asisten Rio juga membutuhkan bantuan orang lain, ia gakĀ mungkin gegabah, hingga membahayakan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Ia harus memikirkan semuanya dengan matang-matang, agar Fatimah bisa keluar dan dirinya pun aman dari amukan Tuan Ray." ujar Bibi Aisyah.
"Iya. Tuan Ray, kalau sudah mengamuk sangat nakutin. Siapa orang yang mau berurusan dengannya, rasanya hampir tidak ada. Mereka semua memilih untuk mengalah dan menghindar. Mungkin karena kekuasaannya itu, hingga Tuan Ray selalu semena-mena, tak peduli jika harus melukai orang lain," balas Mbak Nana.
__ADS_1
Siapa sih yang gak kenal dengan Rayyan Abraham Alexander Danendra. Hartanya bahkan dimana-mana. Tujuh turunan pun tak akan habis, sangking banyaknya. Dengan uang dan kekuasaan yang ia miliki, ia bahkan bisa melenyapkan siapa saja, tanpa takut masuk penjara. Karena sekarang, pengadilan bisa ia beli dengan uang.