
Sejak pulang ke mension, Rayyan memperlakukan Fatimah dengan sangat baik sekali. Seperti menyiapkan baju Fatimah, menyuapi Fatimah makan, membantu Fatimah mandi, mengeringkan rambut Fatimah dan lain sebaginya.
Fatimah bahkan merasa seperti seorang ratu, karena apa yang di lakukan oleh Rayyan sangat berlebihan sekali.
Pernah Fatimah bilang, jangan lakukan itu lagi, tapi Rayyan malah bilang ingin menebus kesalahannya dan memperlakukan Fatimah dengan sangat baik.
Rayyan juga rajin sholat, ia selalu jadi imam untuk Fatimah.
Jujur, Fatimah bahagia. Satu bulan sudah mereka di mension, dan Fatimah benar-benar sangat bahagia sekali. Wajahnya selalu ceria dan tidak lagi berwajah kusut atau sedih.
Namun sampai detik ini, mereka belum melakukan hubungan badan karena Rayyan masih fokus memulihkan mental Fatimah agar tidak lagi merasa ketakutan dan nyaman berada di dekatnya.
Bibi Aisyah, Pak Han, Asisten Rio, dan semua ART yang bekerja di mension pun merasa senang dengan kebahagiaan majikan mereka.
Tak ada lagi tangisan kesedihan, semuanya benar-benar bahagia.
"Mas hari ini aku pengen masak, boleh ya?" tanyanya dengan manja.
"Tapi nanti kamu kecapean sayang," ucap Rayyan yang tak ingin sang istri merasa kelelahan.
"Enggak kok, kan cuma masak. Lagian aku suka masak, Mas nanti temenin aku deh. Gimana?" tanyanya.
__ADS_1
"Boleh. Emang kamu mau masak apa?" tanya Rayyan gemas melihat kecantikan Fatimah. Kini Fatimah mulai berisi lagi karena Rayyan selalu menyuruhnya makan dan memberikan susu terbaik buat Fatimah.
"Rahasia," sahut Fatimah dengan senyuman manisnya.
"Hmm mulai main rahasia-rahasiaan ya," ujar Rayyan sambil menggelitiki pinggang Fatimah.
"Haha ampun, ampun. Okay okay aku cuma ingin masak sederhana aja kok, tapi aku pastikan Mas Ray pasti suka," sahut Fatimah yang gak betah lagi menahan geli.
"Baiklah, ayo kalau mau masak sekarang. Apa harus belanja dulu?" tanyanya.
"Boleh, aku ingin belanja sendiri."
"Biar aku temani."
Dan akhirnya mereka pun bersiap-siap untuk pergi, Rayyan tak memakai sopir, ia ingin menyetir sendiri karena Rayyan tak mau ada yang menganggu kebersamaan mereka.
Fatimah dan Rayyan memakai baju couple, Fatimah menggunakan gamis warna maroon, hijab warna maroon yang sampai di bawah dada, kaos kaki warna coklat dan tas berwarna putih dan juga sepatu sandal warna putih.
Sedangkan Rayyan memakai celana pensil warna navy, kos warna putih dan jaket maroon. Sandal gunung hitam dan jam tangan hitam.
"Mau belanja dimana?" tanya Rayyan lembut.
__ADS_1
"Di pasar tradisional aja, mau?" tanya Fatimah.
"Boleh, aku dimana aja mau, asal sama kamu," gombalnya membuat Fatimah terkekeh. Dalam hati, Fatimah berharap jika Rayyan sudah mulai mencintainya. Ia tak ingin sikap baik Rayyan padanya hanya karena merasa kasihan atau karena merasa bersalah atas apa yang terjadi di masa lalu.
Ia ingin Rayyan melakukannya dengan tulus karena cinta, bukan karena kasihan.
Sepanjang jalan, Rayyan dan Fatimah mengobrol santai. Mereka seperti sepasang kekasih yang benar-benar tengah bahagia.
Saat sampai di pasar tradisional, Rayyan memarkirkan mobilnya. Tak lupa ia memasang masker agar tidak jadi pusat perhatian.
Rayyan memegang tangan Fatimah dengan erat, Rayyan tak ingin Fatimah menghilang dari jangkauannya, terlebih di pasar cukup ramai, pasti akan sedikit sulit mencarinya jika sampai berpencar.
Fatimah mulai membeli bumbu dapur, sayuran, ikan, daging, buah, tempe, tahu, jagung, tepung dll
Setelah merasa cukup, barulah Fatimah mengajak Rayyan makan mie ayam di pinggir jalan.
Walaupun mungkin ini pertama kalinya Rayyan makan di pinggir jalan, namun Rayyan mau melakukannya demi Fatimah.
Fatimah mencari warung yang bersih, dan tempatnya nyaman. Setelah menemukannya, barulah Fatimah memesan dua mie ayam dan dua air putih.
Fatimah melihat Rayyan yang cukup menikmatinya, Fatimah bersyukur. Sejak hilang ingatan, Rayyan tidak seperti dulu. Mau makan apa aja, entah itu murah, atau mahal pasti di lahap.
__ADS_1
Selesai makan, Rayyan langsung membayarnya dan setelah itu, mereka pun langsung pulang ke mension.