Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Tanda-Tanda Kehamilan


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, setiap pagi Fatimah merasa mual, rasanya ingin muntah, tapi hanya cairan putih yang keluar.


Tidak bisa makan apa-apa, kecuali mangga manalagi yang setengah matang, melon, semangka, salak pondok, nangka, pepaya yang setengah matang, kelengkeng dan pisang setengah matang.


Selain itu, Fatimah gak bisa, karena jika di paksakan pun, ujung-ujungnya pasti akan di muntahkan.


Rayyan mulai khawatir, karena sudah seminggu ini Fatimah seperti itu terus menerus, minumnya pun pengennya air hangat, tidak boleh dingin, tidak boleh panas, terus seperti itu.


Fatimah juga tidak bisa dekat-dekat dengan Rayyan, bahkan jika di dekati, bawaannya mual dan pusing. Akhirnya mereka terpaksa pisah tempat ranjang. Jika Rayyan tidur di sofa, kadang tidur di lantai, dengan beralaskan kasur lantai, berbeda dengan Fatimah yang tidur di ranjang.


Jujur, Fatimah juga tidak ingin seperti ini,tapi apalah daya jika tubuhnya yang tidak mau di ajak kompromi.


"Sayang, maafin aku ya," ucap Fatimah tak enak hati.


"Minta maaf kenapa?"


"Ya karena kita gak bisa berdekatan lagi."


"Enggak papa, kok. Asal kamu gak muntah-muntah lagi."


"Aku gak tau kenapa bisa seperti ini, aku seperti punya alergi dadakan."

__ADS_1


"Ya, aku pun heran. Kenapa baru sekarang kamu gak bisa dekat-dekat denganku. Padahal dari dulu, kita berpelukan siang malam pun juga tak masalah. Apa perlu kamu periksa? Mungkin ada yang salah di tubuh kamu," tuturnya dengan jarak dua meter.


Rayyan menatap Fatimah, dengan tatapan sendu. Beberapa hari ini, wajah Fatimah juga sedikit pucat, bawaannya lesu terus dan ingin rebahan terus. Padahal dulu, Fatimah anti rebahan, tapi sekarang siang malam, selalu ada di atas kasur sambil lihat ceramah.


"Kayaknya enggak, Mas. Aku gak merasa sakit, kecuali rasa malas dan gak bisa makan apapun selain beberapa buah yang memang aku inginkan. Aku juga mual tiap pagi, tapi itupun hanya antara bangun tidur sampai agak siangan, setelahnya aku biasa aja. Aku juga gak bisa dekatan sama kamu, mungkin faktor rasa bosan kali ya," ucapnya ngasal.


"What! Bosan? Serius?" tanya Rayyan kaget, tak menyangka jika Fatimah akan bicara seperti itu.


"Mungkin, Mas," ulangnya dengan menekan kata 'Mungkin'.


"Tapi tetap aja, kamu bosen sama aku. Kenapa? Apa aku kurang tampan?" tanyanya lagi.


"Mas Ray selalu tampan kok, gak pernah jelek. Mas selalu terlihat sempurna di mataku."


"Aku juga gak tau," jawab Fatimah dengan wajah sedih.


"Sudahlah, lebih baik kita tidur aja."


"Hmm tapi .... "


"Apalagi?"

__ADS_1


"Aku pengen rujak'an."


"Hah? Ini udah jam sebelas malam loh."


"Tapi aku pengen rujak'an Mas. Apa gak bisa kamu mengabulkan permintaan aku. Aku jarang-jarang loh minta apa-apa sama kamu," tuturnya dengan mimik yang terlihat seperti orang yang sangat menyedihkan.


"Hmm baiklah, aku akan bangunkan Bibi dulu."


"Aku pengennya kamu yang mengupas buahnya dan bikin bumbunya sendiri."


"Astaghfirullah, kamu kenapa sih sayangku?" tanya Rayyan yang merasa ini sudah kelewatan.


"Aku gak tau kenapa, rasanya memang aku pengen makan rujak buah, yang kamu buat sendiri. Tapi jika kamu keberatan, gak papa kok. Kita tidur aja, ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Karena tak tega, akhirnya Rayyan bangun dan pergi ke dapur, melihat suaminya pergi begitu saja, Fatimah merasa bersalah. Ia mengikuti suaminya ke dapur dan melihat suaminya yang tengah membuka kulkas dan mengambil beberapa buah, lalu mencucinya dengan air kran, terakhir ia mengupas kulitnya serta memotong buah itu jadi kecil-kecil.


"Aku gak tau bikin bumbunya gimana," ujar Rayyan sambil melihat ke arah Fatimah.


Fatimah pun memberitahu caranya dan Rayyan yang mengerjakannya.


Setelah lima belas menit, akhirnya bumbunya pun jadi.

__ADS_1


Fatimah tersenyum senang, ia lalu mencuci tangannya, dan mencampur adukkan bumbu dan buah yang sudah di potong. Setelahnya, ia makan dengan lahap.


Rayyan hanya melihat saja, entah kenapa melihat wajah Fatimah yang begitu lahap, ada kesenangan tersendiri, walaupun awalnya ia kesal dan keberatan, namun sekarang ia merasa senang karena bisa menuruti permintaan istrinya.


__ADS_2