Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Mental Bermasalah


__ADS_3

Kabar tentang Fatimah yang hidup kembali, lagi-lagi sampai di telinga Asisten Rio dan Tuan Ray. Dan kali ini, Asisten Rio pun merasa bahagia, ia tak lagi berwajah sendu. Ia turut senang karena pada akhirnya, Fatimah masih hidup setelah sebelumnya, di vonis mati oleh dokter.


Tuan Ray yang mendapatkan kabar itu, masih belum menunjukkan respon apapun, apakah dia benar-benar sudah mati rasa. Sehingga ia bahkan tidak peduli dengan hidup dan matinya seseorang. Haruskan Asisten Rio membawa Tuan Ray ke psikolog, siapa tau jiwanya terganggu, setelah beberapa tahun yang lalu, ia melihat istrinya mati bunuh diri akibat tidak tahan lagi menghadapi siksaan dari kedua orang tuanya. Lalu dengan teganya Tuan Ray menghabisi nyawa orang tuanya sendiri bahkan kakeknya serta mengubur mereka di belakang mension.


Apakah karena kejadian itu, Tuan Ray tak lagi mempunyai sifat belas kasih terhadap orang lain. Dan hanya tau menyiksa dan menganiaya orang lain.


Selama beberapa tahun Asisten Rio kerja dengan Tuan Ray, Asisten Rio hanya melihat wajah datar Tuan Ray saja, ia hanya terlihat sedih saat kematian Felisha, istrinya.


Selebihnya, hanya menampakkan wajah datar dan dingin. Atau tatapan tajam yang mampu membuat siapa pun merasa ketakutan dan bulu kudunya merinding. Hingga mereka pun enggan untuk dekat-dekat dengan Tuan Ray.


Pak Han dan pekerja di mension pun yang tadinya menangis berjamaah, kini sudah ceria lagi. Karena mendengar Fatimah gak jadi meninggal. Mereka langsung mengucap syukur, karena Fatimah masih hidup dan mereka akan bertemu kembali.


Di rumah sakit, kondisi Bibi Aisyah juga sudah berangsur-angsur pulih, mungkin karena suasana hatinya yang sudah membaik dan tengah bahagia. Bibi Aisyah memilih satu ruangan dengan Fatimah. Ia tak mau jauh-jauh dari Fatimah karena takut Fatimah kenapa-napa lagi.


Seharian itu, Dokter Ratih, Mbak Nana dan Bibi Aisyah mencoba untuk terus menghibur Fatimah agar Fatimah melupakan masalahnya. Namun sayangnya, Fatimah hanya tersenyum biasa, tak ada raut wajah ceria lagi.

__ADS_1


"Aku takut jika harus kembali ke mension, tak bisakah kalian membawa aku pergi?" tanyanya.


Dokter Ratih dan Mbak Nana kompak menggelengkan kepalanya. Bibi Aisyah yang tadinya ingin membawa Fatimah pergi, pada akhirnya nyalinya menciut setelah tau, jika diam-diam Tuan Ray menyuruh penjaga bayangan untuk memantau Fatimah dari jarak dekat maupun dari jarak jauh. Hanya saja, Bibi Aisyah tidak tau, keberadaan mereka.


Jadi, untuk itulah, Bibi Aisyah tidak bisa membawa Fatimah pergi, atau mereka akan di siksa oleh Tuan Ray. Kalau Bibi Aisyah, tak apa, ia sudah tua, bahkan jika di bunuh pun, Bibi Aisyah sudah siap.


Namun bagaimana dengan Fatimah? Bibi Aisyah gak akan tega, jika Fatimah harus mendapatkan siksaan kejam dari Tuan Ray.


"Aku takut jika aku harus pulang ke mension. Aku harus bagaimana? Aku gak mau melayaninya lagi," tutur Fatimah.


"Harus hati-hati kalau ngomong, kita tidak tau, bisa aja ada yang mendengarnya," bisik Dokter Ratih sambil melepas tangan dari mulut temannya itu.


"Habisnya aku kesel," ujar Mbak Nana cemberut.


"Sama, aku juga sebenarnya," balas Dokter Ratih.

__ADS_1


Bibi Aisyah hanya diam mendengarkan, ia pun bingung bagaimana agar ia bisa menolong Fatimah dari Ray. Ia juga tak mungkin membiarkan Fatimah terus menerus diperlakukan bak seorang ja-lang.


Sesama wanita, Bibi Aisyah pun ikut merasakan rasa sakitnya, walaupun bukan dia yang di perk*sa, namun Bibi Aisyah bisa merasakan rasa hancur, sakit, frustasi yang dirasakan oleh Fatimah.


Bibi Aisyah menggenggam tangan Fatimah, Fatimah yang melihat wajah sendu Bibi Aisyah pun, langsung mengelus tangan yang sudah keriput itu.


"Aku gak papa, Bi. Aku kuat." Pada akhirnya, Fatimah pun memilih tersenyum, karena ia tak ingin membuat Bibi Aisyah terus memikirkan dirinya dan membuat kesehatannya kembali memburuk karena dirinya.


"Maaf." hanya itu yang bisa Bibi Aisyah ucapkan.


"Jangan minta maaf, Bi. Bibi gak salah. Aku akan menerima apapun yang terjadi dalam hidup aku, jika memang ini jalan aku. Semoga Allah memberikan kemudahan dan keikhlasan buat aku." Fatimah pun memilih untuk tak lagi mengungkapkan isi hatinya. Ia tak mau, Bibi Aisyah sedih. Ia harus kuat seperti kata Ayah dalam mimpinya.


"Bersabarlah, kelak kamu akan bahagia."


Dan Fatimah akan mempercayai ucapan Ayahnya, walaupun itu hanya sekedar mimpi, namun Fatimah merasa itu seperti nyata. Dan ia yakin, kelak, entah itu kapan, kebahagiaan itu pasti akan menghampirinya.

__ADS_1


__ADS_2