
Fatimah membawa mengetuk pintu kerja Rayyan sebelum akhirnya dia masuk dengan sedikit mendorong pintu itu dengan lengan kanannya. Dengan susah payah, akhirnya dia bisa membuka pintu itu.
"Sayang," panggil Fatimah dengan kedua tangannya yang membawa minuman dan kue ringan untuk camilan suaminya.
"Lo kenapa bawa makanan dan minuman?" tanya Rayyan sambil membantu Fatimah menaruh minuman di atas meja.
"Takut kamu haus," balas Fatimah dan langsung duduk di kursi sofa setelah menaruh kue di samping teh hangat yang ia buat barusan.
"Katanya Mas nyuruh aku ke sini, ada apa?" tanya Fatimah.
"Aku cuma mau bilang, besok aku harus ke Singapura bareng Rio. Kamu mau ikut?" tanya Rayyan.
"Boleh, sekalian nanti kita bisa jalan-jalan disana misal pekerjaan Mas Ray sudah selesai."
"oke."
"Di Singapura berapa hari, Mas?" tanya Fatimah.
"Tiga hari, tapi kita Seminggu di sana, kita puas-puasin dulu liburan, sedangkan Rio akan pulang setelah tiga hari itu. Karena dia harus mengurus perusahaan yang di sini."
"Mas Rio itu ... " belum selesai Fatimah ngomong, Rayyan langsung memotong-motong.
"Kenapa sih kamu manggil Mas terus sama Rio?" tanya Rayyan tak suka.
"Emang gak boleh ya?" tanya Fatimah, ia bahkan sampai tertegun melihat wajah Rayyan yang dahinya berkerut, pertanda dia emang tidak menyukai apa yang Fatimah lakukan.
"Enggak boleh, cukup ke aku aja kamu manggil 'Mas'," ucap Rayyan dengan wajah cemberut.
"Oke, oke, maaf. Aku akan manggil Kak Rio gimana?"
"Kenapa malah terdengar romantis?"
"Terus manggil apa dong, masak asisten Rio? Rasanya terlalu panjang dan belibet di lidahku."
"Panggil dia Rio aja."
__ADS_1
"Tapi bukannya gak sopan, dia kan umurnya lebih tua dari aku."
"Tapi aku gak suka kamu manggil dia Mas, atau Kak." ucapnya dengan wajah datar, membuat Fatimah hanya bisa menghela nafas.
"Baiklah, aku akan panggil dia Rio saja, okey," tutur Fatimah sambil mencium pipi Rayyan.
"Nah gitu dong, terus kamu mau ngomong apa tadi?" tanya Rayyan sambil duduk di sofa dekat Fatimah, setelah itu ia mengangkat badan Fatimah dan menaruhnya di pangkuannya sehingga saling berhadapan.
"Rio itu belum nikah?"
"Gak tau, kayaknya belum. Kan kamu tau, aku hilang ingatan, tapi sepertinya sih belum, buktinya dia kerja dan kadang selesai tengah malam."
"Iya juga sih. Kamu gak mau kasih dia cuti sehari dua hari."
"Emang kenapa?"
"Ya biar dia bisa cari calon istri," ucapnya terkekeh.
"Kenapa kamu perhatikan banget sama Rio?" tanya Rayyan penuh selidik.
Bahkan dia kalah sama Mas Ray. Iya kan? Kalau dia kerja terus, kapan dia mau cari calon istri."
"Iya juga, sih."
"Apa perlu kita jodohkan?" tanya Rayyan yang ikut kefikiran gara-gara omongan Fatimah
"Boleh."
"Emang kamu ada kenalan yang sekiranya cocok sama Rio?" tanya Rayyan.
"Ada, dong."
"Siapa?
"Dokter Ratih, Mbak Nana, Sofi, Anggi, Della, ada juga Dokter Rania, Dokter Rini, Dokter Syifa .... "
__ADS_1
"Stop, stop. Kok banyak banget?" tanya Rayyan.
"Hehe, kan misal satu gak cocok, bisa pilih yang lain. Tapi aku sih, lebih cocok Rio sama Dokter Ratih."
"Kenapa?"
"Enggak tau, cocok aja."
"Tapi menurut aku, kita jangan ikut campur masalah kehidupan orang lain. Kita fokus aja sama kehidupan kita pribadi." ucap Rayyan memberikan saran.
"Benar. Mending kita fokus sama hubungan kita aja, Mas."
Mendengar hal itu, Rayyan pun menganggukkan kepalanya.
"Nanti kita bawa berapa koper?" tanya Fatimah.
"Enggak usah, masalah keperluan kita, akan di urus oleh Rio."
"What? Termasuk daleman aku?" tanyanya kaget.
"Rio pasti nyuruh seorang wanita untuk memenuhi semua keperluan kamu, jadi tenang aja. Dia gak akan selancang itu, mengurus keperluan pribadi kamu seorang diri."
"Syukurlah."
Setelah itu, Rayyan pun melihat dua gunung yang bersembunyi di balik baju Fatimah.
Fatimah yang melihat hal itu pun merasa geli, Fatimah mengambil kedua tangan Rayyan dan menaruhnya di dua gunung miliknya.
Tentu, Rayyan merasa senang, ia langsung memeras dua gunung kembar milik Fatimah, hingga Fatimah mende-sah.
Sesekali Fatimah menoleh ke arah bawah, di mana celana Rayyan mulai mengembang.
Yah, pada akhirnya mereka pun memadu kasih, di ruang kerja Rayyan. Mereka melakukannya hingga berjam-jam lamanya.
Bahkan mereka sampai melewati jam makan siang hanya karena memenuhi hawa naf-su mereka.
__ADS_1