
Hari ini, Fatimah sudah di perbolehkan pulang. Fatimah pulang bersama Bibi Aisyah karena Dokter Ratih hari ini ada shift pagi, jadi gak bisa ikut mengantarkan mereka pulang. Nana sendiri, ia tidak bisa mengantar karena dua penjaga melarangnya dan mereka mengatakan itu perintah dari Tuan Ray.
Akhirnya Nana pun cuma bisa menasehati Fatimah, agar tidak menyerah dalam menjalani hidup, se-menyakitkan apapun itu, Fatimah harus bisa semangat dalam menjalaninya.
Nana mengatakan bahwa Tuhan pasti selalu bersama dengan orang-orang yang sabar.
Seperti di kutib pada Surat Al Baqoroh, ayat 153 yang mengatakan, "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
Nana juga memberikan sajadah, lengkap dengan mukenah, Alquran dan tasbih. Nana mengatakan jika Fatimah tidak kuat menahan semua cobaan dan ujian yang menghampirinya, Fatimah bisa mengadukan semuanya kepada Allah. Bangunlah di sepertiga malam, dan curahkan semua isi hatimu pada Tuhan. Biarkan Tuhan mendengar keluh kesahmu dan membantumu keluar dari masalah itu.
Nana juga mengingatkan agar jangan sesekali Fatimah meninggalkan sholat. Dan Fatimah pun mengangguk setuju. Setelah itu, Fatimah pulang bersama dengan Bibi Aisyah dan seorang sopir bernama Pak Ihsan.
Sepanjang jalan, Fatimah hanya diam, ada rasa takut untuk kembali ke mension. Ia bahkan masih sedikit trauma dengan apa yang terjadi terakhir kali. Namun saat Bibi Aisyah mengatakan, bahwa Tuan Ray dan Asisten Rio ada di luar negeri, Fatimah pun bernafas lega, setidaknya untuk sementara waktu, ia akan merasa aman.
Sesampai di mension, Pak Han sudah ada di depan dan menyambut kedatangan Fatimah. Fatimah hanya tersenyum ramah padanya. Karena Fatimah bingung harus bersikap seperti apa. Lalu Bibi Aisyah membawa Fatimah ke kamar sebelumnya.
__ADS_1
Di kamar ini, Fatimah masih bergidik ngeri, ia bahkan masih bisa merasakan rasa sakit saat pertama kali Tuan Ray menghujam miliknya dengan senjatanya yang sangat keras. Bagaimana ia berteriak kesakitan karena memang rasanya seperti di hujam benda yang tajam, sakit sekali.
Fatimah ingin pindah kamar, namun Bibi Aisyah mengatakan jika Tuan Ray, tidak mengizinkannya. Akhirnya Fatimah pun hanya bisa menerimanya dengan lapang dada. Fatimah menaruh sajadah, mukenah, Al-Qur'an serta tasbih pemberian Nana di atas meja. Lalu ia duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang, ia masih belum berani untuk tidur di atas ranjang, entah kenapa, ada ketakutan tersendiri.
"Bibi, aku mau mandi. Aku harus pakai baju apa?" tanya Fatimah.
"Di dalam lemari ini ada banyak baju yang bisa kamu pakai," jawabnya memberitahu. Fatimah membuka lemari itu dan hanya tersenyum kecut.
"Aku gak suka baju terbuka seperti ini," ucapnya mengeluh. Bibi Aisyah mengerti tapi lagi dan lagi, ia gak bisa berbuat apa-apa.
"Tapi masalahnya aku gak terbiasa menggunakan pakaian terbuka, aku risih, Bi," keluhnya.
"Yang sabar ya, doakan saja semoga Tuan Rey segera di bukakan mata hatinya, agar ia kembali menjadi pria normal dan tak lagi menjadi pria kejam. Saat ini, Bibi gak bisa bantu, karena posisi Bibi sendiri juga hanya seorang pembantu."
Mendengar hal itu, Fatimah pun berhenti mengeluh. Ia akan menerima apapun, selama dirinya tidak lagi mendapatkan kekerasan fisik, karena itu sangat menyakitkan.
__ADS_1
"Baiklah, kamu istirahat ya, Bibi mau keluar dulu."
"Iya, Bi."
Lalu, Bibi Aisyah pun segera pergi dari sana dan meninggalkan Fatimah sendiri di ruangan itu. Fatimah menutup pintu itu rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. Lalu, FAtimah pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, untungnya di kamar mandi semua kebutuhannya sudah lengkap dan tinggal memakainya. Lalu, FAtimah mengambil baju yang cukup terbuka itu dari dalam lemari. Dan memakainya.
Lalu ia berkaca di depan cermin yang cukup besar, ia tertawa miris, air mata keluar tanpa bisa ia cegah. FAtimah pun mengusapnya dengan kasar. Sungguh melihat dirinya seperti ini, Fatimah seperti seorang pela cur.
"Tuhan, mau sampai kapan hidupku seperti ini?" keluh Fatimah. Lalu ia ingat dengan sajadah dan mukenah yang di beri oleh Nana.
Fatimah kembali ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Lalu setelah itu, ia mengambil sajadah dan menghamparkannya di samping ranjang. Ia memakai mukenah dan melakukan sholat ashar karena ini sudah jam empat sore.
Sehabis sholat, Fatimah mengangkat kedua tangannya dan mencurahkan isi hatinya sama Tuhan. Dan tanpa sepengetahuan Fatimah, Tuan Rey melihat dan mendengar apa yang menjadi doanya.
Karena di kamar itu ada cctv dan perekam suara yang tidak diketahui oleh Fatimah sehingga Tuan Rey, bisa melihat apa yang di lakukan oleh Fatimah selama dirinya tidak ada di sana. Bahkan suara sekecil apapun tetap akan di dengar oleh Tuan Rey.
__ADS_1