
Kini Fatimah dan Rayyan berada di dalam mobil dan sedang dalam perjalanan menuju pulang. Sepanjang jalan, Rayyan memilih diam karena masih terbawa emosi gara-gara masalah tadi. Fatimah pun juga diam karena ia takut melihat ekspresi Rayyan. Melihat kemarahan Rayyan saat ini, mengingatkan dirinya tentang masa lalu di mana Rayyan belum hilang ingatan. Untuk itulah, Fatimah tidak mau memancing emosi Rayyan dan memilih menunggu sampai Rayyan bisa mengontrol emosinya.
Setelah sejam lebih, akhirnya mereka sampai di kediaman mereka. Rayyan dan Fatimah segera turun dan pergi menuju kamar. Pak Han dan yang lainnya pun hanya terdiam melihat tatapan Rayyan yang masih terlihat dingin dan datar.
"Tuan Ray kenapa ya, Bi?" tanya Sofi melihat Rayyan yang kembali berwajah datar, membuat dirinya cemas memikirkan Fatimah. Ia takut jika Fatimah akan di perlakukan seperti dulu lagi.
"Entahlah, Bibi gak tau. Kita doakan saja, semoga Tuan Ray tidak menyakiti Fatimah lagi," ujarnya dan pergi dari sana. Ia tak ingin bergosip yang membuat suasana tambah panas. Melihat Bibi Aisyah pergi, Sofi pun ikutan pergi dari sana.
Sedangkan di dalam kamar, Rayyan membuka bajunya dengan kasar. Fatimah hanya bisa menghela nafas, ia juga membuka hijabnya, menaruh tasnya dan membuka sandal serta kaos kakinya. Setelah itu, ia masuk ke kamar mandi untuk sekedar sikat gigi dan cuci muka, karena dirinya baru dari luar. Kalau gak segera di cuci bersih, takutnya akan ada jerawat yang timbul karena udara kotor dari luar. Setelah selesai bersih-bersih, ia segera mengganti bajunya dengan baju yang cukup terbuka. Lalu setelah itu, ia mendekati suaminya yang duduk di pinggir kasur.
"Masih marah?" tanyanya dengan lembut sambil memegang dada Rayyan, mengusapnya dengan pelan, seakan Fatimah tengah berusaha memadamkan api amarah yang ada di dada suaminya.
"Hm." jawabnya
"Jangan marah lagi ya. Aku gak papa kok." ucapnya.
"Aku gak suka ada orang lain yang melukai kamu." ucapnya dengan nada dingin.
__ADS_1
"Iya, aku tau. Tapi aku gak terluka, hanya bajuku aja yang basah, lagian dia juga kan gak sengaja. Dia sampai gugup dan terlihat ketakutan lo barusan," tuturnya masih dengan suara rendah, ia tak ingin ikut ikutan emosi dan membuat suasana menjadi semakin panas dan berakhir dengan pertengkaran.
Sedangkan Rayyan memilih diam, tidak merespon.
Fatimah hanya bisa menghela nafas, ia lalu ingat dengan buku yang pernah ia baca, bahwa seberat apapun masalah dalam rumah tangga, semuanya bisa terselesaikan di atas ranjang.
"Haruskah aku yang memulai duluan?" tanyanya dalam hati.
Setelah berfikir beberapa detik, dengan membaca basmallah, Fatimah berdiri dan mendorong Rayyan, sehingga Rayyan jatuh di atas kasur. Dengan posisi terlentang, Fatimah mulai merangkak ke atas tubuh Rayyan dan mulai membelai area sensi-tif Rayyan hingga lambat laun Rayyan mulai mendesah.
Fatimah menganggukkan kepalanya, ia membuka ****** ********, dan juga membukakan ****** ***** milik Rayyan. Akhirnya pertempuran di atas kasur pun di mulai dengan Fatimah sebagai pemimpin permainan.
Mereka melakukannya hingga tengah malam, setelah selesai, Fatimah mengajak Rayyan untuk mandi berdua. Di kamar mandi pun, mereka masih melakukan hubungan suami istri dengan Rayyan yang mengambil alih permainan.
Hingga jam dua dini hari, mereka baru keluar dari kamar mandi. Setelah itu, mereka segera mengeringkan rambut dan tubuh mereka, dan memakai baju yang cukup tebal, karena dua-duanya merasa kedinginan.
"Mas lapar?" tanya Fatimah.
__ADS_1
"Iya," balas Rayyan. Karena terakhir mereka makan saat siang tadi. Sedangkan malamnya, mereka belum makan sama sekali, niatnya tadi mereka mau makan di pesta, tapi apa di kata, di sana malah ada kejadian yang membuat nafsu makan mereka hilang seketika.
"Iya sudah ayo ke dapur, aku akan bikin nasi goreng spesial buat Mas Rayyan," ajaknya.
"Malam-malam makan nasi goreng?" tanyanya.
"Iya, kenapa? Mas Rayyan gak suka?" tanya Fatimah.
"Suka kok, apapun yang kamu masak, aku pasti suka."
"Beneran?"
"Iya, Sayang."
Akhirnya mereka berdua pun segera pergi ke dapur. Di saat Fatimah memasak nasi goreng, Rayyan hanya duduk diam memperhatikan Fatimah.
"Aku puas malam ini, terima kasih istriku," gumam Rayyan dalam hati. Sedangkan Fatimah di tengah kesibukannya memasak nasi goreng, sesekali ia melihat ke arah Rayyan dan memberikan senyuman manisnya yang membuat hati Rayyan terasa teduh.
__ADS_1