
Saat ini kehidupan Fatimah dan Rayyan pun kembali cerah, tak ada lagi aksi saling diam. Semua Art termasuk Pak Han dan Asisten Rio pun ikut senang melihat Fatimah yang kembali bergelayut manja di lenga Rayyan. Suasana pun tak lagi mencekam dan hening bak kuburan.
Sungguh walaupun yang bertengkar Fatimah dan Rayyan, tapi itu semua berimbas pada mereka yang tak tau apa-apa.
"Sayang," panggil Rayyan. Kini mereka ada di ruang tengah sambil nonton tivi. Setelah sebelumnya, mereka selesai sarapan pagi.
"Iya, Mas," jawab Fatimah.
"Kita program anak yuk," ajak Rayyan.
"Mas sudah siap jadi Ayah?" tanya Fatimah.
"Iya, siap banget. Biar hubungan kita makin erat dan siapa tau dengan adanya anak, hubungan kita makin romantis dan lebih berwarna. Bukannya aku gak bersyukur degan keadaan yang sekarang, hanya saja misalkan ada anak, pasti suasananya beda kan. Aku pas keluar negri kemarin, ada anak yang lucu banget, aku ingin mendekat, tapi aku juga merasa sungkan sama orang tuanya. Aku lihat mereka terlihat begitu bahagia sekali," tutur Rayyan menceritakan hal-hal yang ia lihat kemarin saat di luar negeri.
__ADS_1
"Baiklah, Mas. Apa perlu kita ke dokter sekarang? Mungkin ada tips agar aku bisa hamil dalam waktu dekat," ujar Fatimah dengan hati-hati karena takut bikin suaminya marah lagi.
"Boleh, nanti jam delapan kita berangkat ya. Aku akan telfon Rio dulu agar tak perlu jemput aku ke sini." Rayyan mengambil hpnya, dan menelfon Rio.
Rio yang mendengar hal itu pun menawarkan diri untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit, namun Rayyan menolak dengan alasan ingin berdua dengan sang istri. Karena setelah dari rumah sakit, mereka akan jalan-jalan, menghabiskan waktu berdua karena kemaren mereka sudah saling diam diaman.
Setelah menelfon Rio, Rayyan menyenderkan kepalanya di bahu Fatimah. Sebenarnya masalah anak sudah pernah di bahas beberapa kali, dan pernah juga Konsul ke dokter, cuma memang sampai sekarang belum ada perubahan, Fatimah belum juga hamil, padahal mereka sama-sama subur dan sudah melakukan seperti anjuran dokter, yang harus makan makanan sehat, rajin olah raga, gak boleh stres, istirahat yang cukup, dan minum vitamin.
"Sayang," panggil Fatimah.
"Iya, Mas."
"Sebenarnya beberapa hari ini aku suka mimpi."
__ADS_1
"Mimpi apa?" tanya Fatimah.
"Aku mimpi, aku membunuh seseorang. Ah bukan hanya satu orang, tapi ada beberapa orang yang aku bunuh, semuanya tampak begitu nyata, hanya saja wajah mereka tidak terlalu jelas. Namun aku merasa, mereka adalah bagian dari hidup aku."
Mendengar hal itu, Fatimah cukup deg degan. Akankah ingatan itu akan kembali muncul secara perlahan, lalu bagaimana dengan hidupnya jika Rayyan benar-benar ingat akan masa lalunya dan kembali menjadi Reyhan yang kejam.
"Aku juga mimpi tentang seorang wanita, dia selalu memakai pakaian terbuka, dia selalu menatap sedih ke arahku, wajahnya pun samar-samar, gak terlalu jelas. Tapi melihat dia menangis, entah kenapa hatiku ikutan sakit. Bahkan saat aku bangun tidurpun, hatiku masih sakit, seperti aku kehilangan sesuatu yang sangat berarti."
Fatimah hanya diam mendengarkan, dia tentu tau siapa wanita itu, siapa lagi kalau bukan istri pertama suaminya.
Namun Fatimah tidak bisa menjelaskan semuanya, selain hanya bisa diam dan pura-pura tak tau. Karena itu satu-satunya cara agar Rayyan tetap melupakan apa yang pernah ia lewati.
Masa lalu yang begitu kelam, hingga mampu menjadi pria jahat yang menyakiti dirinya. Bahkan hampir menghilangkan nyawanya berkali-kali.
__ADS_1