Love Me Mr. Arrogant

Love Me Mr. Arrogant
Sikap Dingin Rayyan


__ADS_3

Setelah penyatuan mereka berdua, hubungan Fatimah dan Rayyan semakin harmonis. Rayyan memperlakukan Fatimah dengan sangat lembut dan hati-hati, seakan-akan ia takut, jika apa yang ia lakukan akan menyakiti Fatimah nantinya.


Fatimah pun sangat menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya. Namun ia tidak terlena begitu saja, karena Fatimah masih punya misi. Misi membuat sang suami jatuh hati padanya.


Setelah hampir sebulan berada di Bali. Fatimah dan Rayyan memutuskan untuk pulang karena Rayyan tak mungkin membiarkan perusahaannya begitu saja. Sedikit demi sedikit, ia mulai ingat tentang siapa dirinya. Walaupun belum sepenuhnya. Untuk itu, ia ingin kembali ke perusahaan dan bekerja seperti biasanya.


Fatimah yang tak menaruh curiga, hanya menuruti keinginan sang suami yang ingin pulang lebih awal. Fatimah berfikir jika sang suami sudah bosan di Bali dan ingin segera pulang.


Selama dalam perjalanan, Rayyan lebih banyak diamnya membuat Fatimah bertanya-tanya, apakah dirinya melakukan kesalahan sehingga Rayyan mendiaminya seperti ini.


"Mas?" Panggil Fatimah dengan pelan dan lembut


"Iya," jawab Rayyan sambil menoleh ke arah Fatimah.


"Mas Rayyan kenapa, kok diam dari tadi?" tanyanya yang mulai cemas.

__ADS_1


"Gak papa, Sayang. Cuma capek aja," balasnya tersenyum sambil mengelus kepala Fatimah yang tertutup hijab.


"Oh, aku fikir kenapa." Fatimah menghela nafas panjang, ia seakan merasa lega.


"Kamu kenapa? Kok sampai bernafas seperti itu?" tanya Rayyan gantian.


"Enggak papa," jawab Fatimah sambil menggenggam tangan Rayyan. Dalam hati, ia berdoa agar suaminya terus seperti ini dan tidak berubah jahat lagi.


Seakan tau apa yang kini ada dalam fikiran istrinya, Rayyan membawa Fatimah ke dalam pelukannya.


Fatimah memeluk Rayyan dari samping kiri, ia merasa nyaman setiap berada dalam pelukan suaminya itu. Tak ada lagi rasa takut seperti dulu, yang ada hanya rasa ingin terus bersama selamanya sampai akhir hayat.


Sesampai di bandara, kedatangan Rayyan dan Fatimah sudah di tunggu oleh Rio, asisten Rayyan. Ia rela meninggalkan kantor, hanya demi ingin menyambut kedatangan sahabat sekaligus atasannya dari bulan madu.


Hanya saja, Rio tidak menyangka jika bulan madu mereka sesingkat ini, padahal Rio berharap jika Rayyan dan Fatimah bisa bulan madu cukup lama. Tak apa ia lelah mengurus perusahaan itu sendiri, asalkan dirinya tidak perlu lagi melihat Fatimah menderita.

__ADS_1


"Selamat datang, Tuan, Nyonya," ucapnya dengan ramahnya. Hanya saja Rayyan hanya sedikit menganggukkan kepalanya lalu setelah itu, ia berjalan sambil menggandeng istrinya.


Rio pun juga ikut jalan di belakang mereka, lalu setelah hampir dekat mobil, Rio langsung membukakan pintu buat mereka berdua.


Saat dalam perjalanan, tak ada yang berbicara sedikitpun, sehingga suasana begitu hening.


"Apakah Rayyan mengingat masa lalunya? Kenapa dia berubah dingin lagi?" Rio mulai bertanya dalam hati, ia mulai was-was. Takut misal Rayyan mengingat semua masa lalunya dan berubah menjadi manusia yang kejam.


"Haruskah aku memberikan obat itu lagi?" tanyanya.


Rio berusaha untuk tetap fokus mengemudi, walaupun pikirannya sekarang memikirkan banyak hal terutama tentang perubahan Rayyan.


Sedangkan Rayyan hanya diam sambil menggenggam tangan Fatimah yang hanya diam sambil memejamkan mata karena merasa lelah.


Sesampai di mension, Rio membukakan pintu mobilnya. Lalu setelah itu, Rayyan menggendong Fatimah menuju kamarnya, sedangkan masalah koper, ada Rio yang akan membawakan ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2