
Jam sebelas, Fatimah memasak nasi, lalapan, ayam bakar pedas manis, sambal, telur mata sapi, dan juga sayuran oseng-oseng. Hanya makanan sederhana, tapi percayalah, rasanya tidak kalah dengan makanan yang di jual di restoran bintang lima. Karena bumbunya benar-benar sangat meresap sekali. Fatimah emang pandai dalam hal memasak, mungkin dia punya bakat untuk menjadi seorang chef terkenal.
Bahkan saat Fatimah membagikan makanannya pada semua orang yang ada di mension, mereka semua memuji masakannya, membuat Fatimah malu sendiri mendengar pujian dari mereka. Bahkan koki yang bekerja di mension itu pun, ikut memujinya bahkan mereka meminta Fatimah untuk berbagi resep rahasia agar masakan mereka bisa seenak masakan Fatimah.
Fatimah tentu menyetujuinya, bukankah berbagi ilmu itu adalah hal yang menyenangkan. Lagian ilmu tidak harus di dapatkan dari kampus, atau dari senior, tapi juga bisa di dapatkan dari semua orang yang memang mahir di bidangnya.
Selesai selesai memasak, Fatimah segera mandi untuk bersiap-siap, ia memakai baju yang ada di lemarinya. Baju yang harganya bisa bikin kantong menjerit sangking mahalnya. Bahkan kalau bukan karena sang suami, Fatimah lebih suka menggunakan baju yang harganya cukup di bawah dua ratus ribu saja, bukan puluhan juta seperti ini.
Tapi apalah daya, Fatimah tak mungkin bertengkar hanya untuk masalah sepele, jadi ia memilih mengalah dan melakukan apapun yang di perintahkan oleh suaminya.
Semua barang yang Fatimah pakai dari hijab sampai kaos kaki, harganya benar-benar bikin Fatimah mengelus dada, bahkan tas yang ia pakai pun seharga 1 milliar lebih, begitupun dengan jam tangan yang ia pakai di tangan kirinya. Bahkan untuk satu parfum aja, harganya bisa bikin toko parfum sendiri sangking mahalnya itu parfum.
Sekali lagi, Fatimah hanya bisa mengelus dada dan memohon ampun sama Allah, bagaimanapun hal seperti ini, sungguh tidak di perkenankan. Bagaimana tidak, di saat di luar sana banyak orang yang kelaparan, bahkan untuk tempat tinggal saja tidak punya, Fatimah malah memakai pakaian yang untuk satu gamis aja, bisa menghidupi ratusan orang di luar sana.
Setelah memastikan penampilannya sempurna dan tidak akan mempermalukan sang suami, Fatimah pun langsung pergi dengan sang sopir. Tentu, ia tidak akan lupa untuk membawakan dua bekal yang sudah dia siapkan dengan sepenuh hati. Kenapa harus bawa dua? karena yang satunya untuk Sekertaris Rio yang diam-diam sudah banyak membantu dirinya. Bahkan jika bukan karena Rio, tentu sampai saat ini, ia tidak akan bahagia dan masih hidup dalam ketakutan.
"Pak, antar saya ke kantor Mas Rey, ya," ucap Fatimah dengan sopan.
"Siap, Non." jawab Pak Ihsan semangat. Pak Ihsan membukakan pintu belakang, dan setelah memastikan Fatimah duduk dengan nyaman, barulah Pak Ihsan menutup pintu mobil itu dengan pelan.
Lalu ia memutari mobilnya dan duduk di belakang kemudi, dengan mengucap basmallah, Pak Ihsan pun mulai mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
Selama di dalam mobil, Fatimah dan Pak Ihsan mengobrol santai. Ya, Fatimah tak seperti majikan yang lain, yang cuek dan dingin. Ia sangat ramah pada siapapun, terlebih kepada yang umurnya lebih tua darinya.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan kantor. Pak Ihsan segera membukakan pintu mobil untuk Fatimah.
"Terima kasih ya, Pak."
"Sama-sama, Non."
"Bapak langsung pulang aja, gak papa. Nanti saya pulang bareng suami saya."
"Baik, Non."
"Hati-hati, Pak."
__ADS_1
"Iya, Non. Kalau gitu, saya pamit dulu."
"Iya."
Setelah memastikan Pak Ihsan sudah pergi, barulah Fatimah mulai melangkahkan kaki menuju meja resepsionis.
"Maaf, Mbak. Dimana ruangan Mas Rey?" tanyanya dengan sopan dan to the point.
"Mas Rey, siapa ya, Mbak?" tanya resepsionis itu yang sedikit bingung. Di name tag resepsionis itu, ada tulisan 'Nisa' di dada sebelah kiri.
"Rayyan Abraham Alexander Danendra," jawab Fatimah menyebut nama panjang suaminya. Membuat sang resepsionis kaget.
"Tuan Ray?" tanyanya memastikan.
"Iya."
"Apa sebelumnya sudah buat janji?" tanyanya lagi dengan sopan, takut jika orang yang ada di hadapannya ini merupakan orang penting dari atasannya, apalagi baju yang di pakai Fatimah dari merk ternama. Jadi, ia harus berhati-hati dalam berucap.
"Sudah, suamiku yang memintaku ke sini untuk membawa bekal makan siang."
"Maaf, Nyonya. Saya tidak tau. Kalau gitu, mari saya antarkan ke ruang Tuan Ray," tuturnya dengan sangat sopan sekali.
"Terima kasih." Fatimah tersenyum canggung. Pasalnya ia merasa kurang nyaman misal melihat lawan bicaranya langsung menunduk sopan seperti itu.
Resepsionis yang bernama, Nisa itu langsung meminta salah satu temannya menggantikan posisinya lebih dulu karena dirinya harus mengantarkan Fatimah bertemu pimpinannya, tentu temannya langsung mengiyakan, bagaimanapun mereka harus saling bantu satu sama lain.
Resepsionis itu berjalan di belakang Fatimah, sekitar setengah meter. Dan itu membuat Fatimah kurang nyaman.
"Jangan di belakang saya, Mbak. Sini bareng saya," ucapnya sopan sambil menoleh ke arah Nisa.
Namun resepsionis itu menolak dengan halus, bahkan ketika Fatimah sedikit memaksa, tetap saja, resepsionis itu menolak. Karena bagaimanapun dari dulu, tidak ada sejarahnya seorang bawahan jalan beriringan dengan atasan.
Melihat respon Nisa, Fatimah akhirnya mengalah dan tak lagi memaksa Nisa berjalan di sampingnya.
"Sudah lama kerja di sini Mbak Nisa?" tanya Fatimah mengajak Nisa ngobrol. Dari pada diam diaman, malah akan terasa canggung.
__ADS_1
"Sekitar dua tahun lebih, Nyonya."
"Jangan panggil Nyonya, Panggil Fatimah aja," jawabnya, entah kenapa telinganya gak enak mendengar orang-orang manggil Nyonya, karena Fatimah merasa ia belum pantas mendapatkan gelar Nyonya. Apalagi di usia muda.
"Saya yang gak enak kalau langsung panggil nama. Bagaimana kalau Nona saja?" tanyanya.
"Yah, itu lebih baik." jawab Fatimah.
Mereka terus mengobrol hingga masuk ke dalam lift. Fatimah cukup terpukau dengan kantor milik suaminya yang cukup megah, luas, tinggi dan dalamnya pun benar-benar bikin orang takjub. Pasti membutuhkan dana yang cukup besar untuk bisa membuat seperti ini.
Fatimah bahkan tidak menyangka, bisa menginjakkan kaki di lantai yang dirinya yakin betul, harganya tidaklah murah, ini pasti lantai dengan kualitas bagus sehingga tampak ngecling dan tak ada sedikitpun kotoran yang terlihat di mana mana.
Setelah sampai di lantai atas, Nisa bertemu dengan Asisten Rio. Nisa pun langsung pamit undur diri, karena merasa kurang nyaman dengan tatapan dingin dari orang penting di kantor ini.
Saat ini hanya ada Rio dan Fatimah, Rio melihat Fatimah yang mulai chubby lagi. Ada rasa senang tersendiri, melihat Fatimah kini mulai tampak bahagia.
"Ini buat Mas Rio," ucapnya, tanpa ada embel-embel Asisten. Fatimah memberikan bekal makanan yang ia bawa khusus untuk Rio.
"Terima kasih, tapi gak seharusnya kamu bawakan ini buat aku. Karena jika Rayyan tau, dia pasti marah."
"Dia tidak seperti dulu lagi, aku yakin, dia gak akan marah hanya untuk hal sepele. Nanti aku yang akan jelaskan padanya."
"Baiklah." Rio menerima bekal makanan itu, karena tak enak juga untuk menolak. Bagaimanapun ia harus menerima niat baik Fatimah.
"Ruang Mas Ray di mana?" tanyanya.
"Itu. Mau aku antar?" tanyanya.
"Enggak usah, lagian sudah di depan mata."
"Iya sudah."
Asisten Rio tidak memaksa, ia hanya melihat Fatimah yang mengetuk pintu ruangan suaminya, sebelum akhirnya ia masuk.
Setelah memastikan Fatimah masuk, barulah Rio meninggalkan ruangan itu dan pergi menuju ruangannya sendiri.
__ADS_1