
Jam dua dini hari, Fatimah bangun karena kemigil kedinginan, ia segera bangun dan duduk sebentar sambil lihat jam. Lalu Fatimah pergi ke kamar mandi, buang air kecil, lalu cuci muka pakai sabun, gosok gigi, dan ambil wudhu.
Selesai ambil wudhu, Fatimah langsung menghamparkan sajadahnya lagi, dan memakai mukenah lalu sholat malam. Di akhir sujud, Fatimah sengaja memperlama sujudnya agar lebih mendekatkan dirinya sama Tuhan. Baru setelah itu ia menyudahi sholatnya.
Fatimah melakukan sholat tahajjud, sholat hajat di akhiri sholat witir. Selesai sholat, Fatimah mengangkat tangannya dan mulai mencurahkan isi hatinya lagi. Ia menangis di atas sajadah, ia mencurahkan segala apa yang membuat dadanya begitu sesak.
Setelah hampir sejam dia berdoa, lalu Fatimah berdzikir dan lanjut membaca Al Qur'an, hingga jam empat empat subuh. Lalu Fatimah keingat dengan piring dan gelas yang masih ada di kamarnya, dengan masih memakai mukenah, Fatimah keluar dari kamar dan mencari sendiri di mana dapurnya berada. Saat ia sedang kebingungan, tiba-tiba ia mendengar seseorang bicara.
"Non Fatimah mau ngapain?" tanya Pak Han membuat Fatimah kaget.
"Ah saya mau cari dapur, mau naruh gelas dan piring ini," ucapnya sambil memegang piring, gelas, sendok dan garbu.
"Tadi malam Bibi memberikan saya makan, dan saya mau menaruhnya di rak piring, cuma gak tau letak dapur ada di mana," imbuhnya menjelaskan.
__ADS_1
Mension ini cukup luas, jadi misal gak pernah masuk ke dalam rumah ini, tentu akan kebingungan sendiri, di mana letak dapur dan yang lainnya.
"Mari saya antarkan!" Pak Han berjalan lebih dulu dan memberikan petunjuk untuk Fatimah. Fatimah pun mengikutinya dari belakang.
"Taruh piring di sana, gelas di sana, sendok dan garbu di sana," tuturnya sambil menunjuk laci tempat menaruh piring, gelas, sendok dan garbu. Ternyata semua itu ada di dalam laci, pantas aja ruangan dapur ini sangat rapi, karena semua peralatannya ada di dalam laci, yang memang sudah di rancang untuk menaruh peralatan dapur sehingga tidak berserakan di luar.
Dengan sangat hati-hati sekali, Fatimah menaruh piring, gelas dan yang lainnya. Lalu setelah itu, Pak Han pun mengantarkan Fatimah ke kamarnya lagi.
Setelah memastikan Fatimah masuk ke kamar, barulah Pak Han pergi dari sana.
Fatimah kembali ke atas sajadah dan menunggu adzan subuh tiba. Setelah selesai adzan subuh, barulah Fatimah sholat subuh dua rakaat dan setelah itu melipat sajadah dan mukenahnya, lalu menaruhnya di rak.
Lalu Fatimah membersihkan ruangan itu dan membuka jendela, ada balkon yang langsung mengarah ke taman samping rumah.
__ADS_1
Mumpung hari masih gelap, Fatimah pun berdiri di atas balkon, dengan baju terbuka.
Setelah hari beranjak siang, Fatimah masuk ke dalam dan menutup jendela, ia tak ingin orang lain melihat dirinya dengan memakai baju seperti ini.
Fatimah masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya biar segar, lalu mencuci bajunya dan menjemurnya di samping kamar mandi, ada tempat untuk jemuran, namun tempatnya tidak terlalu luas. Dan tempat itu bisa langsung mengarah ke matahari jadi bisa di pastikan bisa kering setelah seharian di jemur.
Lalu Fatimah memakai handuk dan mencari baju yang cukup tertutup, ia terus mencari dan membuka semua lemari yang ada di sana. Dan syukurnya, ada baju daster yang lumayan tertutup, walaupun tidak tertutup semuanya, tapi setidaknya itu lebih baik dari pada baju kurang bahan yang ia pakai tadi malam.
Daster ini juga sangat cantik, elegant. Fatimah cukup menyukainya.
Lalu Fatimah menyisir rambutnya dan keluar dari kamar, karena ia gak mungkin selamanya hanya diam di kamar.
Saat Fatimah keluar kamar, Bibi Aisyah kebetulan berdiri tak jauh dari sana. Melihat Fatimah keluar dari kamarnya, Bibi Aisyah menghampirinya dan mengajak Fatimah untuk keliling mension dan juga memperkenalkan dengan semua ART yang ada di sana.
__ADS_1
Fatimah awalnya cukup malu bertemu mereka, namun karena mereka welcome dan cukup ramah, akhirnya Fatimah pun mulai nyaman bersama mereka dan mengobrol santai. Bahkan sesekali Fatimah juga tertawa saat mendengar candaan salah satu ART di sana.
Mereka juga bungkam, dan seakan-akan tidak tau apa yang terjadi saat Fatimah pertama kali datang ke sini, mereka lakukan itu biar Fatimah gak malu dan juga tidak mengingat kembali, kejadian pahit yang sudah terjadi.