
Api baru bisa padam sekitar jam setengah lima pagi. Dan 85% mension terbakar semua. Setelah api benar-benar padam, Rayyan langsung berlari menuju kamar Fatimah dengan di ikuti oleh Rio, Pak Han dan beberapa orang lainnya.
Sesampai di kamar Fatimah yang menjadi Abu, Rayyan hanya menemukan satu manusia yang sudah hangus terbakar. Rayyan yang memang mengira itu Fatimah pun langsung menjerit jerit, memanggil Fatimah.
Rayyan benar-benar histeris, hingga akhirnya ia pun pingsan karena tak tahan dengan apa yang ia lihat.
Sedangkan Rio, dia meminta yang lain untuk mengurus pemakaman jenazah yang terhangus itu, dan juga membersihkan rumah yang memang sisa sedikit yang masih bisa terselamatkan.
Rio membawa Rayyan ke rumah sakit terdekat, untuk segera diobati. Sepanjang jalan Rio hanya bersikap biasa aja, tak ada rasa khawatir atau apapun.
Kasian mungkin ada, tapi Rayyan pantas menerima itu semua.
Setelah sampai di rumah sakit, Rio langsung mencari kursi roda dan menggendong Rayyan untuk duduk di kursi roda itu karena tak mungkin Rio menggendong sampai UGD, ia tidak sekuat itu, apalagi tubuh Rayyan cukup berisi.
"Rio, Rayyan kenapa?" tanya Dokter Ratih, di emang dapat shift malam dari jam tujuh malam sampai jam tujuh pagi.
"Pingsan," jawabnya
"Hah, terus Fatimah mana?" Rio memberikan kode kepada Ratih, Ratih pun mengangguk mengerti.
Ratih langsung menyuruh Rio untuk membawa ke ruang VVIP. Toh Rayyan gak papa, mungkin hanya sok berat dan stres berat. Makanya mentalnya gak kuat dan berakhir seperti ini.
“Bisa bicara sebentar?” Tanya Ratih, Rio tak menjawab, namun ia menganggukkan kepalanya. Lalu Rio ikut langkah Ratih menuju ruangannya.
Sebelum masuk, Rio memastikan dulu ruangan itu aman, takutnya nanti Ratih menanyakan sesuatu yang sifatnya rahasia. Rio mengambil hpnya dan menelusuri ruangan itu, takutnya ada cctv tersembunyi atau penyadap suara, biasanya jika ada, maka akan terdeteksi lewat aplikasi yang sudah ia pasang di hpnya.
Setelah memastikan aman, barulah Rio menutup pintunya dengan hati hati dan menguncinya dari dalam.
“Jangan takut, di sini aman. Lagian ini ruangan kedap suara, jadi tak akan ada yang mendengar suara kita,” tutur Ratih yang seakan tau apa yang ada dalam fikiran Rio.
“Kenapa Rayyan seperti ini?” Tanya Ratih sambil duduk di kursinya. Rio pun juga duduk di kursi yang ada di depan meja yang berhadapan dengan langsung dengan Ratih.
“Mension Rayyan kebakaran?”
__ADS_1
“Hah, kok bias?”
“Ini adalah rencana aku, Fatimah dan Alfian.”
“Tapi Fatimah gak papa, kan?”
“Dia gak papa, sekarang dia dalam perjalanan menuju Negara Y.”
“Oh syukurlah, kok bisa ada ide bikin kebakaran gitu?”
“Ya itu ide aku dan Alfian, sedangkan Fatimah, ternyata dia mengetahui ada ruang rahasia di sana. Akhirnya bikinlah adegan itu, agar Fatimah bisa kabur dan yang di kamar itu bukanlah Fatimah melainkan jenazah orang lain.”
“Astaga, mensionnya gimana sekarang?”
“Sudah padam apinya, tapi 85% terbakar semua. Tapi masalah mension, aku tidak terlalu khawatir juga sih, toh Rayyan kaya, dia bisa bikin mension lebih dari seratus mension juga dia sanggup. Yang bikin dia sedih, karena mengira Fatimah yang meninggal karena kebakaran terlebih Fatimah kan lagi hamil.”
“Tapi apa kamu yakin, Fatimah akan aman?”
“InsyaAllah ,aku yakin sekali.”
“Sebenarnya … “
“Ada apa, Rio? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?” tanyanya.
“Rayyan tadi mengatakan jika dia pisah rumah, bukan karena benci pada Fatimah melainkan karena ia tak ingin memukuli Fatimah karena setiap melihat Fatimah, dia itu seperti ingat masa lalunya, hingga tanpa sadar ingin menyakiti Fatimah terus untuk melampiaskan emosinya. Makanya dia milih tinggal di apart agar tidak lagi menyakiti Fatimah terus menerus. Dia juga sebenarnya sudah mau berdamai dengan masa lalunya, karena Rayyan ingin menjadi manusia normal seperti lainnya. BAhkan tanpa sepengetahuan kita semua, Rayyan sudah mau berkonsultasi dengan psikolog. Jujur, aku baru tau ini setelah tadi Rayyan mengungkapkan isi hatinya. Mungkin Rayyan sebenarnya sudah mencintai Fatimah, makanya dia mau berusaha menyembuhkan dirinya sendiri dan mau berobat. Tapi sayangnya, dia telat. Karena kenyataanya dia mau melakukan itu, di saat Fatimah sudah menyerah dan memilih untuk pergi bersama janin yang ada dalam kandungannya.”
“Iya, biarlah ini menjadi pelajaran untuk Rayyan, agar dia bisa menyesali apa yang sudah dia lakukan selama ini. Jangan sampai di masa depan, dia mengulangi kesalahan yang sama di saat Fatimah sudah kembali lagi sama dia. Biarkan Rayyan menyesalinya sampai ke dasar hatinya yang paling dalam, anggaplah ini hukuman untuk RAyyan atas apa yang ia lakukan.”
“Kamu benar. “
“Aku gak tega sama dia, tapi aku jauh lebih gak tega jika missal Fatimah terus mendapatkan siksaan darinya.”
“Hmm … terus gimana, setelah ini, Rayyan akan tinggal di mana?”
__ADS_1
“Dia kan masih ada mension lain, dia juga ada apart, dia ada Villa, dia punya hotel, apa yang perlu di risaukan. Jika mensionnya di mana-mana, ia bahkan tinggal milih mau tinggal di mension yang mana. Emang dia kita, yang mension sampai punya puluhan di sini, belum di luar negeri.”
“Haha iya juga sih. Semiskin miskinnya dia pun, masih tetap lebih kaya dia kan dari pada kita.”
“Nah itu kamu tau, harta dia gak akan habis tujuh turunan.”
“Betul, walaupun dia gak kerja pun, tetap perbulannya dia menghasilkan banyak uang, bahkan uangnya beribu ribu kali lipat dari kita, jadi apa yang perlu kita khawatirkan, jika semuanya masih baik-baik aja, mungkin kehilangan satu mension, seperti dia kehilangan uang sepuluh ribu aja, beda cerita misal mension kita yang kebakaran, mungkin kita akan nangis tujuh hari tujuh malam.”
“Iya hehe.”
Tanpa sadar, hubungan Rio dan Ratih semakin akrab. Rio juga merasa beban dia seakan menghilang, jika kemaren ia kefikiran terus sama Fatimah, sekarang ia sudah lega karena Fatimah sudah di tempatkan di tempat yang aman, ia tak lagi merasa takut dan khawatir kalau Rayyan akan menyiksa Fatimah lagi. Rio benar-benar merasakan beban hidupnya seakan berkurang drastis.
“Terus Pak Han dan para ART yang lainnya gimana, mereka aman?”
“Aman dong, semuanya sudah diperkirakan. Jadi gak ada korban jiwa, kecuali jenazah itu.”
“Tapi bagaimana dengan penjaga bayangan Rayyan.”
“Kayaknya mereka gak akan tau, karena aku dan Fatimah melakukannya serapi mungkin, mustahil jika masih ketahuan.”
“Syukurlah. Terus masalah mension itu apakah mau di jadikan bangkai gitu aja, atau mau di bangun lagi?”
“Itu mah urusan Rayyan, aku gak mau ikut campur, bukan ranahku di sana. Kecuali emang aku mendapatkan tugas untuk memperbaikinya, baru aku akan cari tukang buat benerin doang. Udah itu aja. Selama ada uang mah beres, tinggal tunjuk, nanti pasti juga pasti kembali seperti semula, atau bisa jadi malah jauh lebih megah dari yang kemaren.”
“IYa juga sih, tapi masalah Pak Han dan para ART lainnya, apakah mereka akan kehilangan pekerjaan?”
“Mereka sih bilangnya mau mengundurkan diri aja, soalnya ini dijadikan kesemptan buat mereka bisa lepas dari Rayyan. Karena sejujurnya mereka sudah lama ingin berhenti tapi gak berani karena, tau sendirilah pernjanjian kontraknya gimana? Kalau Pak Han sendiri, mungkin dia akan pulang kampong, dia kan sudah beli rumah di kampong dan sawah berhektar-hektar, tak ada yang perlu di khawatirkan.”
“Hmm … terus siapa yang akan merawat Rayyan?”
“Pasti jatuhnya aku, tau sendirilah, aku selain sahabat, juga merangkap sebagai asisten pribadi dan juga tangan kanannya. Hanya aku orang kepercayaan dia, bahkan dia jauh lebih percaya ke aku, dari pada keluarga dari pihak mamanya atau dari pihak papanya.”
“Betul kamu. Jadi semuanya aman ya.”
__ADS_1
“Aman banget. Kita bisa tenang, dan cukup mengurus Rayyan aja.”
Mereka terus mengobrol hingga sejam lebih, baru setelah itu, Rio kembali ke ruangan Rayyan, takutnya Rayyan sudah sadar. Lagian Ratih juga siap siap untuk pulang. Ia sudah mengantuk banget, setelah semalaman ia kerja penuh, apalagi tengah malam tadi ada korban kecelakaan yang cukup parah, hingga ia harus mengoperasi saat malam hari.