
Saat Fatimah tau dirinya tengah hamil saat ini, Fatimah tidak mengidam layaknya perempuan lain. Fatimah malah lebih banyak berdoa dan mengaji. Hari-harinya ia habisnya dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dan membaca kisah-kisah nabi.
Sedangkan Rayyan, kadang ia memilih kerja di rumah untuk menemani Fatimah. Tapi jika ada meeting penting dan harus bertemu dengan beberapa client, mau gak mau Rayyan terpaksa harus pergi meninggalkan Fatimah sendiri di kamar. Namun, Rayyan sudah mewanti-wanti semua pelayan agar jangan sampai membuat Fatimah kecapean dan apapun kemauan Fatimah harus segera dituruti.
Sayangnya, Fatimah tidak ingin apa-apa. Fatimah hanya makan buah sehari tiga kali, untuk mual, sudah sedikit berkurang.
Tapi Fatimah lebih banyak makan kurma, sama minum air madu asli. Rasanya membuat perut terasa lega. Sedangkan untuk buah yang lain, hanya sedikit yang ia makan, karena sudah kenyang mengkonsumsi kurma.
Namun entah kenapa tiba-tiba pagi ini, Fatimah ingin sekali makan bubur ketan dan bubur kacang ijo. Tantu keinginan Fatimah langsung di kabulkan saat itu juga. Hanya dalam waktu setengah jam, Fatimah sudah bisa menikmati bubur yang ia inginkan.
Sedangkan Rayyan, tidak seperti biasanya sudah beberapa hari ini, ia suka makan cilok, bakso, mie ayam, nasi Padang, nasi pecel, nasi sama ikan asin, sambal + lalapan timun, nasi goreng, dan jajanan tradisional seperti dadar isi pisang coklat, bikang yang masih hangat, terang bulan mini, dan kue lapis serta kucur.
Bahkan jika keinginannya tidak segera di penuhi, Rayyan akan langsung berwajah datar dan seakan tengah marah kepada siapa saja yang ia temui.
Jadi saat Rayyan bilang ingin sesuatu, dua cheft yang bekerja di di rumahnya sudah siap dengan peralatan dan bahan yang akan mereka masak, sayangnya Rayyan malah lebih memilih makan makanan yang di jual di pasar, dan itupun harus Rio sendiri yang membelinya secara langsung ke pasar tradisional.
__ADS_1
Rio bisa apa jika Rayyan sudah memerintah dirinya, tentu Rio akan mengabulkan tanpa bisa protes.
Namun, yang bikin semua orang tercengang adalah sifat Rayyan yang seperti anak kecil, kadang dia akan merengek pada Fatimah, seperti ingin di elus, ingin di peluk, ingin terus berdekatan hingga membuat Fatimah hanya bisa menghela nafas. Namun apapun sikap suaminya, Fatimah akan terus mencintainya hingga akhir hayat
Karena walau bagaimanapun, Rayyan adalah suami serta Ayah dari calon anak anaknya.
"Mas," panggil Fatimah.
"Iya, Sayang," jawab Rayyan sambil menoleh ke arah Fatimah.
"Besok kan hari Minggu, bolehkah jika aku minta di antar ke suatu tempat."
"Ke kampung Xx."
"Dimana itu?" tanya Rayyan yang belum tau tentang kampung itu.
__ADS_1
Fatimah pun menjelaskannya.
"Kamu ada saudara di sana?" tanya Rayyan.
"Enggak."
"Terus?"
"Aku hanya ingin kesana aja, apa boleh?"
"Boleh, apapun buat kamu boleh."
"Terimakasih ya, Mas."
"Iya, Sayang."
__ADS_1
Fatimah cukup bahagia karena Rayya mau mengabulkan permintaannya. Besok dia ingin pergi ke kampung tempat kelahirannya. Kampung yang mempunyai banyak sejarah, tentang kebahagiaannya saat Ayahnya masih ada, hingga penderitaannya setelah Ayahnya meninggal dan setelah Ibunya salah memilih suami.
Ia bahkan gak sabar untuk menunggu hari esok tiba, ia ingin tau apakah rumah itu ada, dan apakah ada tanda-tanda untuk mencari tau tentang Ibunya. Karena jujur saja, Fatimah sangat merindukan Ibunya.