
Sore hari, jam empat sore lebih tepatnya. Tiba-tiba, Tuan Ray menyudahi pekerjaannya dan mengajak Asisten Rio untuk pulang lebih awal. Asisten Rio pun kaget, karena gak biasanya Tuan Ray pulang jam segini. Padahal pekerjaannya juga masih menumpuk, tapi Tuan Ray seakan tidak memperdulikannya.
Saat mereka sudah berada di dalam mobil, lalu Tuan Ray buka suara.
"Pergi ke rumah sakit!" ucapnya membuat Asisten Rio bingung, rumah sakit mana yang di maksud.
"Rumah sakit mana, Tuan?" tanyanya sopan..
"Tempat Fatimah dirawat," jawabnya membuat Asisten Rio terdiam, tak menyangka jika Tuan Ray mau menjenguk wanita yang sudah ia sakiti berkali-kali itu.
Lalu, tanpa bertanya lagi, Asisten Rio pun segera menyetir menuju rumah sakit tempat Fatimah di rawat. Tak butuh waktu lama hanya sekitar empat puluh lima menit, mereka pun sudah sampai di depan rumah sakit.
__ADS_1
Setelah memarkirkan mobilnya, Tuan Ray dan Asisten Rio pun segera turun dari mobil dan memasuki rumah sakit. Melihat Tuan Ray, mereka semua pada menyingkir, siapa sih yang tidak tau Tuan Ray, mungkin hanya orang bodoh yang tidak pernah nonton tivi atau main sosial media.
Namun yang bikin takut dan membuat mereka menyingkir, adalah wajah tampan Ray yang datar, tanpa ekspresi, bahkan terkesan menakutkan.
Seakan sudah tau, ruang rawatnya di mana. Tuan Ray tanpa bertanya, langsung pergi menuju lantai dua, ruang VVIP, nomer 5. Ya, Fatimah selalu mendapatkan ruang VVIP, begitupun Bibi Aisyah, namun yang membayar kali ini bukan lagi Dokter Ratih, melainkan Tuan Ray. Dia yang diam-diam sudah konfirmasi tempat mereka di rawat dan melakukan pembayaran secara online. Bahkan diam-diam juga, Tuan Ray sudah mengganti dua kali lipat uang yang dulu Dokter Ratih keluarkan buat bayar Fatimah saat masuk rumah sakit enam bulan lalu.
Saat sampai di depan pintu, Tuan Ray langsung membuka pintu begitu saja, membuat Dokter Ratih, Mbak Nana dan Bibi Aisyah pun terbelalak kaget, tak menyangka jika Tuan Ray sekarang ada di hadapan mereka.
Dokter Ratih yang melihat hal itu pun langsung fokus menatap ke arah Fatimah.
"Tarik nafas lalu hembuskan perlahan, lalu ulangi sampai kamu merasa mendingan, jangan lupa ucap istighfar berulang-ulang," tutur Dokter Ratih. Mbak Nana dan Bibi Aisyah yang tadi menatap ke arah Tuan Ray dan Asisten Noah pun kini fokus menatap ke arah Fatimah.
__ADS_1
Setelah Fatimah tak lagi gemeteran, barulah Tuan Ray buka suara.
"Keluar kalian semua!" ucapnya memberi perintah.
"Ray, Fatimah baru aja bebas dari maut. Tolong kamu jangan siksa dia lagi," pinta Dokter Ratih memohon.
"KELUAR!" teriaknya membuat Dokter Ratih ketakutan. Asisten Rio yang menyadari hal itu pun langsung menyuruh Ratih dan Nana keluar dari sana. Bahkan Bibi Aisyah pun juga ikut di keluarkan dari ruangan itu. Bibi Aisyah menatap Fatimah yang terlihat ketakutan, lalu melihat wajah Ray dengan tatapan kecewa dan juga marah. Namun ia memilih diam dan juga pergi dari sana dengan kursi roda yang di dorong oleh Asisten Rio.
Kini hanya ada Tuan Ray dan Fatimah saja di ruangan itu. Pintu pun juga tertutup rapat, sehingga mereka tidak akan tau apa yang mereka lakukan di dalam. Namun jika sampai Fatimah berteriak keras, maka orang lain bisa mendengarnya dan jika itu terjadi, mungkin itu tanda sinyal bahaya. Maka Dokter Ratih dan Mbak Nana akan mendobrak pintu itu dan melawan Ray yang ada di dalam, tak peduli apapun yang Tuan Ray lakukan, tapi mereka tidak akan diam saja, jika sampai mereka mendengar Fatimah berteriak kesakitan.
Asisten Rio sendiri, ia memilih berdiri di depan pintu dan seakan menjaga pintu itu agar tidak ada yang masuk, walaupun dalam hati, Asisten Rio juga sedikit khawatir, takut jika Fatimah di dalam dia apa-apain oleh majikannya itu.
__ADS_1