
Jam tujuh malam, Bibi Aisyah mengetuk pintu kamar Fatimah, Fatimah yang baru selesai sholat isya pun segera membuka dan melipat mukenahnya dan berjalan ke arah pintu. Ia membuka pintu itu dan melihat Bibi Aisyah berdiri di depan pintunya.
"Ada apa, Bi?" tanyanya dengan kepala yang menongol di luar pintu sedangkan badannya masih di dalam.
"Sudah waktunya makan, ayo keluar, makan bareng Bibi," ajaknya namun Fatimah menggelengkan kepalanya.
"Aku masih kenyang, Bi," sahutnya berbohong. Padahal ia hanya malu aja keluar dari kamar dengan baju yang kurang bahan.
Seperti mengerti apa yang ada dalam fikiran Fatimah, Bibi Aisyah pun menawarkan untuk membawa makanan ke dalam kamar namun Fatimah menolaknya karena tak ingin merepotkan Bibi Aisyah.
__ADS_1
Namun Bibi Aisyah bersikeras akan membawanya, karena ia tak ingin Fatimah sakit lagi karena telat makan. Bibi Aisyah segera turun menuju dapur dan mengambil beberapa makanan dan minuman lalu membawanya ke kamar Fatimah.
Melihat hal itu, Fatimah pun terharu, berkali-kali ia mengucapkan terima kasih kepada Bibi Aisyah. Bibi Aisyah pun tersenyum menganggukkan kepala, lalu ia turun lagi dan makan bersama ART lainnya.
Fatimah menutup pintunya lagi dan menguncinya dari dalam, ia tak ingin ada orang masuk sembarangan. Ia malu jika ketahuan memakai pakaian seperti pe-lacur.
Melihat makanan yang ada di hadapannya, Fatimah pun cukup tergiur, ia mencuci tangannya di wastafel dan makan menggunakan tangan sedangkan sendok dan garbunya ia biarkan begitu saja.
Setelah selesai makan, ia mencuci piring dan gelasnya wastafel, lalu menaruhnya di atas meja. Biar nanti malam ia yang akan menaruh di dapur jika orang-orang sudah pada tidur.
__ADS_1
Selesai makan, Fatimah hanya duduk diam di lantai, ia bingung harus berbuat apa.
"Ibu, Ibu lagi apa sekarang? Aku senang saat Mbak Nana mengatakan jika Ibu kini di rawat oleh keluarganya Ibu. Aku harap, Ibu baik-baik aja di sana. Tunggu aku pulang lalu kita akan kumpul bersama lagi," gumam Fatimah dengan linangan air mata.
"Aku kangen sama Ibu, aku juga kangen sama Ayah. Kenapa Ayah pergi meninggalkan kita, Bu. Kenapa Tuhan tega mengambil Ayah dari kehidupan kita. Andai Ayah masih hidup, mungkin kita masih bisa kumpul dan hidup bahagia. Tidak terpisahkan seperti ini, kita juga tidak perlu menderita selama bertahun-tahun." tutur Fatimah berbicara sendiri.
"Aku tidak tau, apakah aku bisa bebas dari mension ini, atau selamanya aku akan terkurung. Aku juga takut, takut jika Tuan Ray pulang dan kembali menyiksa aku. Aku takut jika dia kembali memper kosa aku, Bu. Aku takut. Ibu, Ayah ... Tak taukah kalian aku menderita di sini. Apakah Tuhan akan mendengar doa-doaku, Bu. Apakah Tuhan akan membantu aku keluar dari segala derita yang aku rasakan. Aku gak minta yang aneh-aneh, aku cuma ingin hidup bahagia bersama Ibu, hidup dengan tenang. Tidak perlu hidup mewah, bisa makan tanpa ada hutang sana sini pun aku sudah lega. Aku ingin hidup berdua sama Ibu, tanpa ada ayah tiri atau siapapun." gumam Fatimah, ia menangis sambil memeluk lututnya. Dinginnya lantai tidak berpengaruh padanya. Ia sudah terbiasa akan hal itu.
"Ayah, Ibu ... maafin aku. Karena aku sudah gagal menjaga amanah kalian. Aku sudah gagal menjaga kepe-rawanan aku, aku sudah gagal. Padahal aku ingin kehormatan aku, kepe-rawanan aku di lakukan oleh suamiku saat malam pertama nanti. Namun nyatanya, kepe-rawanan aku sudah di rampas oleh orang lain. Orang yang sudah membeli aku dari Ayah tiri. Dan kini, aku pun berpakaian layaknya seorang ja-lang. Maafin aku, tapi percayalah ini bukan kemauan aku. Aku pun juga tersiksa memakainya, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak punya kuasa untuk melawan kehendak Tuan Ray. Aku harap, Ayah dan Ibu mengerti kondisi aku. Jika aku melakukan ini karena sebuah keterpaksaan." Fatimah terus bicara sendiri, hingga tanpa sadar, ia pun tertidur di lantai tanpa memakai alas apapun, hanya ada baju kurang bahan yang menempel di tubuhnya.
__ADS_1