
Saat jam pulang kerja, Arumi segera membereskan barangnya dan keluar ruangan karena malas bertemu dengan Kenan yang berbohong padanya bahwa laki-laki itu pergi makan siang dengan Celine.
Sesampainya dirumah Arumi segera merebahkan tubuhnya diranjang, namun sialnya Angga mengetuk pintu kamarnya dengan barbar seperti orang yang mengajak ribut, membuat Arumi mau tak mau membuka pintu kamarnya dengan kesal.
"Apa?!"ketus Arumi.
"Jangan galak-galak dong kakakku yang cantik"ucap Angga dengan senyum diwajahnya sambil menampilkan deretan giginya yang putih bersih dan rapih.
"Pasti ada maunya deh, apaan?"tanya Arumi yang sudah sangat hafal dengan kelakuan adiknya yang selalu ada maunya setiap berbicara manis dengannya.
"Bisa ga kak, aku tidak kuliah?"ucap Angga membuat Arumi menatap adiknya dengan tajam.
"Ga bisa! Harus kuliah!"tegas Arumi.
"Tapi kak!"
"Ga ada tapi-tapi lagi, uang jajan mau saya potong bulan ini?"ucap Arumi.
"Ngga kak, aku salah bicara tadi. Istirahatlah"ucap Angga dengan senyum dan langsung kabur dari hadapan kakaknya.
Sebenarnya hati Angga sangat ingin kuliah, tapi dia melihat kakaknya yang selama ini banting tulang untuk menghidupi kebutuhan satu keluarga ditambah Arumi masih seorang mahasiswa diluar negeri tapi masih tetap mengirim uang untuk kebutuhan mereka.
Maksud Angga hanya ingin bergantian dengan sang kakak untuk mendapatkan uang jerih payahnya untuk membuat keluarganya bahagia dan sang kakak yang semakin terlihat kurus karena lelah dan capek saat sampai rumah.
Bunyi ponsel Arumi berbunyi dan terdapat nama Sania tertera dalam nomer ponselnya, ya Sania adalah salah satu sahabatnya di masa SMA bersama dengan Fany, mereka berbagi suka dan duka bersama-sama.
"Assalamualaikum Sania"ucap Arumi dengan senang.
"..."
"Ada apa?"
"..."
"Aku ikut besok!"
"..."
"Sampai jumpa juga Sania, Assalamualaikum"
"..."
__ADS_1
Setelah balasan dari Sania akhirnya Arumi mematikan ponselnya, dan dia sangat tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama ketiga sahabatnya, itung-itung melepaskan beban dari Kenan yang menyebalkan itu.
...✴️...
Keesokan harinya, Arumi sudah bersiap untuk berangkat menemui ketiga sahabatnya dipagi hari apalagi udah sangat lama mereka tidak bertemu dan bercerita langsung panjang x lebar, mebuat Arumi begitu bersemangat dengan dandanan tipis membuat wajahnya semakin cantik dan segar.
Tok..Tok..
Bunyi ketukan pintu rumahnya dipagi hari membuat Arumi segera berjalan ke pintu rumah dan membukanya. Saat pintu rumahnya terbuka, mata Arumi membulat melihat pria tampan yang kecil berdiri didepan rumahnya dengan senyumnya yang manis.
"Hanan!"pekik Arumi dengan senang, membuat Arumi menjongkokkan tubuhnya, memeluk tubuh kecil Hanan dan menciumi wajah bocah tampan itu dengan senang.
"Kak Arumi berenti dong, Hanankan udah tampan"ucap Hanan membuat Arumi berhenti dan tersenyum pada bocah kecil itu.
"Kamu pagi-pagi gini ke rumah kakak ada apa?"tanya Arumi.
"Apa kakak lupa, katanya mau ajak aku jalan"ucap Hanan.
"Maafin kakak ya Hanan, yaudah kakak juga udah rapih, jadi ayo kita jalan"ucap Arumi menggandeng tangan kecil Hanan yang halus.
"Mari non, saya antar"ucap Pak Tono, supir keluarga Abraham yang membuat Arumi tersadar bahwa ada sosok pria paruh baya yang gagah mengantar Hanan ketempatnya.
Arumipun segera memencet nomer ponsel milik Kiara, menghubungi ibu dari Hanan untuk meminta persetujuan dari Kiara karena dia tidak tega dengan Pak Tono yang harus menunggu dirinya berkumpul dengan teman-temannya. Sekitar beberapa menit, Kiara akhirnya menyetujui keinginan Arumi untuk membawa Hanan kerumahnya seorang diri.
Arumipun membawa Hanan dengan taksi, karena kasian kalau harus melihat bicah kecil tampan kesayangannya itu kepanasan dengan matahari yang sangat terik jika disiang hari.
"Kita mau kemana kak?"tanya Hanan.
"Mau ke taman bermain"ucap Arumi dengan senyumnya.
"Asiiiikkkkk Hanan udah lama sekali ga pergi kesana"ucap Hanan dengan gembira, membuat Arumi mengusap kepala Hanan dengan lembut.
Sebenarnya hari ini tujuan Arumi itu pergi ke Mall untuk nongkrong sekaligus curhat dengan Sania dan Fany, tapi saat Arumi mengganti tempatnya dengan alasan yang sebenarnya membuat kedua sahabatnya menyetujui.
Sesampainya di taman bermain, Arumi menggandeng tangan Hanan memasuki kawasan bermain yang lumayan ramai dikunjungi oleh para wisatawan dihari libur.
"Assalamualaikum"sapa Arumi yang menemukan kedua sahabatnya didepan pintu masuk.
"Wa'alaikumsalam"ucap Sania dan Fany dengan senyum diwajahnya melihat wajah Hanan yang sangat tampan, tidak jauh beda dengan ketampanan omnya.
Hanan yang dilihatin dengan Sania dan Fany memasang wajah yang sangat dingin, bahkan saat Sania mencoba menyentuh kepala Hanan, bocah kecil itu segera mengumpat dibelakang tubuh Arumi karena tidak suka disentuh oleh sembarang orang.
__ADS_1
"Benar-benar seperti omnya"ucap Sania sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Arumi tertawa mendengar itu.
"Ini temen kak Arumi, namanya kak Sania dan kak Fany, mereka baik kok"bujuk Arumi pada Hanan, namun bocah kecil hanya menatap kedua wanita itu secara bergantian.
"Aku Sania"ucap Sania memperkenalkan dirinya sendiri pada Hanan.
"Aku Fany sahabat Arumi"ucap Fany dengan senyumnya sambil menjongkokkan tubuhnya melihat wajah Hanan yang sangat tampan.
"Oh iya kita juga sahabat om kamu loh, Om Kenan!"ucap Sania yang memberitahukan Hanan untuk tidak perlu khawatir dengan mereka.
"Tidak mungkin"ungkap Hanan dengan datar.
"Kenapa tidak mungkin?"tanya Arumi pada Hanan yang menggenggam tangannya sanagt erat.
"Karena mereka berdua seperti dua wanita menyebalkan"ucap Hanan yang membuat Arumi menahan tawanya dengan pernyataan bocah kecilnya.
"Waahhhh ternyata dia benar-benar keponakannya Kenan ya"ucap Fany yang jengkel dengan kelakuan Hanan yang sangat mirip dengan Kenan saat mereka kenal.
"Aku pikir anak kecil akan berbicara manis jika bertemu seseorang, tapi tidak dengan keponakannya Kenan yang sebelas dua belas dengan omnya"ucap Sania yang menghela nafasnya.
"Dia hanya anak kecil, ga usah dimasukkan ke dalam hati ya"ucap Arumi dengan senyum diwajahnya pada kedua sahabatnya.
"Tapi kata mama, anak kecil itu selalu berkata jujur, dan aku jujur mengatakan itu. Mereka terlihat menyebalkan"ucap Hanan yang membuat Arumi tertawa kecil karena mendengar penuturan itu.
"Sudahlah lebih baik kita masuk kedalam, dibanding berbicara dengan bocah kecil ini"ucap Fany yang mulai menggandeng tangan Sania memasuki taman bermain yang disusuli Arumi yang menggandeng tangan kecil Hanan.
"Arumi, kita mau naik apa?"tanya Sania.
"Naik bianglala"ucap Hanan dengan penuh semangat dan segera menarik tangan Arumi menuju kawasan mengantri antrian Bianglala yang cukup ramai.
*****
Jangan lupa untuk dukung novel ini terus ya! 😊
JANGAN LUPA KLIK LIKE YA! 🙏
JANGAN LUPA KLIK FAVOURITE! ❤
JANGAN LUPA KOMEN DAN VOTE YA!
TERIMA KASIH! 🤗
__ADS_1