
Setelah pergi dari rumah sakit meninggalkan Sila dengan ibunya yang kondisinya saat ini sudah membaik, Kazi memilih untuk ke kantor dibanding pulang ke rumahnya untuk beristirahat.
Sedangkan Arumi yang baru saja sampai kantor tidak melihat kedatangan abangnya yang sudah ditanyakan pada sekretaris kantor bahwa Kazi sudah tiba dikantor dan berada didalam ruangan Direktur Utama.
Namun saat Arumi membuka ruangan yang bertuliskan Direktur Utama yang kini menjadi ruang kerjanya, tidak sama sekali ditemukan batang hidung abangnya sedikitpun dituangkan.
Arumi memilih duduk bersandar dikursi besar miliknya dan meletakkan tasnya dimeja kerjanya, lalu memencet tombol yang tersambung ke telefon kantor sekretarisnya yang diluar ruangan.
Tidak berapa lama muncullah sosok perempuan yang dengan sigap masuk ke dalam ruangannya dengan pakaian yang rapih dan beberapa file yang berada dalam genggamannya.
"Ada yang saya bisa bantu bu?"tanya Nida dengan senyum diwajahnya.
"Dimana abang saya? Kata kamu, Pak Kazi udah sampai dikantor dan berada diruangan ini"ucap Arumi dengan menghelakan nafasnya.
"Mungkin Pak Kazi sedang diruang istirahat bu"ucap Nida yang membuat Arumi mengernyitkan dahinya, bingung.
Dengan sigap Nida segera berjalan dan menyentuh patung yang berada diruangan besar itu yang membuat pintu tersembunyi diruangan itu terbuka lebar.
Arumi segera beranjak dari duduknya dan melihat ruang rahasia yang berada diruangannya yang ternyata terdapat kamar besar nanmewah, matanya tertuju pada abangnya yang tidur terlelap diatas kasur.
"Kamu boleh pergi"ucap Arumi dengan dingin karena tidak suka ada perempuan lain yang mengagumi abangnya yang terlelap dalam tidur dengan wajah yang sangat tampan dan bisa dinikmati siapapun, termasuk sekretarisnya.
Perempuan dengan status sekretaris itu segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan rahasia itu, walaupun hati Nida sangat kesal diusir dengan ucapan dingin dari Arumi.
Saat melihat Nida sudah keluar dari ruang rahasia tersebut, Arumi menutup pintu kamar ruang itu dengan tombol disebelah pintu dan kembali duduk ditepi ranjang melihat wajah abangnya yang tertidur.
__ADS_1
"Baru saja aku ingin marah dengan abang karena ikut campur dalam urusanku membalas Rania, tapi melihat wajah lelah abang yang membantu aku menjaga Sila dan ibunya serta mengumpulkan bukti-bukti Rania dalam sekaligus, aku cuma mau bilang terima kasih ya bang, aku bersyukur punya abang seperti abang Kazi dan bang Kaivan yang menyayangi aku"ucap Arumi dengan deraian airmata sambil melihat wajah Kazi yang tertidur pulas diranjang besar.
Kazi yang sejak tadi Arumi masuk ke dalam ruangannya sudah membuat dirinya terbangun, namun laki-laki itu memilih untuk berpura-pura tidur, namun mendengar suara adiknya seperti menangis membuat Kazi segera membuka matanya dan langsung memeluk tubuh adiknya dengan erat.
"Kalau mau bilang terima kasih, bilang aja tapi jangan pakai tangisan ya"ucap Kazi yang masih setia memeluk Arumi diatas ranjang sambil mengusap pucuk kepala adiknya dengan lembut.
Arumi yang mendapatkan perhatian lebih dari abang kandungnya sendiripun hanya bisa menganggukkan kepalanya dalam pelukan abangnya dan menangis sejadi-jadinya karena dia baru pertama kali bisa mengandalkan laki-laki yang benar-benar bisa menyayanginya dan mengerti dirinya untuk bersandar.
Karena selama ini Arumi hanya bisa bercerita kebahagiaannya saja bersama Angga, tidak untuk berbagi kesedihan hatinya. Karena Arumi ingin bisa menjadi seorang kakak yang bisa diandalkan untuk Angga, dan Arumi bahagia dia bisa merasakan sosok abang yang benar-benar menjaganya.
...✴️...
Setelah beberapa pekerjaan yang sudah selesai dibantu dengan Kazi selesai, Arumi segera bergelayut manja ditangan abang sulungnya untuk pergi makan siang berdua.
Siapapun yang tidak mengetahui mereka, mungkin akan mengira bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang sangat romantis dikarenakan perut Arumi yang sudah terlihat membesar walaupun menggunakan pakaian kemeja yang kebesaran.
"Abang sebentar, aku mau Video Call suamiku dulu"ucap Arumi dengan senyum yang mengembang, namun panggilan itu tak kunjung diangkat oleh Kenan membuat Arumi kesal dan meletakkan pendeknya dengan asal diatas meja.
Bahkan raut wajah Arumi kini berubah menjadi bete dan sering menghelakan nafasnya saking kesalnya dengan Kenan yang tak kunjung bisa dihubungi.
"Apa kamu merindukan Kenan?"tanya Kazi.
"Tidak, tapi anakku yang merindukannya"ucap Arumi yang membuat Kazi menghelakan nafasnya mendengar jawaban adik tersayangnya itu.
'Perempuan gengsi banget sih bilang kangen doang'batin Kazi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuannya adiknya.
__ADS_1
Akhirnya Kazi memutuskan mengambil ponselnya dibalik jas miliknya, dan segera menelfon panggilan itu yang langsung terhubung oleh laki-laki yang berstatus suami adiknya itu.
"Halo, Kenan segera datang ke Kafe Rembulan sekarang, adik saya merindukanmu, saya tunggu 10menit, jika tidak sampai saya akan ganti suami untuk adik saya"ucap Kazi yang langsung segera memutuskan panggilan sepihak.
Mendengar abangnya yang menghubungi suaminya dengan seenaknya seperti itu, membuat Arumi tersenyum karena dia menang telak dan Kenan pasti akan datang menemuinya dan menemaninya makan siang hari ini.
"Makasih abang! Abang aku memang yang terbaik! Pokoknya aku akan comblangin abang dengan Sila deh nanti!"ceplos Arumi dengan senangnya.
Kazi yang sedang meminum kopi miliknyapun mendengar ucapan Arumi jadi tersedak, namun dengan sigap Arumi segera memberikan air putih yang dipesannya dikafe itu pada abangnya.
"Jadi kamu punya pikiran seperti itu?"tanya Kazi seperti menginterogasi orang dengan tatapan yang tajam dimilikinya membuat Arumi menghindar dari tatapan mata abangnya.
"Seperti apa sih bang?"tanya Arumi yang gelagapan, bingung mau menjawab seperti apa pada Kazi.
"Jadi kamu ada ide buat mendekatkan abang dengan temanmu itu?"tegas Kazi yang membuat Arumi memberanikan diri menatap wajah abangnya.
"Kalau iya kenapa? Kan abang juga masih sendiri, Aku dan bang Kaivan sudah berkeluarga, masa hanya abang yang beluman"ucap Arumi dengan santainya.
Tidak butuh waktu lama, Kenan sampai dikafe dengan wajahnya yang dipenuhi keringat karena permintaan Kazi yang membuatnya seperti orang gila berlari dari perusahaan dan mengendarai motornya untuk gampang menyalip dijalan.
"Sayang, kamu ada apa? ha.. ha.. ha.."ucap Kenan yang segera duduk disamping Arumi dengan ngos-ngosan karena diancam oleh abang iparnya yang sangat menyeramkan.
"Gapapa, aku merindukanmu"ucap Arumi yang tersenyum dan langsung berhambur kedalam pelukan Kenan yang duduk disampingnya.
'Tadi katanya anaknya yang merindukan Kenan, kini pas ketemu omongannya beda lagi'batin Kazi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya.
__ADS_1
"Sayang kalau aku comblangin bang Kazi dengan Sila, kamu dukung aku ga?"tanya Arumi yang membuat Kenan tersenyum penuh arti pada Kazi, yang membuat putra sulung keluarga Gerald menghelakan nafasnya melihat kelakuan suami istri menyebalkan itu.
"Tentu saja aku selalu dukung kamu sayang"ucap Kenan yang tersenyum puas karena gara-gara Kazi, dirinya harus berlarian setelah selesai rapat diperusahaan Abraham seperti orang gila hingga naik motor dijalan panas-panasan dan penuh keringat.