
Setelah makan malam selesai, Arumi melihat jam tangan yang melingkar dilengan tangannya bahwa masih cukup waktu untuk mengobrol dengan keluarga kandungnya yang sebenarnya.
"Pa, Ma boleh aku tau kenapa aku hilang?"tanya Arumi pada kedua orangtuanya, membuat mama Hilya menjadi diam seketika.
"Kita baru ketemu Arumi, bisa bahas lain waktu ga?"pinta Kaivan pada adiknya.
"Tapi aku penasaran bang"ucap Arumi pelan sambil menundukkan wajahnya.
"Arumi"ucap Kaivan yang membuat Arumi mengangkat kepalanya melihat wajah abangnya.
"Yaudah aku mau pulang aja"ucap Arumi yang beranjak dari duduknya.
"Duduklah Arumi, mama akan jelasin ke kamu"ucap Hilya yang mencegah kepergian putrinya untuk ke dua kalinya, membuat Arumi kembali duduk dikursinya.
"Tapi Ma"ucap Kaivan yang takut mamanya akan bersedih kembali.
"Adikmu berhak tau Kaivan"ucap Kala pada putranya.
"Jadi begini saat itu bisnis Papamu sedang terpuruk dengan utang yang melilit Papa dan Mama, sedangkan pernikahan Mama dan Papa sama sekali tidak direstui oleh Papanya papa kalian, yaitu kakek Hans"ucap Hilya dengan airmata yang membasahi pipinya.
"Ma cukup"ucap Kaivan yang tidak tega melihat mamanya mengingat masa lalu pahit itu kembali.
"Kaivan biarkan adikmu tau semua kenyataan yang harus diterimanya dengan lapang dada"ucap Kala dengan suara getir karena tidak rela juga menyakiti hati putri satu-satunya itu.
"Saat kamu lahir, mama sedang mengajakmu jalan tapi ada segerombolan orang yang membawamu entah kemana, setelah kehilanganmu Mama dihina dengan berbagai macam kata-kata karena tidak becus menjagamu bahkan Papa disuruh menceraikan Mama, untungnya Papa tidak melakukan itu"ucap Hilya yang menangis dalam pelukan suaminya.
"Jadi Hans Bimo Gerald itu adalah kakekku?"tanya Arumi yang mengetahui nama serta orangnya karena pernah menemui laki-laki paruh baya itu yang ditolongnya saat menuju kantor.
"Iyaa dia kakek, yang menculik dan membuangmu adalah dia, tapi dia yang membuat mama seolah-olah paling bersalah"ucap Kaivan yang membuat Arumi menangis karena kelahirannya sama sekali tidak diharapkan oleh sang kakek.
Kaivan yang melihat Arumi menangis begitu pilu dengan sigap memeluk adiknya dan mengusap-usap pucuk kepala Arumi dengan lembut untuk membuat hati wanita itu bisa menjadi tenang.
"Aku mau pulang"ucap Arumi yang masih menangis dalam pelukan Kaivan.
"Ma, Pa aku mau mengantar Arumi pulang dulu ya"ucap Kaivan.
__ADS_1
"Tapi ini rumahnya dia"ucap Hilya yang tidak rela untuk putrinya keluar dari rumahnya.
"Ma biarkan Kaivan mengantar Arumi balik ke rumah keluarga yang sudah membesarkannya, dia butuh waktu"ucap Kala dengan bijak, walaupun hatinya juga ingin putrinya tinggal dirumah ini.
"Tapi pa"bantah Hilya.
"Ma, biarkan Arumi berfikiran jernih dulu ya"ucap Kala yang membuat Hilya melepaskan pelukan tubuhnya dari sang suami.
"Arumi, sebelum pulang mama mau peluk kamu dulu boleh?"ucap Hilya membuat Arumi melepaskan pelukan dari Kaivan dan berjalan ke mamanya dengan menundukkan wajahnya.
Hilyapun memeluk tubuh Arumi dengan sangat erat, yang diikuti Kala memeluk tubuh istri dan putri yang sangat dirindukan dalam keluarga mereka, membuat Kaivan ikut gabung dalam pelukan keluarga itu.
"Udah ya Pa, Ma"ucap Arumi yang melepaskan pelukannya, tidak lupa juga dia mencium punggung tangan kedua orangtuanya dan menggandeng tangan Kaivan keluar dari rumah kediaman Gerald yang diantar kedua orangtuanya sampai depan rumah.
"Assalamualaikum"ucap Arumi dan Kaivan berbarengan.
"Wa'alaikumsalam"ucap kedua orangtuanya yang melihat kedua anaknya naik ke dalam mobil dan keluar dari kediaman rumah Gerald.
...✴️...
"Arumi maafin abang ya, kamu hidup dalam kesusahan selama ini"ucap Kaivan yang memegang kedua tangan adiknya dengan erat.
"Ga apa kok bang, aku bahagia sekarang punya abang seorang Kaivan dan memiliki adik seribet Angga"ucap Arumi dengan tawanya membuat Kaivan kembali tersenyum.
"Kakak!"panggil Angga yang berlari keluar melihat kedatangan kakaknya bersama dengan Kaivan yang mungkin bisa kapan saja mengambil kakaknya tiba-tiba. "Ayo kita masuk kak!"ajaknya.
"Kamu ga sopan ya, ga boleh gitu"ucap Arumi yang melihat Angga menarik pergelangan tangannya untuk menjauh dari Kaivan.
"Dia pasti mau merebut kakak dariku, lebih baik anda pulang sekarang juga!"ketus Angga dengan wajah tatapan tidak suka pada Kaivan.
"Adikmu ternyata sangat over protektif ya padamu"ucap Kaivan dengan tawanya. "Hey bocah! Aku bilang jagain Arumi ya. Kalo kamu buat dia menangis, aku akan bawa kakakmu ini"ucapnya dengan serius membuat Angga semakin mempererat pegangan tangannya pada sang kakak.
"Pertama aku bukan bocah! Kedua aku tidak akan membiarkanmu membawa kakakku!"ketus Angga pada Kaivan.
Arumi yang melihat kedua laki-laki yang sangat menyayanginya itu ributpun hanya tersenyum karena dia bisa memiliki orang-orang yang sangat tulus disekitarnya, Arumipun mengusap pucuk kepala Angga dengan sayang walaupun adik laki-lakinya itu lebih tinggi darinya.
__ADS_1
"Jangan seperti Angga, biar bagaimanapun dia abangku, mulai sekarang panggil laki-laki ini juga abang ya"pinta Arumi pada adik laki-lakinya.
"Ga mau! Kakakku cuma satu yaitu kamu!"ketus Angga yang menolak permintaan Arumi untuk mengakui Kaivan sebagai abangnya Arumi.
"Angga, abang Kaivan memiliki banyak sekali game loh dirumah! Kamu bisa main kapanpun kalo kamu menganggap dia sebagai abangmu juga!"bujuk Arumi dengan game karena menurutnga Angga sangat menyukai berbagai jenis macam game.
"Iyaa banyak sekali jenisnya, kamu bisa main ke rumah bersama kakakmu itupun kalau kamu mau?"ucap Kaivan mengulum senyumnya melihat wajah Angga yang sangat gengsi untuk berdamai dengannya dalam memperebutkan Arumi.
"Akan aku pikirkan"ucap Angga. "Kalau begitu ayo kak kita masuk ke rumah, ini udah malam tidak baik diluar rumah"ucapnya.
"Yaudah kamu masuk sana, abang langsung pulang ya"ucap Kaivan, Arumi langsung menggapai tangan kanan abangnya dan mencium punggung tangan abangnya sekilas.
"Yaudah, Assalamualaikum"ucap Kaivan.
"Wa'alaiakumsalam"ucap Arumi, "Kamu ga balas salam dari abang Kaivan, kan kamu tau mengucapkan salam itu sunah, menjawabnya itu wajib"
"Wa'alaikumsalam"ucap Angga sambil melirik Arumi dengan wajah sebalnya karena kakaknya sudah mulai akrab dengan Kaivan.
"Angga, Ibu sama Ayah kemana?"tanya Arumi yang sama sekali tidak melihat kedua orangtuanya saat masuk ke dalam rumah.
"Oh Ayah sama Ibu udah tidur soalnya mereka kelelahan abis jualan dipasar kak"ucap Angga.
"Kamu udah makan?"tanya Arumi pada adiknya.
"Belum kak"ucap Angga.
"Nih kakak bawain makan untuk kamu"ucap Arumi yang menuju dapur untuk menaruh beberapa lauk di mangkuk buat Angga mengisi perutnya karena belum makan malam.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE YA! 🙏
JANGAN LUPA KLIK FAVOURITE! ❤
JANGAN LUPA KOMEN DAN VOTE YA!
__ADS_1
TERIMA KASIH! 🤗