
Arumi berlari keluar dari apartemen Aurel menunggu seseorang yang ditunggunya saat dia memutuskan panggilan telfon beberapa saat lalu, dan benar saja mobil sport yang sangat dikenalinya itu berdiri tepat dihadapannya.
"Masuklah"ucap Kaivan yang tersenyum pada Arumi.
"Terima kasih"ucap Arumi dengan senyum diwajahnya yang masuk ke dalam mobil sport berwarna hitam itu dan duduk tepat disebelah Kaivan.
"Adikku yang cantik ini tumben mau ketemu abang, kangen ya?"tanya Kaivan dengan guyonannya menghapuskan kediaman antara dirinya dan Arumi.
"Aku mau es krim"ucap Arumi.
"Ini udah malam nanti perutmu sakit"ucap Kaivan.
"Belikan aku es krim atau aku turun"ancam Arumi.
"Baiklah tuan putri"ucap Kaivan yang akhirnya mengendarai mobilnya menempuh jalan untuk pergi ke toko es krim yang menurutnya enak.
Tidak butuh waktu lama, Kaivan memarkirkan mobilnya tepat di toko es krim yang menjual beraneka ragam makanan manis yang sangat disukai anak-anak.
Kaivan dan Arumipun turun dari mobil dan masuk ke toko es krim itu bersamaan, namun saat Arumi masuk toko itu terlihat sangat sepi membuat wanita itu melirik ke arah Kaivan yang hanya fokus berjalan ke tempat antrian.
"Adikku mau pesan apa?"tanya Kaivan yang sangat senang memanggil Arumi dengan sebutan adik dan bisa berjalan bersama dengan adiknya.
"Rasa strawberry"ucap Arumi dengan senyum diwajahnya.
"Yang spesial yaa mbak"ucap Kaivan yang menarik tangan Arumi untuk duduk ditoko dekat jendela yang berhadapan dengan jalan.
Tidak butuh waktu lama, seorang pelayan perempuan mengantarkan es krim rasa strawberry itu dimeja Arumi dalam ukuran lumayan besar.
"Enak!"ucap Arumi dengan senyum diwajahnya. "Mau?"tawarnya yang menyodorkan sendok berisikan es krim itu pada Kaivan yang disambut laki-laki itu dengan senang hati.
"Iya enak"ucap Kaivan dengan tawanya melihat adiknya yang bahagia memakan es krim yang diinginkannya.
"Terima kasih ya abang"ucap Arumi dengan senyumnya.
"Kamu panggil aku apa? Coba ulang lagi?"pinta Kaivan yang senang mendengar Arumi memanggilnya dengan sebutan abang.
"Abang, abang, abang. Puas?!"ucap Arumi dengan tawanya.
"Sangat puas, kamu tinggal bilang apapun yang kamu inginkan pasti abang belikan"ucap Kaivan.
__ADS_1
"Saat ini aku gamau apa-apa, aku punya abang yang perhatian aja udah lebih dari cukup"ucap Arumi yang senang dengan sikap Kaivan yang menyayanginya sekali.
"Aku sangat senang memiliki adik dan memanggilmu adik"ucap Kaivan dengan tulus.
"Terserah abang ajalah"ucap Arumi tertawa mendengar ucapan Kaivan yang menurutnya sangat konyol.
"Apa kamu mau bertemu dengan papa dan mama?"tanya Kaivan.
"Aku belum siap bang, bagaimana kalau papa sama mama tidak menerima kehadiranku?"ucap Arumi dengan ragu.
"Papa dan mama pasti sangat senang bertemu denganmu dan tau bahwa putri mereka tumbuh sebagai gadis yang cantik"ucap Kaivan.
"Dengan syarat?"ucap Arumi.
"Apa?"
"Jangan memaksaku untuk tinggal"ucap Arumi yang membuat hati kecil Kaivan merasakan kecewa karena adiknya masih belum bisa sepenuhnya mau menerima kehadiran keluarga yang sesungguhnya.
"Baiklah jika itu permintaanmu"ucap Kaivan yang menyetujui keinginan adiknya, karena sudah mau bertemu dengan kedua orangtuanya saja itu sudah cukup sebagai perkembangan yang luar biasa untuk hubungan keluarga mereka.
"Habiskanlah, setelah itu kita pulang ke rumah"ucap Kaivan yang tersenyum melihat Arumi yang senang memakan es krim strawberry miliknya.
Setelah menghabiskan es krim, Kaivan membawa Arumi pergi ke kediaman keluarga Gerald berada, tempat dimana seharusnya Arumi berada dan berkumpul bersama mereka.
"Wah besar sekali!"gumam Arumi, Kaivan yang mendengar itu hanya mampu tersenyum melihat wajah adiknya yang mengagumi rumah besar milik keluarga sendiri.
"Ini rumah kamu juga dek!"ucap Kaivan dengan senyum diwajahnya.
Tepat sekali makan malam, Kaivan segera memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah mereka karena dia sangat tidak sabar untuk memberikan kejutan atas kehadiran Arumi dikeluarga mereka.
"Arumi, abang minta kamu tunggu didulu disini ya. Abang akan masuk duluan mau kasih kejutan buat papa dan mama gitu"ucap Kaivan pada Arumi.
"Iya, aku tunggu sini"ucap Arumi yang membuat Kaivan berjalan masuk keruang makan yang terdapat kedua orangtuanya sedang duduk untuk menyantap makan malam hari ini.
"Assalamualaikum"ucap Kaivan yang langsung mencium kedua tangan orangtuanya secara bergantian dengan senyum diwajahnya.
"Ada apa nih putra mama kelihatannya bahagia banget ya pa?"ucap Hilya yang tersenyum melihat senyum putranya yang terlihat lebih leluasa.
"Iya kamu kenapa Van?"tanya Kala pada putranya yang tidak biasa-biasanya pulang tersenyum seperti orang tidak waras.
"Aku punya kejutan untuk Papa dan Mama, aku membawa seseorang yang aku sangat sayangi disini sekarang juga"ucap Kaivan.
__ADS_1
"Siapa?"tanya Hilya.
"Adikku masuk!"panggil Kaivan dengan suara keras.
Arumi yang merasa dipanggilpun datang dengan senyum diwajahnya yang tampak ragu karena takut tidak diterima dalam keluarganya, sekaligus hatinya tidak karuan saat melihat kedua orangtua kandungnya menatapnya dengan berkaca-kaca.
Hilya yang melihat kedatangan Arumipun tak kuasa menahan airmatanya, bahkan dia tumpahkan airmatanya dan berjalan ke arah wanita itu dan memeluk tubuh Arumi dengan sangat erat.
"Putriku! Kamu putriku?"tanya Hilya yang memeluk tubuh Arumi dengan sangat erat membuat Arumi menangis pecah dalam pelukan ibu kandungnya. "Pa ini putri kita, pa"ucapnya.
"Sayang papa"ucap Kala yang memeluk kedua wanita yang dicintainya. "Maafkan papa ya yang tidak becus menjagamu dan mamamu"sesal Kala yang mengingatkan akan kejadian yang memilukan itu, yang mengakibatkan hilangnya putri kecilnya.
"Sudah-sudah pelukannya, aku dan adik laper nih belum makan malam"ucap Kaivan yang menarik Arumi dari pelukan kedua orangtuanya karena dia tidak ingin orangtuanya dan adiknya berlarut-larut menangis dan mengingat kejadian lalu.
"Dasar anak nakal! bukannya bilang kamu membawa adikmu, mamakan bisa memasak makanan kesukaan adikmu atau membeli makanan yang mewah!"omel Hilya yang menjewer telinga putra satu-satunya.
"Gapapa kok mama, Arumi suka makanan apapun"ucap Arumi yang membuat Hilya melepaskan tangannya dari telinga putranya.
"Kamu memanggilku mama?"tanya Hilya yang menggandeng Arumi dengan sayang berjalan menuju meja makan.
"Iyaa mama"ucap Arumi yang tersenyum.
Hilya dan Kalapun tidak kalah perhatian dimeja makan, mereka menyiapkan semua menu makanan diatas meja ke satu piring milik Arumi terlebih dulu tanpa memikirkan yang lain termasuk Kaivan.
"Arumi, papa sudah mengambilkan makanan untukmu, kamu tidak ingin memanggil papa ke papa gitu?"ucap Kala yang iri dengan Hilya yang sudah dipanggil mama oleh putri kandungnya ini.
"Terima kasih papa, papa baik sekali"ucap Arumi dengan senyum diwajahnya.
"Pa, Ma Kaivan ga diambilin?"tanya Kaivan yang menyodorkan piringnya pada kedua orangtuanya.
"Ambil sendiri"ucap Hilya dan Kala dengan kompak pada putra sulung mereka.
*****
Jangan lupa untuk dukung novel ini terus ya! 😊
JANGAN LUPA KLIK LIKE YA! 🙏
JANGAN LUPA KLIK FAVOURITE! ❤
JANGAN LUPA KOMEN DAN VOTE YA!
TERIMA KASIH! 🤗
__ADS_1