
Untuk para Readers terima kasih udah baca novelku ini! Tolong jangan melupakan like dan biasakan komen ya agar aku semangat menulisnya! walaupun tulisan aku ini masih sangat receh! Terima kasih udah mendukung karyaku sejauh ini:') ❤️
... ***...
Akibat percekcokan antara Kaivan dan Anita membuahkan hasil Anita mengalami pendarahan yang sangat banyak, karena merasa tertekan dengan kata-kata Kaivan yang menyakitkan untuk didengar telinga.
Kaivanpun segera menggendong Anita berlari keluar kamarnya dengan panik, Arumi yang melihat abangnya yang menggendong istrinya dengan darah yang banyak dipakaian kakak iparnya. Membuat satu rumah ikut panik, termasuk Angga yang baru saja tiba dari kampusnya.
"Bang, kak Anita kenapa?"tanya Angga.
"Nanti aku jelaskan, sekarang bawa istriku ke dokter dulu"ucap Kaivan yang dibalas anggukan oleh Angga.
"Pakai mobilku aja biar langsung ke rumah sakit, biar ga nunggu lama"ucap Angga.
"Baiklah"ucap Kaivan menyetujui dan langsung berjalan keluar rumahnya dan masuk ke dalam mobil milik adik angkatnya itu.
"Kaivan, jaga Anita. Mama dan Papa akan nyusul"ucap Hilya yang dibalas anggukan oleh Kaivan yang sudah sangat kacau pikirannya hari ini.
Benar saja. Mereka semua satu keluarga kompak ke rumah sakit Medika Gerald yang dekat jaraknya dari rumah dan tidak terlalu jauh untuk melakukan pemeriksaan.
Sesampainya di rumah sakit, Anita segera dimasukkan ke dalam ruang rawat, namun dokter berusaha setenang mungkin untuk membantu menantu pemilik rumah sakit besar ini.
Disaat yang sama, Sila yang baru saja menebus obatnya bertemu dengan Arumi yang baru saja keluar dari toilet, membuat wanita itu segera menemui teman sekaligus istri dari bosnya itu.
"Arumi, kamu disini? Abis periksa kandungan ya?"ucap Sila dengan senyum manisnya mengusap perut besar milik Arumi.
"Tidak, Kak Anita mengalami pendarahan sekarang mungkin sedang diruang operasi"ucap Arumi tersenyum getir karena khawatir dengan kakak ipar dan anak yang berada dalam kandungannya itu.
"APA?!"ucap Sila terkejut bukan main, karena itu bisa membahayakan keduanya, ibu dan anak yang dikandung.
__ADS_1
"Iya, Kamu ngapain disini Sil?"tanya Arumi.
"Beli obat untuk ibu, aku mau ke tempat Anita ya, boleh? Aku khawatir"pinta Sila.
"Yaudah ayo, kita ke sana"ucap Arumi yang berjalan beriringan dengan keluar dokter dari ruangan operasi.
"Mohon maaf Tuan, Nyonya. Karena pendarahan yang dialami dokter Anita begitu parah dan banyak, dia membutuhkan banyak darah untuk ditransfusikan ke tubuhnya, dan sepertinya dokter Anita harus melahirkan hari ini juga, agar meminimalisir kemungkinan yang tidak diinginkan terjadi"ungkap sang Dokter.
"Lakukan sekarang! Asalkan istri dan anakku selamat! Ingat jika istri dan anakku tidak selamat, akan aku pecat anda dan ku taro di kutub Utara anda! Mengerti?!"ancam Kaivan yang membuat sang dokter mengeluarkan keringat dingin.
"Saya berusaha semaksimal mungkin, tapi stok darah dirumah sakit kami sedang habis"ucap Dokter.
"Darah Anita apa dok?"tanya Kazi.
"A+ sedangkan dirumah sakit kami stok sedang kosong"pungkas Dokter.
"Bagaimana ini ma? kita semua tidak ada yang mempunyai golongan darah A+ untuk istriku, keluarga Anita diluar negeri semua"keluh Kaivan yang merangkul tangan Hilya karena khawatir dengan istrinya diruang operasi.
"Sila, kamu ada disini?"tanya Hilya yang terkejut dengan kedatangan wanita cantik yang sederhana dan sedikit tomboy itu.
"Iya, aku abis membeli obat untuk ibuku, nyonya"jelas Sila dengan sopan. "Apa boleh aku membantu nona Anita?"tanyanya lagi.
"Kamu tidak apa?"tanya Hilya dengan pasti, namun Sila tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"Aku senang bisa membantu"ucap Sila.
"Baik nona silahkan ikut saya untuk dicek terlebih dahulu ya"ucap Dokter yang membuat Sila berjalan mengikuti dokter laki-laki paruh baya itu keruangan untuk mengecek kesehatan pada Sila.
Tidak butuh waktu lama, Sila keluar dari ruangan sang dokter dengan tersenyum, walaupun hatinya sebenarnya sangat takut pada jarum suntik.
__ADS_1
"Sila apa kamu yakin sayang?"tanya Hilya lagi untuk memastikan tentang keputusan wanita yang berpakaian sederhana itu.
"Yakin nyonya"ucap Sila dengan senyum polosnya.
"Sila, apa kamu yakin mau membantu?"tanya Arumi yang gelisah dan takut dengan keadaan Sila.
"Yakin Arumi, udah saatnya aku membalas Budi kamu, waktu itu kamu membantuku membayar pengobatan ibu yang mahal, dan sekarang hanya darah yang bisa aku kasih pada kakak iparmu. Jangan sedih oke? Oh iya titip ya, obat untuk ibu. Nanti kamu bisa suruh orang, kasih obat ini ke ibu ya, aku ga mau ibu telat minum obat. Tolong ya Arumi"ucap Sila sambil memberikan sekantong plastik yang berisikan obat-obatan untuk sang ibu pada Arumi, dan Arumi menerimanya dengan menunduk.
Sang dokter keluar dengan dokumen ditangannya yang merupakan hasil kesehatan Sila.
"Jadi bagaimana dok hasilnya?"tanya Sila dengan penasaran.
"Anda sehat dan bisa melakukan transfusi darah, tapi kami akan mengambil darah lebih banyak untuk dokter Anita"ucap Dokter.
"Tidak apa-apa dok"ucap Sila dengan santainya, padahal hatinya sangat takut.
"Baiklah silahkan ikut saya"ucap Dokter yang diikuti Sila berjalan dibelakang.
Tidak butuh waktu lama Sila keluar dengan didorong perawat dan dokter disampingnya, wanita itu sudah berpakaian layaknya pasien rumah sakit.
Sedangkan Kazi hanya mampu melihat wanita yang berpakaian sederhana itu tidur ditempat tidur rumah sakit dan didorong dokter dan perawat masuk kedalam ruang operasi.
Sejujurnya hati Kazi sangat takut melihat Sila yang masih tersenyum melihatnya dengan santai, tapi disatu sisi dia juga khawatir dengan adik ipar dan calon keponakannya yang ada dalam kandungan Anita.
"Ini semua gara-gara kebodohanmu, Kaivan! Mama mengumpulkan kalian dirumah, ingin meminta Sila untuk jadi menantu keluarga kita buat abangmu! Tapi apa yang terjadi, kamu lihat atas kebodohanmu! kamu malah membahayakan dua nyawa sekaligus! Istri dan anakmu! Otakmu dimana Kaivan?! Lalu bertemu dengan Sila, seharusnya ini hari yang membahagiakan untuknya, tapi lihat dia juga harus masuk ke ruang operasi untuk membantu menyelamatkan istri dan anakmu!"omel Hilya.
"Udah ma, ini rumah sakit, kita berdoa aja semoga menantu, calon cucu kita dan calon menantu kita selamat"ujar Kala yang menenangkan hati istrinya.
"Biarin Pa, biar Kaivan itu otaknya tidak hanya cemerlang di dunia bisnis aja, tapi juga terpakai untuk membahagiakan istri dan anaknya!"sungut Hilya yang sudah sangat marah. "Kazi ingat ini, jadikan ini pelajaran untukmu juga! Mengerti?!"omelnya menekankan pada putra sulungnya yang sebelas dua belas sikapnya dengan Kaivan.
__ADS_1
"Mengerti ma, aku akan menjaga istri dan anak-anakku kelak"spontan Kazi mengucapkan itu karena dia juga khawatir dengan keadaan Sila saat ini yang berada diruang operasi.