Mantan Terindahku Suamiku

Mantan Terindahku Suamiku
Wajah Murung


__ADS_3

Setelah kepergian kakek dari Kenan, Arumi pergi keluar dari ruang kerjanya menuju toilet untuk membasuh muka, agar wajah terlihat lebih fresh dengan masalah yang terkait dengan hubungannya dengan Kenan.


Tidak butuh waktu lama, Arumi kembali keruang kerjanya dan duduk disamping Gita dalam keadaan seperti tidak terjadi apa-apa, padahal Gita sangat tahu bahwa hati Arumi saat ini benar-benar sedang sakit.


Gita terus memperhatikan Arumi yang mulai fokus mengerjakan beberapa file yang berada di meja kerjanya, dan Arumi yang menyadari bahwa rekan kerjannya itu sedang mengkhawatirkan dirinya, segera menoleh dan tersenyum.


"Aku gapapa, mbak"ucap Arumi yang mulai mengetik file dilaptop kerjanya.


Gita yang mendengar Arumi berkata seperti itu langsung kembali melakukan pekerjaannya dan membuat Gita sendiri untuk memberi waktu pada Arumi sendiri.


...✴️...


Sepulang kerja, Arumi langsung berjalan lebih dulu keluar gedung kantor agar Kenan tidak mengantarnya, karena saat ini dirinya sangat butuh waktu untuk menenangkan diri sendiri atas semua kejadian dikantor hari ini.


Arumi berjalan dipinggir jalan sambil menunduk dan menghela nafas berkali-kali karena kesal dengan kondisi yang sama sekali tidak berpihak pada dirinya yang selalu terlalu bermimpi tinggi untuk bersama laki-laki sehebat Kenan Abraham.


Tin..Tin..


Arumi yang kesal dengan bunyi klakson mobil berkali-kalipun akhirnya menengokkan kepalanya melihat mobil yang tepat sampingnya dengan wajah kesal.


"Berisik banget sih!"ketus Arumi, yang ternyata didalam mobil itu terdapat laki-laki yang memilki gelang yang sama persis dengannya, dan itu adalah Kaivan Alvaro Gerald.


"Apa aku mengganggumu nona?" tanya Kaivan yang membuat Arumi langsung mengubah raut wajahnya yang kesal menjadi tersenyum.


Karena Kaivan adalah laki-laki yang baru saja bekerja sama dengan Kenan, dan Kenan sangat ingin melakukan kerja sama dengan perusahaan Gerald yang ternama, dia tidak ingin membuat namanya, nama Kenan dan perusahaan Kenan jelek dimata Kaivan.


"Ngga, nggak sama sekali kok! Ada apa pak?" tanya Arumi yang bingung dengan bos dari perusahaan Gerald itu yang mengajaknya berbicara, karena yang Arumi tau bahwa laki-laki seperti Kaivan itu sama dengan Kenan, yaitu sama-sama dingin, cuek terhadap perempuan.


"Masuklah, biar aku antar ke rumah. Tidak menerima penolakan" ucap Kaivan dengan senyum diwajah tampannya yang sangat minta ditampol oleh Arumi yang sedang kesal.


Mau ga mau, Arumi memasuki mobil itu dan duduk disebelah Kaivan dengan santainya, menyandarkan tubuhnya saat duduk. Dirinya hanya diam saja karena memang sedang dalam perasaan yang sedang tidak baik-baik saja hari ini.


Kaivan yang menyadari wajah Arumi yang terlihat sangat murung saat berada dimobilnyapun mencoba memikirkan cara agar wanita itu tidak terlihat sedih, karena saat melihat wajah Arumi murung untuk pertama kalinya Kaivan merasa seperti sedih dihatinya.


"Arumi"ucap Kaivan dengan lembut, yang membuat wanita itu menoleh ke arahnya. "Apakah saya boleh memanggil itu saja?

__ADS_1


"Tentu boleh, ada apa?"


"Kamu mendapat gelang itu dimana?"tanya Kaivan yang masih sangat penasaran tentang gelang yang dipakai Arumi.


"Dari ibu, karena aku akan menikah makanya ibuku memberi ini"ucap Arumi dengan senyum diwajahnya.


"Benarkah kamu akan menikah? Apakah dengan CEO Abraham itu?"ucap Kaivan dengan senyumnya yang menawan.


Arumi yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa tersenyum malu dan menganggukan kepalanya layaknya anak kecil yang diajukan pertanyaan tentang kesukaannya.


"Wah! Selamat! Aku iri Pak Kenan bisa menikahi wanita sehangat dirimu"puji Kaivan yang membuat Arumi tertawa.


"Bukankah seharusnya aku yang beruntung mendapatkan laki-laki seperti Kenan?"tanya Arumi yang mendapatkan gelengan kepala oleh Kaivan.


"Tidak, lihat saja wajahnya menyebalkan"ucap Kaivan yang lagi-lagi membuat Arumi tertawa.


"Terima kasih ya Pak"ucap Arumi dengan senyum diwajahnya.


"Untuk?"tanya Kaivan.


"Iya, oh iya alamat rumahmu dimana?"tanya Kaivan yang mengingatkan Arumi bahwa supirnya tidak tau harus membawa mereka kemana karena asik mengobrol.


"Oh iya hampir aja lupa, alamat rumahku di jl cempaka no 25, nanti turunkan aku didepan gang aja, karena mobil tidak bisa masuk"ucap Arumi.


"Apa aku boleh main ke rumahmu?"tanya Kaivan yang benar-benar ingin menyelidiki latar belakang Arumi yang sesungguhnya.


Benar, Kaivan sangat penasaran dengan Arumi karena tidak mungkin sekali orang-orang memiliki gelang yang sama persis dengan yang dimilikinya saat ini.


Mungkin Kaivan akan merasa bahagia jika benar dugaannya bahwa Arumi adalah adik kandungnya yang selama ini dia cari, tapi tidak mungkin semudah itu mencari adiknya yang masih bayi yang telah hilang semudah itu.


"Tentu saja boleh, aku memiliki adik laki-laki namanya Angga. Dia seseorang yang nakal dan susah dibilangin namun pintar dalam sekolahnya"ucap Arumi yang tersenyum dikala mengingat kelakuan adiknya yang super konyol.


"Oh ya? Aku sangat iri melihatmu memiliki adik pasti seru banget ya?"tanya Kaivan yang selama ini hidup seorang diri, kesepian dan tidak ada teman bermain bersama.


"Lalu adiknya Pak Kaivan?"tanya Arumi.

__ADS_1


"Dia telah hilang, aku sedang mencarinya sekuat tenagaku. Jika bertemu dengannya mungkin aku akan menghabiskan waktuku hanya untuk memanjakannya"ucap Kaivan yang tersenyum tulus.


"Pasti adik Pak Kaivan bangga memiliki abang yang sangat perhatian dan merasa disayang dengan Pak Kaivan"ucap Arumi.


"Benarkah? Apa benar adikku akan merasa seperti itu?"ucap Kaivan yang diberi anggukan oleh Arumi.


"Dia pasti bangga juga memiliki abang yang hebat dan cerdas seperti pak Kaivan asal bapak bisa selalu menjaganya, mungkin dia tidak akan kecewa"ucap Arumi mencoba meyakinkan diri Kaivan.


Kaivan yang mendengar setiap ocehan dari Arumi, hatinya merasa tenang walaupun sebelum-sebelumnya dia merasa tertekan dan selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kehilangan adiknya yang masih bayi.


"Oh iya besok dikantor saya ada pengambilan donor darah, apa kamu mau ikut juga menyumbangkan sedikit darah kamu?"tanya Kaivan yang sebenarnya ragu apakah rencanya akan berhasil atau tidak.


"Baiklah aku akan ikut, walaupun sebenarnya aku belum sama sekali pernah mengikuti donor darah"ucap Arumi, "Oh iya Pak, itu gang rumahku. Kita berhenti disini aja"ucapnya.


Arumipun keluar dari mobil Kaivan yang diikuti Kaivan keluar juga dari mobilnya, dan tersenyum pada Arumi.


"Terima kasih ya pak untuk tumpangannya"ucap Arumi.


"Iyaa, kamu tuh selalu bilang terima kasih mulu. Oh iya jangan lupa acara donor darah besok dilakukan jam 10 pagi"ucap Kaivan yang mengingatkan Arumi tentang acaranya yang dilakukan dikantornya.


"Ini kartu namaku, disitu tertera juga alamat kantorku"ucap Kaivan yang memberikan kartu namanya yang diterima Arumi.


"Padahal bapak tidak perlu serepot-repot ini, soalnya perusahaan Gerald itu terkenal dan tinggal cari dipencarian lewat ponselpun pasti ketemu"ucap Arumi dengan senyum diwajahnya.


*****


Jangan lupa untuk dukung novel ini terus ya! 😊


JANGAN LUPA KLIK LIKE YA! 🙏


JANGAN LUPA KLIK FAVOURITE! ❤


JANGAN LUPA KOMEN DAN VOTE YA!


TERIMA KASIH! 🤗

__ADS_1


__ADS_2