
Selesai rapat, Kenan segera mengurus pekerjaannya yang sangat banyak data-data menumpuk dimejanya untuk diperiksa dan ditanda tangani persetujuan dari dirinya sendirinya, tak lupa juga Kenan meminta Rendy untuk mencari informasi mengenai keluarga Rania yang dihancurkan dalam semalam oleh Kazi hingga tak tersisa apapun.
Bahkan sudah beberapa kali Rania pergi keruma kediaman keluarga Abraham untuk meminta pertolongan padanya, walaupun dalam hati Kenan ingin membantu keluarga Rania tapi itu akan membuat Arumi salahpaham tentang dirinya. Kiarapun meminta tolong pada Kenan untuk dibicarakan pada Arumi tentang sikap yang diambil pada abangnya yang sudah sangat keterlaluan.
Seluruh kehidupan Rania hancur berkeping-keping, perusahaan kecil keluarganya yang sedang mulai merintis bahkan mulai berkembang, seketika anjlok pasar sahamnya dan harus dieksekusi oleh perusahaan Gerald, dan harus menjual rumah untuk membayar hutang perusahaan. Begitupun juga dengan karir Rania menjadi model di luar negeri, seketika semuanya membatalkan kontrak dan tidak ingin stop dari dunia model.
Bahkan Kenan diberitahukan pada kakaknya, bahwa keluarga Rania sementara waktu akan tinggal dikediaman rumah keluarganya yang akan membuat situasi Arumi memburuk, dan Kaivan sudah memberitahukan bahwa kondisi Arumi dengan calon anak mereka sedang lemah dan tidak boleh stres istrinya yang nanti akan berakibat fatal pada calon bayi yang ada dalam kandungan Arumi saat ini.
"Gue harus gimana Ren?"tanya Kenan yang sejak tadi kurang fokus mengerjakan pekerjaannya pada layar laptop dimeja kerjanya.
"Coba bicarakan baik-baik dengan Arumi mengenai Rania, bagaimanapun istri lu itu orang yang sangat baik walaupun kelakuannya agak bar-bar sejak dulu"ucap Rendy dengan hati-hati.
"Ga bisa, ga bisa"ucap Kenan.
"Ga bisa kenapa? Tinggal ngomong doang"ceplos Rendy.
"Ga bisa!"tegas Kenan melirik Rendy dengan tajam, "bisa-bisa ga dikasih jatah gue sebulan!"ucapnya yang membuat Rendy tertawa mendengar penuturan darinya.
"Terus gimana?"tanya Rendy yang tidak mendapatkan jawaban adapun dari Kenan yang hanya diam.
__ADS_1
...✴️...
Sepulang dari kantor, Kenan segera menjemput istrinya di Perusahaan Gerald dan ternyata Arumi baru saja turun dari lift dekat lobby yang membuat mereka bertemu.
"Kamu ngapain kasini?"tanya Arumi yang bingung dengan kedatangan Kenan diPerusahaannya.
"Jemput istri akulah"ucap Kenan yang segera menggandeng tangan Arumi dengan lembut, berjalan keluar Perusahaan dan membuat para karyawan-karyawan menatap iri dengan kemanisan sikap Kenan pada Arumi.
Setelah naik ke dalam mobil bahkan hingga diperjalanan Kenan hanya diam saja, sedangkan Arumi masih sangat kesal dengan sikap suaminya yang peduli tentang masalah keluarga mantan kekasihnya. Bahkan sepanjang perjalanan Kenan terus mendiamkannya, membuatnya makin kesal karena Kenan tidak memperhatikannya lagi.
"Kenan kenapa kamu mendiamkanku?"tanya Arumi saat tepat sampai didepan pintu rumah kediaman keluarga Gerald.
"Aku hanya tidak ingin bertengkar denganmu"ucap Kenan yang langsung keluar dari mobil tanpa memperdulikannya yang masih didalam mobil.
Kenan menyusul Arumi untuk masuk kedalam kamar miliknya, namun istrinya langsung masuk ke toilet tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya dan Kenan tau bahwa Arumi sedang sangat marah padanya saat ini.
Bahkan setelah selesai mandi Arumi segera naik ke atas kasur dan menyelimuti dirinya, tidak sama sekali menghiraukan suaminya. Setelah Kenan selesai mandi, Arumi tetap menyiapkan pakaian untuknya walaupun sedang marah dan menyiapkan air hangat untuknya dimeja dekat kasur.
Bahkan sudah 3 hari, Arumi tidak ikut makan malam bersama keluarga Kenan, dia memilih untuk makan malam didalam kamar seorang diri, dan kerjaannya hanya membuatkan bekal untuk Kenan dipagi hari, berangkat kerja lalu langsung masuk ke kamar. Dan sudah 3 hari juga Arumi mendiamkan Kenan, tidak tersenyum, tidak menangis, tidak memarahinya tapi masih tetap mengurusi semua kebutuhan suaminya dari bangun tidur sampai mau tertidur.
__ADS_1
Saat Arumi sedang memeriksa data perusahaan di tabletnya, Kenan masuk ke dalam kamar dan duduk diranjang sebelah istrinya. Melihat aktifitas yang dilakukan istrinya hingga mampu mendiamkannya cukup lama, awalnya Kenan yang berinisiatif untuk mendiamkan Arumi agar istrinya tidak berfikiran sempit terhadapnya serta tidak selalu cemburu pada Rania.
"Kamu mengenal Gio? Tentu saja mengenal Gio kan seniormu dikampus"ucap Kenan tersenyum kecut pada dirinya sendiri "Aku sudah lama tidak melihatmu tersenyum, tapi tadi aku melihatmu tersenyum lepas pada laki-laki itu. Sampai kapan kamu akan mendiamkan aku?"ucapnya.
Namun Arumi segera meletakkan tabletnya dinakas terdekat kasusnya, dan segera merebahkan tubuhnya karena dia sangat lelah untuk harus ribut dengan Kenan.
"Arumi, aku ini suamimu. Aku sedang berbicara padamu"tegas Kenan yang mencengkam tangan Arumi dengan kuat, membuat Arumi menatap suaminya yang sudah lama tidak dia lihat wajahnya.
"Aku udah terserah kamu aja Kenan, yang penting kamu bahagia. Aku masih menganggapmu sebagai suamiku, masih mengurusimu, kurang apalagi Kenan? Masih belum cukup puas kamu menyakitiku?"ucap Arumi pelan namun wanita itu tidak sama sekali mengeluarkan airmata, sudah cukup selama ini dia menangis dan marah terhadap Kenan.
"Maafin aku, sayang. Aku tidak bermaksud seperti itu"ucap Kenan yang ingin memegang wajah istrinya namun ditepis oleh Arumi yang sama sekali tidak ingin disentuh olehnya.
Arumi segera keluar kamar meninggalkan Kenan untuk mengambil air hangat dan membuat susu ibu hamil untuk dirinya sendiri, namun bertemu dengan Kiara yang tersenyum manis padanya.
"Arumi, sudah lama kakak tidak melihatmu dan calon keponakanku sudah membesar ya, jaga kesehatan dirimu dan juga calon anakmu ya, jangan capek-capek kerja"ucap Kiara yang tersenyum senang melihat perut Arumi yang sudah sangat membesar.
"Aku pasti jaga kesehatan diriku dan juga calon anakku, apalagi harus melihat wanita lain tinggal didekat sisi suamiku, harus kuat bukan Kak? Kakak itu perempuan, kakak itu iparku atau iparnya dia sih?"ucap Arumi dingin dan menusuk pada Kiara, membuat Kiara diam dan merasa sangat bersalah.
"Maafin kakak, Arumi. Maafin kakak"ucap Kiara yang menggenggam lengan tangan Arumi.
__ADS_1
Sedangkan Kenan yang melihat Arumi menyakiti kakak kandungnya sendiripun sangat kesal sekali, hingga dia segera melemparkan susu yang dipegang Arumi dan melemparkannya ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
"Arumi jaga sikapmu! Dia kakakku! Dia berhak menentukan siapa yang bisa tinggal disini dan itu bukan kamu!"bentak Kenan yang membuat Arumi berlari kembali ke kamar, sedangkan Kenan baru menyadari bahwa kata-katanya sudah menyakiti istrinya, segera dia menyusul Arumi masuk ke dalam kamar.