
Ucapan yang begitu saja keluar dari mulut manis Arumi seketika membuat semua orang di meja makan menjadi diam dan menatap ke arah Kaivan dan Kenan secara bergantian meminta penjelasan kepada mereka.
"Pa, kemarin itu terjadi kesalahpahaman yang menyebabkan Kenan dan Arumi putus, padahal Kaivan tau mereka saling mencintai"ucap Kaivan yang menyesal membuat hubungan adiknya hancur akibat dirinya.
"Abang itu bukan kesalahpahaman, kalo abang bilang kita saling mencintai itu salah, karena cinta itu didasari kepercayaan tapi tidak dengan Kenan"ucap Arumi menatap wajah Kenan yang duduk disebelahnya. "Aku udah sarapannya"ucapnya yang pergi ke taman belakang rumah.
"Kenan pergilah temui dia"ucap Kaivan yang membuat Kenan beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Arumi yang duduk di ayunan taman seorang diri dengan menundukkan wajahnya.
"Arumi"ucap Kenan yang menggenggam kedua tangan Arumi dengan lembut, seolah-olah matanya sudah mengunci pandangan Arumi saat ini, hingga membuat wanita itu terdiam.
"Apa kamu benar-benar ingin putus denganku?"tanya Kenan yang membuat hati Arumi menjadi gusar mendengar pertanyaan itu.
"Bukankah kamu yang udah mutusin aku? Lalu kamu mau mendengar ucapanku apa lagi Ken?"ucap Arumi yang kesal.
"Saat itu aku emosi mendengar kamu mengakui selingkuh"ucap Kenan.
"Bukannya kamu yang datang-datang menuduhku selingkuh terus menerus"ucap Arumi.
"Baiklah kalau kamu benar-benar ingin putus denganku, itu semua kesalahanku. Aku tidak akan memaksamu untuk kembali lagi denganku, karena itu semua seperti sia-sia"ucap Kenan yang pergi meninggalkan Arumi diayunan taman seorang diri.
Arumi yang melihat punggung Kenan menjauh darinya hanya mampu menangis dalam diam mendengar keputusan Kenan yang mungkin sudah menyerah dengannya.
Hingga hari terus berganti namun Kenan bahkan tidak datang kerumahnya lagi dan tidak memberinya kabar sama sekali, membuat Arumi menjadi pendiam sama sekali.
Kaivanpun mengantar Arumi pergi ke perusahaan Abraham dengan wajah adiknya yang selalu murung semenjak Kenan pulang dari rumahnya, bahkan Arumi sama sekali tidak mengatakan apapun padanya.
"Arumi, abang cuma ingin mengatakan ini padamu. Jika kamu masih mencintainya, berikan dia kesempatan untuk bersamamu lagi"ucap Kaivan dengan senyum diwajahnya, dan hanya dibalas anggukan oleh Arumi.
"Udah sampai tuh"ucap Kaivan yang membuat Arumi tersenyum.
__ADS_1
"Makasih ya bang"ucap Arumi yang memeluk abangnya sebentar dan keluar dari mobil itu. "Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"ucap Kaivan yang melihat kepergian Arumi dari mobilnya.
...✴️...
Arumipun berjalan ke arah lift yang tidak lama kemudian ada Kenan dan Fero yang datang untuk menunggu kedatangan lift. Fero yang menyadari Arumi dan Kenan sama sekali tidak ada yang menyapapun hanya mampu diam, karena mereka sangatlah seram jika sedang perang dingin seperti ini.
Ting!
Liftpun terbuka, Kenan dan Feropun masuk ke dalam lift yang disusul oleh Arumi yang juga ikut masuk ke dalam lift itu, namun Arumi hanya mampu menundukkan wajahnya karena dia sangat tidak ingin menjadi orang asing dikehidupan Kenan.
Sesampainya diruang kerja, Fero segera memberitahukan beberapa jadwal kerjasama yang akan dilakukan diluar kantor dan salah satunya adalah bertemu dengan Kaivan, abang dari Arumi untuk membahas projek kerjasama atas properti rumah yang akan perusahaannya bangun.
Sedangkan Kenan sesekali melihat ke arah Arumi yang sedang fokus mengetik beberapa dokumen yang harus dia persiapkan untuk diberikan kepadanya hari ini, dan ada juga beberapa dokumen yang harus dibahas dengabnya bersama.
"Ada apa?"tanya Arumi.
"Ada yang inginku bahas"ucap Kenan singkat yang berjalan ke ruang rapat yang diikuti oleh Arumi dari belakang.
"Kamu ingin bahas apa?"tanya Arumi sesampainya diruang rapat yang terdapat hanya mereka berdua saja.
"Apa rumah dengan rancangan seperti ini dan lokasi itu yang diinginkan Pak Kaivan untuk membangun rumah?"tanya Kenan yang memperlihatkan tambahan desain rumahnya itu yang sangat bagus.
"Ini sangat bagus, abang pasti suka kok!"ucap Arumi dengan senyum diwajahnya.
"Kamu serius?"tanya Kenan yang sangat ingin memperlancar hubungan kerjasamanya dengan perusahaan sebesar Perusahaan Gerald.
"Aku serius, lagipula abang akan memberikan aku rumah ini sebagai kado"ucap Arumi yang membuat Kenan terdiam.
__ADS_1
"Baguslah. Memangnya Pak Kaivan ingin memberikanmu kado rumah ini atas kembalinya dirimu?"tanya Kenan.
"Bukan, tapi kado pernikahan. Karena aku gagal menikah mungkin gatau deh kapan abang akan memberikanku rumah itu"ucap Arumi dengan santainya membuat Kenan terdiam.
Sungguh Kenan merasa sangat tidak nyaman bersikap seperti ini dengan Arumi, dia sangat merindukan wajah Arumi yang tersenyum padanya tanpa sama sekali beban namun dia tidak bisa memaksa wanita itu untuk kembali bersama dengannya.
"Apa kamu masih ingin bekerja di departemen keuangan?"tanya Kenan.
"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu?"tanya Arumi.
"Kalau kamu ingin aku bisa kembali mengaturmu ke posisimu semula didepartemen keuangan"ucap Kenan.
"Apa kinerjaku sangat jelek sebagai sekretarismu?"tanya Arumi yang kesal namun ditahannya, karena biar bagaimanapun Kenan adalah atasannya dikantor.
"Sangat bagus kok dan aku hanya menginginkan kamu memilih keputusanmu sendiri bukan karena permintaanku yang selalu memaksamu untuk berada didekatku, aku sadar keputusan yang kuambil selalu memaksamu dan itu terkesan egois. Seperti dulu aku ingin mengejarmu kembali makanya aku memaksamu untuk duduk diposisi sebagai sekretarisku, lalu saat aku memutuskanmu juga itu adalah permintaanku yang menyakitimu. Jadi aku tidak ingin memaksamu kembali untuk terus disampingku, dan mungkin emang kita yang ga jodoh"ucap Kenan yang membuat Arumi menangis mendengar ucapan laki-laki itu.
"Kamu jahat Kenan! Kamu egois! Kamu selalu berbuat seenaknya padaku! Kamu tidak pernah memikirkan perasaanku! Aku benci kamu Kenan!"Ketus Arumi yang membuat Kenan memeluk tubuh wanita itu yang menangis dengan kata-katanya.
"Maafkan aku Arumi, aku ingin tau perasaanmu makanya aku ingin kamu membuat keputusan sendiri dan tidak terpaksa dalam hal apapun." ucap Kenan yang memeluk tubuh Arumi dan mengusap pucuk kepala Arumi dengan lembut menenangkan hati Arumi.
"Udah dong jangan menangis, kalau kamu kaya begini terus ke aku, bagaimana aku bisa melupakanmu?"ucap Kenan yang membuat Arumi mendorong tubuhnya menjauh.
"Kalau aku yang meminta kamu untuk tidak melupakanku, apa kamu tidak akan melupakanku? Kalau aku yang meminta kamu untuk selalu bersamaku, apa kamu akan selalu bersamaku? Kalau aku yang meminta untuk kita kembali bersama, apa kita akan kembali bersama?"ucap Arumi dengan airmatanya yang terus membasahi pipinya.
"Iya tentu saja iya"ucap Kenan dengan senyum diwajahnya, membuat Arumi kembali memeluk tubuh Kenan dengan erat.
"Aku merindukanmu Ken"ucap Arumi dalam pelukan tubuh Kenan.
"Aku juga merindukanmu Arumi"ucap Kenan dengan senyum diwajahnya.
__ADS_1