
Setelah selesainya rapat berakhir, Arumi, Kazi dan Kenan memutuskan untuk makan siang bersama di perusahaan Abraham untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan karena banyak projek kerjasama antara perusahaan Abraham dan Gerald yang dibahas bersama.
Saat turun dari lift, Arumi melihat Sila yang sedang berjalan seorang diri mengarah ke kantin dengan merentangkan tangannya seperti layaknya orang lelah.
"Silaa"panggil Arumi karena jarak antaranya dengan wanita itu tidak terlalu jauh.
Sila yang mendengar namanya dipanggilpun segera mengedarkan pandangannya ke kanan ke kiri, dan ternyata yang memanggil dari arah belakang yaitu Arumi bersama dua bodyguard spesialnya.
Melihat Arumi yang berlari kecil ke arahnya membuat mata Sila terbelalak dan segera menghampiri wanita yang sedang hamil besar itu.
"Arumi, jangan berlari. Aku takut terjadi apa-apa denganmu dan bayi dalam kandunganmu itu"omel Sila yang mencoba menetralkan nafasnya akibat ibu hamil yang membuatnya khawatir setengah mati.
"Hehehe iya maaf"ucap Arumi dengan tawanya yang ringan.
"Betul apa kata Sila, itu bahaya bagimu dan bayi kita"ucap Kenan yang langsung melingkarkan tangannya dipinggang milik istrinya.
"Iyaa sayang maaf, ga lagi deh"ucap Arumi menenangkan hati suaminya.
"Hati-hati lain kali"ucap Kazi sambil mengusap pucuk kepala Arumi dengan lembut.
"Iya abang"ucap Arumi dengan senyum diwajahnya. "Aku lihat kamu sangat lelah sekali, abis ngapain memangnya Sil?"
"Abis rapat dan juga aku harus keluar kota besok dan ini aku mau ke kantin untuk makan siang"ucap Sila dengan santainya.
"Ikut makan siang bareng yuk"ajak Arumi membuat wanita itu berfikir sejenak. "Udah ikut aja, lama banget mikirnya"ucapnya sambil menarik pergelangan tangan Sila keluar dari gedung itu.
Sesampainya di kafe, tempat pertama kali Sila mentraktir Arumi makan siang karena tau akan kondisi keuangan Arumi yang mengharuskan wanita itu harus irit untuk membiayai adiknya yang sekolah dan menghidupi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Sila memilih tempat duduk didekat jendela dan duduk disamping Arumi dan berhadapan dengan Kazi, membuat Sila lebih memilih menatap jendela luar dibanding laki-laki yang berwajah datar dan sikapnya yang dingin.
__ADS_1
"Permisi Non, tuan. mau pesan apa?"tanya pelayan yang baru saja datang ke meja mereka dengan ramah.
"Aku samain aja denganmu Arumi"celetuk Sila yang membuat Arumi memutuskan pesanan untuk mereka berempat makan siang.
Arumi yang melihat teman baiknya itu sejak tadi diam saja, membuat dirinya mengerutkan dahi karena tidak seperti biasanya perempuan berambut pendek sebahu itu diam dengan waktu yang lama.
Rambut pendek? Arumi baru menyadari bahwa Sila memotong rambutnya, karena selama ini Arumi sangat tau bahwa wanita itu sangat menyukai rambut panjangnya itu.
"Sila, kenapa kamu potong rambut? Bukankah kamu sangat menyukai rambut panjang?"ceplos Arumi dengan terkejut. "Apa karena kamu putus dengan Gio?"tebaknya.
"Iya"ucap Aurel singkat. "Aku hanya ingin memulai awal baru aja, lagipula aku cukup imut dengan rambut pendek"ucapnya dengan percaya diri penuh.
Tidak butuh waktu lama, pelayan datang menyajikan makanan dan minuman diatas meja mereka dengan rapih dan begitu telaten, dan pergi kembali ke tempatnya.
"Apa aku boleh tau, sekarang dimana kamu tinggal?"tanya Arumi.
"Apa?!"ucap Arumi dengan terkejut.
Bukan hanya Arumi yang terkejut mendengar keputusan dari Sila, Kazipun juga terkejut mendengar Sila ingin pergi dari kota yang dimana mempertrmukan dirinya dengan gadis kecil itu.
"Kenapa kamu mau resign? Apa gajimu tidak cukup atau masih kurang? Perusahaan Abraham itu perusahaan besar dan banyak yang ingin masuk ke perusahaan itu"ungkap Kenan yang ikut campur dan ingin meminta kejelasan pada salah satu pegawainya.
"Aku tinggal dikota inikan karena mengikuti Gio yang kuliah disini, hingga aku lulus kuliah dan bekerja di Perusahaan Abraham. Tapikan sekarang aku udah putus dengan Gio, ga ada yang harus membuatku tetap bertahan hidup dikota ini. Ibu juga yang menyarankan untuk pindah dikampung. Lagipula kali aja aku pulang kampung dapet jodoh yang lebih dari Gio"pungkas Sila dengan senyumnya.
Entah kenapa mendengar penuturan dari mulut Sila yang begitu jujur dan tulus mencintai laki-laki yang begitu kasar dan tidak ada bandingan dengan dirinya sedikitpun, bahkan seujung kukupun dari seorang Kazi Putra Gerald namun dapat menakhlukkan hati gadis kecil yang duduk dihadapannya itu ingin sekali memukul wajah laki-laki brengsek yang ditemuinya di rumah sakit itu beberapa waktu lalu.
"Kalo dapet yang lebih dari Gio, kalo jodohnya Dino gimana?"ucap Arumi dengan tawanya.
"Yeh! Dino mah udah punya istri sekarang anaknya udah ada 6, tapi karismanya tetep juara 1 dia mah"ucap Sila dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Hey inget dia udah punya istri! Jangan jadi pelakor!"ketus Kazi yang sebal mendengar Sila menyebutkan nama laki-laki lain, seakan-akan kupingnya sangat capek mendengarnya.
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Kazi, sontak membuat Arumi dan Sila menatap wajah laki-laki itu dengan kompak dan tertawa dengan riang, seperti menertawakan hal bodoh dihadapannya.
"Sayang, jangan tertawa seperti itu"ucap Kenan yang mengingatkan istrinya.
"Lagian abang lucu banget, cemburu tuh sama orang, ini malah cemburu sama entok"pungkas Arumi yang melanjutkan tawanya.
Sila yang tadinya tertawa mendengar Arumi berbicara hal seblak-blakan pada abangnya, membuat wanita itu memilih diam.
"Maksud kamu?"tanya Kazi yang bingung dan tidak mengerti apapun.
"Dino itu entok milik Sila yang dirawat sama tetangganya dikampung bang"jelas Arumi yang membuat Kazi malu seketika.
"Yaudahlah, kamu makan jangan ngobrol aja. makanan nanti dingin"ucap Kazi yang menutupi rasa malunya karena tidak tau apa-apa tapi sok tau sekali.
"Kalo cemburu, akuin aja sih bang. Gapapa kok. Lagian juga Sila jomblo sekarang"ceplos Arumi. "Aku juga mendukungmu kok Sila jadi kakak iparku"lanjutnya sambil menepuk-nepuk bahu Sila.
"Huk! Huk!" Sila yang sedang makanpun tersedak mendengar Arumi berbicara semudah itu.
"Nih minum-minum"ucap Kazi dengan sigap memberikan air minum untuk gadis dihadapannya dengan spontan membuat Arumi tersenyum melihat aksi abangnya yang sangat manis itu pada temannya.
Melihat guratan khawatir pada Kazi ke Sila membuat Arumi mengabadikan momen itu dengan ponsel miliknya.
"Klik"
Sontak membuat Sila dan Kazi kompak menghadap kamera, dan membuat hasil foto Arumi sangat sempurna.
Dengan sigap tangan Arumi mengirim foto itu ke Mamanya dengan sebuah pesan 'Sebentar lagi mama dapat 1 calon menantu dari abang'
__ADS_1