
Beberapa hari ini Kazi sangat sibuk dikantor, bahkan pria itu lebih memilih tidur dikantor dibanding rumah besar keluarganya yang bak istana kerajaan dinegeri dongeng.
Sesekali Kazi memijit pelipisnya karena kerjaan yang sangat banyak dan membutuhkan ketelitian dirinya untuk menghasilkan banyak uang untuk membiayai keluarganya dan juga keluarga kecilnya kelak.
Dering ponsel berbunyi, segera Kazi mengangkat panggilan itu dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. Namun yang terjadi adalah teriakan dari orang sebrang yang menelponnya dengan marah-marah, siapa lagi yang berani dengan laki-laki itu kecuali mamanya yaitu Hilya.
"Ma, apa bisa suara mama dipelankan sedikit?"ucap Kazi yang sudah terbiasa mendengar omelan dari sang ibu.
"TIDAK BISA! PULANG MALAM INI! JIKA TIDAK PULANG, MAMA AKAN MEMECAT KAMU JADI ANAK DAN MAMA KUTUK KAMU JADI BERLIAN! MENGERTI?!"omel Hilya dengan sekali tarikan dan mematikannya begitu saja.
Disatu sisi Hilya bersandar diruang keluarga ditemani Arumi dan Anita yang ada disisinya. Arumi yang pertama kali melihat mamanya mengomelpun terkejut, berbeda dengan Anita yang sudah tau watak mertuanya itu.
"Kak temani aku ke dapur yuk"ucap Arumi. "Mama mau minum apa? sekalian aku buatin"tawarnya.
"Jus jeruk aja, minta bibi yang buat. Jangan kamu. Karena mama gamau kamu lelah"ucap Hilya dengan lembut.
"Iya ma"ucap Arumi.
"Aku temani Arumi dulu ya ma"ucap Anita yang dibalas anggukan oleh ibu mertuanya itu.
Arumi dan Anita segera keluar dari ruang keluarga menuju dapur, dua ibu hamil itu berjalan beriringan meninggalkan Hilya diruangan itu sendiri.
"Kak, apa mama sering marah-marah ke bang Kazi?"tanya Arumi yang sangat jarang berkumpul dengan keluarganya semenjak menikah dengan Kenan.
"Bukan ke Bang Kazi doang tapi Kaivan juga"ucap Anita dengan entengnya.
"Kenapa? Bukannya mama harusnya bangga punya kedua anak seperti bang Kazi dan Kaivan selain tampan, mereka juga sukses diusia mudanya"ucap Arumi mengingat kehebatan kedua abangnya dalam pekerjaan.
"Karena mereka gila kerja, dan tidak punya waktu untuk mama"jawab Anita yang tau betul kalau mama mertuanya merasa kesepian dirumah yang besar namun tidak ada yang menemani dan hanya ada pembantu.
__ADS_1
Arumi hanya menganggukkan kepalanya, karena kini mengerti kenapa mamanya selalu memintanya dirumah aja, karena kedua abangnya tidak punya waktu.
Walaupun Arumi sangat sibuk juga dengan urusan kantor yang sekarang dia pimpin, tapi wanita hamil itu selalu menyempatkan untuk makan siang dirumah besar keluarganya.
"Ada non kesini?"tanya bibi Sri, pembantu rumah tangga keluarga Gerald yang sudah paruh baya.
"tolong buatkan jus jeruk untuk mama yang dingin, aku sama kak Anita mau bikin susu ibu hamil sendiri"ucap Arumi.
"Hahaha pasti hati nyonya sedang panas karena tuan muda ya Non?"tanya bi Sri dengan tawanya.
"Kok bibi tau?"timpal Arumi sambil fokus membuat susu untuk dirinya dan Anita.
"Udah biasa Non, soalnya tuan muda itu jarang ada waktu untuk nyonya"ucap bi Sri.
Dan Arumi kini merasa kasihan dengan mamanya yang memiliki harta kekayaan dan bisa membeli ini itu sesuka hati, namun tidak mendapatkan kehangatan dari kedua abangnya.
"Non, ini bibi yang antar aja ya"ucap Bi Sri yang membuyarkan lamunannya dari kerinduan kedua orangtuanya.
"iya bi, diruang keluarga ya bi"sahut Arumi yang membuat bi Sri segera berjalan keruang keluarga.
Arumi meminum susu yang dibuatnya dan juga Anita, melihat Anita lebih banyak diam, bahkan sejak mereka didapur, wanita yang cantik dan cerdas bahkan menjadi dokter diusia mudanya, memanglah luar biasa. Tapi hari ini Arumi merasa aneh pada wanita yang sedang bersamanya didapur, karena banyak diam dan terkesan murung.
"Kak Anita, kenapa?"tanya Arumi.
"Gapapa Arumi"ucap Anita dengan senyumnya.
"Kita keluarga kak, aku sekarang adik kak Anita. Ceritalah biar hatimu merasa lebih lega"ucap Arumi.
"Pernikahanku dengan Kaivan sepertinya tidak akan berhasil, dia tidak benar-benar mencintai ku Arumi, dia hanya perhatian pada anak yang didalam kandunganku saja. Bagaimana kalau setelah aku melahirkan, aku diabaikan? Dia mungkin akan merawat anaknya dengan kasih sayang tapi dia juga masih terlalu dingin untuk ku sentuh, sangat jauh sekali meskipun aku berada didekatnya"keluh Anita dengan airmata yang lolos jatuh ke pipinya.
__ADS_1
"Aku akan berbicara dengan Abang, dia benar-benar kelewatan"ucap Arumi.
Didalam lubuk hati Arumi tau bahwa abangnya mencintai perempuan yang kini duduk disebelahnya didapur, namun abangnya tidak bisa sama sekali menurunkan egonya sedikit untuk pernikahannya.
'Bang, kamu akan kehilangan berlian jika bersikap seperti itu terus pada wanita yang dicintaimu'batin Arumi tidak tega.
"Tidak perlu, aku gapapa. Lagipula setelah anak ini lahir, dia mau menceraikan ku juga akan aku terima. Sebelum dia menceraikan ku, aku akan dengan sadar diri meminta cerai dengan Kaivan, dibanding aku harus melihat dia dengan wanita lain dan tinggal bersama orangtuaku di Eropa"ucap Anita menghapus air matanya dengan kasar dipipinya dan tersenyum walaupun hatinya terluka.
"ANITA KITA PERLU BICARA!"ucap Kaivan yang mendengar pembicaraan antara adiknya dengan istrinya yang sangat membuatnya sesak didada dan tidak terima.
Pria yang berpakaian jas dengan rapih, abis pulang dari kantor pun berjalan ke arah Anita yang duduk disebelah adiknya, dan menarik wanita yang hamil anaknya dengan kasar.
"KAK JANGAN KASAR DENGAN KAK ANITA!"omel Arumi yang tidak suka dengan sikap Kaivan yang menarik Anita dengan kasar.
"Kamu diam!"ucap Kaivan yang membuat Arumi mematung ditempat karena sikap abangnya sangat dingin padanya untuk pertama kali, walaupun tidak dengan suara besar.
Arumi yang melihat Kaivan langsung masuk ke dalam kamarpun, segera berjalan keruang keluarga yang ternyata sudah terkumpul semuanya dan juga ada suaminya disana duduk dengan santai memakai jas abu-abu dengan wajah tampan.
"Ma, a-abang Kaivan.."ucap Arumi menimbang-nimbang apakah akan berbicara atau tidak dengan orangtuanya.
"Kenapa abangmu? Oh iya kok Kaivan dia belum ada diruangan ini?"tanya Hilya yang tidak melihat putranya satu lagi yang tadi sudah sampai dirumah.
"Abang seprtinya akan bertengkar dengan kak Anita"ucap Arumi yang khawatir dengan keadaan Anita.
"Sudahlah jangan ikut campur urusan rumah tangga mereka, mereka butuh waktu untuk bicara"ucap Kenan yang membuka suara.
"Tapi Ken, Kak Anita sedang hamil"ucap Arumi yang kes dengan suaminya.
"Benar tuh, anak kurang ajar itu akan mama beri perhitungan jika berani menyakiti menantu mama yang cantik itu, kita tunggu aja disini"ucap Hilya yang kesal dengan kedua putranya itu.
__ADS_1