
Bahkan hingga perut Arumi kini sudah memasuki waktu 6 bulan mau ke 7 bulan, dia selalu berinisiatif meminta lebih dulu pada Kenan, bahkan Kenan yang khawatir dan takut dengan keadaan anak yang ada dalam kandungan istrinya.
Hingga suatu hari Arumi mendapat panggilan telefon dari adiknya Angga. Walaupun mereka bukan sedarah namun Arumi sangat menyayangi Angga seperti adiknya sendiri.
Panggilan telefon itu membuat hati Arumi sangat sakit bahkan tertikam karena mendengar bahwa kedua orangtua yang mengasuhnya dan membenarkannya dari kecil hingga besar kini meninggal dalam kecelakaan.
Arumi menangis begitu histeris, membuat dirinya segera pergi ke rumah orangtua angkatnya tanpa memperdulikan urusan yang berada dikantor.
Sesampainya dirumah yang dia tinggali sejak kecil melihat kedua orangtuanya yang sudah berbalut kain kafan membuat dirinya menangis melihat ayah dan ibu yang selama ini menjaga dan merawatnya penuh kasih sayang dan tanpa membeda-bedakan sama sekali.
Angga yang melihat kakaknya terduduk dengan lemas, menangis seperti itu membuatnya segera memeluk tubuh kakaknya yang sangat sedih melepas kepergian kedua orangtua mereka.
"Kak, jangan menangis. Kini Ayah sama Ibu sudah tenang disurga, kita harus ikhlas kak"ucap Angga yang mencoba tegar dan menenangkan kakaknya yang menangis dan tidak menerima kenyataan pahit itu.
"Bagaimana aku bisa ikhlas? mereka orangtua juga Angga, Kenapa ayah dan ibu sudah meninggalkan kita bahkan sebelum melihat cucu mereka terlahir didunia ini? hiks.."ucap Arumi dengan tangisnya yang pecah dipelukan adiknya atas kepergian Ayah dan Ibu.
Tidak berselang lama Keluarga Abraham dan Geraldpun tiba. Bahkan kedua orangtua Arumi ikut sedih melihat kesedihan putrinya yang sangat menyayangi kedua orangtua yang merawatnya sejak kecil hingga besar ini.
"Arumi, Angga yang sabar ya. Kan ada Mama disini"ucap Hilya yang mencoba menghibur kedua saudara yang saling menyayangi satu sama lain.
"Sayang, jangan terlalu larut dalam kesedihan itu tidak baik, kamu sedang hamil"ucap Kenan yang merengkuh tubuh istrinya yang menangis dengan pilu dan menyakitkan.
Bahkan setelah kedua orangtua itu dikebumikan, Arumi masih terus menangis dan Angga terus mencoba menguatkan hati sang kakak meski hatinya juga merasa kehilangan.
Setelah pemakaman selesai, polisipun datang memberitahu pelaku yang menabrak kedua orang paruh baya itu adalah Rania yang mencoba mencari gara-gara dengan Arumi.
__ADS_1
Bahkan wanita itu kini dipenjarapun tidak merasa bersalah sedikitpun telah menewaskan kedua orangtuanya dan malah mengutuk Arumi dengan kata-kata yang tidak pantas.
...✴️...
Setelah perdebatan yang panjang dengan Angga, akhirnya adiknya itu mau tinggal dirumah kediaman keluarga Gerald menjadi satu kesatuan keluarga Gerald.
Arumi yang mengetahui bahwa Kenan menolong keluarga Rania dari keuangan untuk membuka usaha kecil dikota lain, namun justru malah membawa malapetaka pada keluarganya.
"Sayang ini sudah malam, pulanglah ke rumahmu"ucap Hilya pada putrinya.
"Ini rumahku"ucap Arumi.
"Sayang, ayo kita pulang"ucap Kenan yang mencoba meraih tangan istrinya namun ditebus oleh Arumi.
"Ini semua gara-gara kamu, Kenan! Kamu jahat sekali sama aku! hiks.. hikss.."teriak Arumi yang kesal dan menangis disebabkan Kenan.
"Salah apa?! Memangnya kamu kira aku tidak tau, bahwa kamu memberikan orangtua wanita iblis itu uang untuk membuka usaha! Sekarang uang usaha yang mereka hasilkan malah membuat kedua orangtuaku meninggal! Itu semua gara-gara kamu!"bentak Arumi yang sangat tidak tahan dengan sikap Kenan, selama ini Arumi hanya berpura-pura tidak mengetahui, tapi dia tahu semua kelakuan suaminya yang masih baik pada mantan kekasihnya itu.
Arumi segera masuk ke dalam kamar dan mengunci kamar itu agar tidak seorangpun masuk, karena dirinya saat ini sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun termasuk Kenan.
Bahkan kematian orangtuanya disebabkan oleh beberapa preman jahat yang dibayar oleh Rania hingga kedua orangtua itu tewas dijurang. Meninggalnya kedua orangtua angkatnya begitu tragis, hingga membuat Arumi terus mengeluarkan aimatanya terus menerus.
Karena dosa yang dimilikinya harus ditanggung oleh kedua orangtua angkatnya dengan meninggal seperti itu.
...✴️...
__ADS_1
Setelah kepergian orangtua angkat Arumi, perempuan yang saat ini sedang mengandung anak dari Kenanpun tidak pernah pulang lagi ke kediaman rumah Abraham, bahkan berbicara dengan suaminyapun dia sama sekali tidak ingin sedikitpun.
Tapi Kenan selalu datang terus menerus kerumah keluarga Gerald walaupun awalnya yang diterima adalah usiran dari istrinya sendiri yang terluka akibat sikap yang diambilnya saat itu terlalu bodoh.
Menyesalpun percuma, kini Kenan hanya berharap Arumi bisa memaafkan dirinya dan kembali lagi bersamanya seperti sedia kala menjalani rumah tangga yang tenang.
Hingga akhirnya Kenan harus keluar negeri untuk mengurus perusahaan cabang yang berada diluar negeri, dia sama sekali tidak memberi kabar atau memberi tau Arumi.
Menurut Arumi, kini Kenan sudah menyerah dengan rumah tangganya hingga tidak ingin menemuinya dan calon anaknya juga. Pikiran Arumi sudah tidak jernih sama sekali, bahkan menelfon atau mengirimkan pesanpun sama sekali tidak ada.
"Kalau kamu kangen, telefon Kenan dong Nak, jangan gengsi"ucap Hilya pada putrinya yang sejak tadi menatap layar ponsel miliknya.
"Apa sih ma! Siapa juga yang kangen?!"ketus Arumi yang tidak suka diledekin oleh Mamanya sendiri.
"Kak jangan terlalu ikutin amarahmu, aku saja tidak marah dengan Bang Kenan, mungkin itu sudah jalannya ibu dan ayah"ucap Angga dengan bijak.
"Tapi emang dia juga ga ada niat untuk memperbaiki hubungannya denganku, buktinya aja dia tidak datang bahkan menelfon atau mengirim chat padaku selama 5 hari ini"ucap Arumi yang memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dibanding mendengar masukan yang membela Kenan.
Entah apa yang dipikirkan Arumi saat itu, seketika hati dan pikirannya sedang tidak jernih. Bahkan dia memutuskan untuk menelfon pengacara yang biasa menangani keluarga mereka untuk membantunya saat ini.
Hati Arumi bimbang, bahkan dia takut tidak ada sama sekali dirinya dihati Kenan, apalagi anaknya harus terlahir tanpa seorang Ayah disisinya.
Hati Arumi sangat gusar dengan pilihannya sendiri, tapi pernikahannya seperti tidak bisa terselamatkan lagi dengan sikap Kenan dan sikap Arumi yang seperti ini terus menerus.
"Aku harus apa Ken? Aku mencintaimu, tapi kamu selalu terus membohongiku dan menolong mantan kekasihmu terus menerus dibelakangku. Hikss.."gumam Arumi dengan tangisan.
__ADS_1
"Apa ini jalanmu dan jalanku? Apa pernikahan kita harus terhenti sampai sini?"gumam Arumi sambil mengusap perutnya yang sudah membesar.
Dia membayangkan bagaimana mungkin pikirannya yang egois menyebabkan anaknya tidak memiliki sosok ayah, namun jika bersama terus hatinya yang akan terus sakit.