
Anita kini sudah mengundurkan diri dari rumah sakit Medika Gerald dan mencoba untuk hidup bersama keluarganya di Eropa, meninggalkan cinta dan lukanya disini, walaupun pihak rumah sakit terus meminta Anita berpikir selama 1 bulan tapi setelah 1 bulan tidak ada sama sekali kemajuan hubungannya dengan Kaivan membuatnya menyerah untuk bertahan dinegara yang sejak kecil dia tinggal.
Anita segera memasukkan kopernya kedalam bagasi taksi untuk menuju ke bandara dan Anita sangat berharap semoga dia bisa melupakan Kaivan dan tidak pernah bertemu dengan Kaivan kembali.
Pihak rumah sakitpun segera menelfon seorang Kala Alvaro Gerald atas pengajuan pemberhentian yang diajukan Anita, dan sekarang dokter cantik itu ingin pergi meninggalkan negara ini entah sampai kapan, hingga membuat Kala tidak bisa percaya atas apa yang didengarnya.
"Pa kenapa diam? siapa yang menelfon?"tanya Tiara pada suaminya yang diam saja.
"Pihak rumah sakit bilang Anita berhenti dan mungkin akan segera pergi dari negara ini"ucap Bima yang menatap putranya yang langsung diam saat sarapan.
Tidak butuh waktu lama, Kaivan segera pergi menggunakan helikopter yang berada diatas rumahnya untuk segera sampai di bandara secepat mungkin, karena menggunakan mobil dipagi hari sangatlah buang-buang waktu dijalan.
Bahkan tanpa Kaivan dikasih tau Anita akan pergi kemana, dirinya sudah tau bahwa wanita itu ingin pergi melarikan diri ke keluarganya yang berada di Eropa saat ini. Bahkan Kaitan menghubungi pihak bandara untuk tidak menerbangkan tujuan Eropa dan mencari penumpang yang bernama Anita Emily Oliver, mencegah wanita itu untuk pergi sesegera mungkin.
Tidak butuh waktu lama, Kaivan sudah sampai di Bandara dan berjalan ke arah pihak Bandara yang berhasil menemukan Anita yang sedang terduduk menatapnya dengan datar.
"Tinggalkan kami"ucap Kaivan yang membuat seluruh pihak bandara dan suruhannya keluar dari ruangan kecil hingga tersisa dirinya dan Anita.
"Apa mau anda tuan Gerald?"ucap Anita yang memanggil Kaivan dengan formal.
"Anita aku tidak menyangka kamu berpikiran sependek itu, kamu adalah dokter dikeluargaku, apalagi penyakit papa, jika kamu sakit hati denganku jangan libatkan kedalamnya dirimu yang sebagai dokter"ucap Kaivan.
"Tuan muda Gerald jangan egois, aku sudah menghabiskan masa mudaku hanya untuk mengabdi dirumah sakit dan menolong pasien selama ini, aku juga punya keluarga dan sudah saatnya aku berpikir untuk membahagiakan diriku dan melanjutkan hidupku bahkan membentuk sebuah keluarga bahagia bersama dengan seseorang, Tuan muda Gerald"
"Stop! Jangan mengatakan tuan muda, tuan muda, tuan muda! Aku benci setiap kali kamu memanggilku seperti itu!"bentak Kaivan yang membuat Anita tersenyum tipis, karena bentakan yang Kaivan lontarkan dengan dia bukan hanya hari ini dia dengar.
Kaivanpun segera menarik pergelangan tangan Anita dengan kasar keluar dari bilik kecil itu menuju rumah sakit terdekat dibandara yang diantar oleh taksi, sedangkan Anita hanya mengikuti kemauan laki-laki kasar itu.
__ADS_1
"Kaivan sakit, apa ga bisa lembut denganku?!"omel Anita namun tidak dihiraukan oleh Kaitan sama sekali.
Anita syok melihat Kaivan membawanya pergi ke dokter kandungan, mata Anita segera melebar dengan sempurna. Tapi dia yakin bahwa dia sedang dalam keadaan tidak hamil karena dia sudah meminum pil kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
"Ada yang perlu saya bantu pak?"tanya seorang dokter perempuan muda yang cantik.
"Tolong dokter cek, apakah dia mengandung apa tidak?"ucap Kaivan dengan datar.
"Baik pak"ucap dokter yang langsung membantu Anita merebahkan tubuhnya untuk melakukan USG memeriksa perutnya.
"Selamat ya pak, bu, janinnya sudah berusia 3 minggu, tapi keadaannya lemah. Ibu jangan stress dan jangan sedih yaa"ucap sang dokter yang membuat mata Anita melebar dan menangis dengan penuturan yang dikatakan sang dokter. Sedangkan Kaivan mengulum senyumnya karena bahagia memiliki anak dengan Anita.
"Bagaimana mungkin dokter, aku telah mengkonsumsi pil kontrasepsi untuk tidak hamil! Dokter jangan bercanda!"ucap Anita yang masih tidak percaya bahwa didalam perutnya terdapat kehidupan.
"Berarti janin ibu ini kuat, mungkin seperti papanya"ucap sang dokter dengan senyum diwajahnya.
Makan malampun sedang dimulai, dan Kaivan menggendong Anita didudukannya disampingnya, membuat Kala dan Hilya heran dengan perubahan sikap putranya 180 derajat pada Anita.
"Anita apa kamu tidak jadi pergi ke Eropa dan memutuskan melanjutkan kerja dirumah sakit?"tanya Kala pada Anita yang masih diam.
"Tentu saja dia tidak akan kemana-mana, dia akan menjadi istriku dan ibu bagi anak-anakku"ucap Kaivan yang membuat Anita menengok ke arah laki-laki dengan tidak percaya.
"Apa maksudmu? Apa kamu berniat menikahi Anita?"tanya Hilya yang tersenyum senang karena Anita akan menjadi calon menantunya.
"Iya, Apa mama senang?"ucap Kaivan yang dibalas dengan senyum bahagia oleh mama.
"Ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba kamu ingin menikah dengan Anita?"heran Hilya pada putranya.
__ADS_1
"Karena dia sedang mengandung anakku"ucap Kaivan dengan santainya yang mendapatkan jeweran dari Hilya dengan sangat keras.
"Jadi maksudmu kamu sudah menggauli dia terlebih dahulu? Kaivan kamu anak kurang ajar!"ucap Hilya yang menjewer Kaivan hingga kesakitan.
"Aw! Mama sakit! Ampun ma!"ringis Kaivan kesakitan dengan jeweran yang diterima.
"Aw sakit!"ringis Anita memegang perutnya membuat Kala, Hilya dan Kaivan memperhatikan Anita yang sedang menahan kesakitan.
"Anita kamu kenapa?"tanya Hilya yang khawatir dengan keadaan Anita dan calon cucunya.
"Sebaiknya kamu istirahat dikamar Kaivan, biarkan makanan nanti mama suruh bibi yang mengantar"ucap Hilya.
"Apa aku boleh dikamar Arumi aja tante?"tanya Anita yang kesakitan.
"Baiklah, kamu istirahat dikamar Arumi, Kaivan bantu Anita"ucap Hilya yang membuat Kaivan menggendong tubuh Anita ala bridal menuju kamar adiknya.
Kaivanpun meletakkan Anita dengan hati-hati di kasur, bahkan Kaivan membantu Anita menyelimuti tubuh wanita itu.
"Permisi tuan, ini bubur untuk nona Anita"ucap bi Sri yang diambil alih oleh Kaivan.
Kaivanpun duduk di tepi ranjang dan bersiap menyuapi bubur kedalam mulut wanita itu, namun Anita tidak sama sekali membuka mulutnya.
"Aku bisa sendiri, tanganku tidak sakit"ucap Anita yang langsung memakan bubur itu sendiri tanpa bantuan Kaitan sedikitpun. "Pergilah dari sini, aku ingin menghabiskan makanku"pintanya.
Kaivan yang sangat kesal dengan Anitapun menahan amarahnya, karena wanita itu sedang hamil calon anak darinya dan Kaivan memilih untuk keluar dari kamar Arumi meninggalkan Anita seorang diri.
Kaivanpun memilih melanjutkan makan malam bersama keluarganya walaupun ada perasaan yang mengganjal dihatinya, namun segera ditepis jauh-jauh dari pikirannya.
__ADS_1