
Lyli masih menatap Samuel setelah Barry dan Dita pergi dari hadapan mereka. Lyli tampak geram dengan sikap Samuel yang tak pernah akur dengan Barry adiknya itu. Samuel masih saja tak menyangka kenapa Barry harus pacaran sama adik kekasihnya sendiri.
"Kok bisa sih Dita kenal sama Barry!!?? Atau jangan-jangan Barry nih yang pernah liat Dita bersama dengan kita dan mencoba mendekati Dita.!" keluh Samuel. Tentu hal itu membuat Lyli semakin kesal padanya.
"Sam..! bisa gak sih kamu gak berpikir buruk tentang adik kamu.! Lagian udah lah, Mungkin ini jalan kalian supaya dekat. Gak mungkin kan kamu larang Dita buat memilih siapa yang dia suka"
"Ia aku gak akan larang Dita. Tapi aku akan bilang Barry buat jauhin Dita. kayak gak ada wanita lain aja. Liat aja dia nanti,,!"
"Sammm..,! Kalau kamu jauhin Dita dari Barry. Lebih baik aku pergi. Jangan ganggu aku untuk beberapa waktu!!" Lyli beranjak berdiri. Ia pergi dengan cepat meninggalkan Samuel duduk sendiri. Samuel bermaksud ingin mengejar tapi seorang pelayan memanggilnya. "Mas makanannya udah siap.!!"
Samuel tampak bingung. Ia menghentikan langkahnya dan merogoh dompetnya. Meletakkan uang 3 lembar uang berwarna merah di meja itu lalu pergi mengejar Lyli.
Secepat kilat Lyli menghilang, Sam tak dapat melihat Lyli. "Kemana Lyli pergi, cepet banget" Samuel sangat gelisah dan tahu Lyli wanita yang serius dengan ucapannya. Samuel mencoba menelepon Lyli tapi sepertinya Lyli sudah mematikan teleponnya.
Samuel akhirnya memilih pulang kerumah. Hatinya masih tidak tenang memikirkan Kekasihnya itu yang sampai detik ini belum juga menyalakan teleponnya. Samuel masih berdiri di garasi dan tak keluar dari mobilnya. Ia menunggu sosok Barry.
Satu jam sudah Sam disana sampai akhirnya sebuah mobil merah masuk kedalam garasi itu.
"Lama juga ya balik!!?" tanya Sam sudah berdiri didepan pintu mobil Barry membuat adiknya itu terkejut.
"Apaan sih, ngapain masih disitu kak?"
"Kamu kenapa mengikuti aku tadi hah!? kamu kan tahu aku paling benci, kamu mencampuri urusan pribadiku.!!" Sam melotot dan mendekatkan wajahnya pada Barry.
__ADS_1
"Dita, pacar aku. Jadi aku berhak tahu kemana dan sama siapa dia pergi.!" Barry bermaksud berjalan kedalam rumah tapi masih di jegat oleh kakaknya itu.
"Tapi kamu gak harus merusak suasana makan malam kami kan!!"
"Yah itu,, Maaf!!" Barry terlihat bingung, ia tahu jika kelakuannya di restoran itu diluar kendalinya karna tidak terima Dita ternyata menolak ajakannya karna makan malam bersama Sam dan kakaknya.
"Aku minta..,Kamu jangan dekatin Dita lagi. Gak bisa apah cari wanita lain selain yang aku kenal. Aku paling malas berurusan sama kamu, tahu kan!!"
"Owh kalau itu gak bisa gitu dong.!! Aku kenal Dita udah lama banget, enak aja nyuruh-nyuruh!!" Barry langsung bergerak kedalam rumah. Samuel mengikutinya merasa Barry sangat keras kepala.
"Eh,, bisa gak sih di bilangin hah..!?" Samuel menekan sedikit nada bicaranya karna Barry berhenti tepat di depan kamar orangtua mereka. Jam sudah menunjukan pukul 23:10 Wib. Tentu jika mereka adu mulut disana, kedua orangtuanya akan mendengar mereka.
"Kakak gak ada hak buat larang aku dekat dengan siapa pun. Kamu boleh gak suka sama aku dari dulu tapi bukan berarti masalah pribadi ku juga kamu urus kak..!" Bentak Barry dengan tegas membuat Sam terdiam. Barry melanjutkan langkah kakinya menaiki tangga dan masuk kedalam kamar. Sam masih berdiam diri di anak tangga. Ia duduk disana menggaruk kepalanya dan merenung.
Telepon Samuel tiba-tiba berbunyi. Dirogohnya kantongnya lalu di periksakan siapa yang menelepon. Ternyata Lyli, dengan cepat Samuel mengangkat telepon itu.
"Yah..?" jawab Sam singkat.
"Aku harap kamu tidak mengandalkan ego mu, Aku cuma mau bilang, jangan datang padaku sebelum hubunganmu dengan adik kamu baik.!!" Lyli langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Sam.
"Hallo,,!!" kata Sam tapi sudah terputus. "Ahhh!!"ucapnya kesal. Samuel semakin pusing dengan sikap semua orang padanya. Sam merasa seakan semua berpihak pada Barry. Baik ayahnya, mamanya bahkan kekasihnya.
"Apa sih yang dilihat mereka dari anak itu., Kenapa semua baik sama Barry!! Aneh, aku yakin ada sesuatu di diri Barry yang membuat semua orang seakan menyukainya., Bikin kesal ajah!!" keluh Sam. Ia pun beranjak berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Diperhatikannya kamar Barry yang sudah tertutup rapat itu. Ditatapnya tajam seakan menatap langsung pada Barry.
__ADS_1
Barry seakan mendengar langkah kaki dari Samuel yang berjalan memasuki kamarnya. Bahkan ia mendengar pintu kamar kakaknya itu saat Sam sudah masuk kedalam kamar.
"Kenapa yah Sam benci sekali sama aku? Salah aku apa yah,, dari kecil sampai sekarang dia tak pernah menyukaiku. Setiap ada aku disekitarnya dia pasti kesal.
Barry mengingat dulu ketika dirinya ingin masuk SMA pada sekolah terbaik dikota itu, tapi karna Samuel kakaknya juga sekolah disana, Ia terpaksa memilih sekolah lain karna Samuel tak ingin berada disekolah yang sama dengan dirinya. Ayah dan Mamanya terpaksa mendaftarkan Barry disekolah terbaik kedua.
"Pokoknya aku gak mau Barry masuk di sekolahku. Lagian ngapain sih bareng-bareng, kan masih banyak sih sekolah bagus mah,"
"Kamu kan sebentar lagi mau tamat Sam, kenapa gak pengen sih. Kan adik kamu sendiri juga" kata mamanya tak habis pikir sama sikap Samuel.
"Yah, pokoknya aku gak suka." Samuel masuk kedalam kamar tanpa mendengar ucapan mamanya.
"Udah lah mah, masih banyak sekolah bagus kok. Daripada berdebat terus sama Kakak, aku juga gak mau nanti pas di sekolah yang sama malah semakin membuat Kakak gak suka samaku."
"Mama heran kenapa anak itu selalu saja kesal sama kamu. Kayak kamu bukan adek kandungnya aja" Keluh mamanya ketika itu. Barry ketika itu ingat sekali bagaimana sikap ayahnya pada mamanya ketika terucap kata-kata itu. Ia melihat seakan Ayahnya mengatakan sesuatu pada mamanya. Kejadian itu sangat melekat di pikiran Barry sampai saat ini. Barry seakan membenarkan keadaan itu apakah benar ia bukanlah adik dari Samuel.
"Ah tapi gak mungkin, kan Ayah dan Mama sangat sayang sama aku. Lagian kenapa mereka mengadopsiku kan diatas aku banyak laki-laki. Jika pun mengadopsi, harusnya perempuan dong,," keluhnya. Barry mulai merasa gelisah dan bermaksud mencari tahu apa yang sebenarnya yang janggal pada dirinya sehingga membuat Samuel benci padanya. Padahal Dimas dan Reno kakak pertama dan keduanya menyayanginya dengan baik.
Barry baru saja meletakan teleponnya genggamnya di meja lalu bermaksud untuk merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu. Namun telepon itu sepertinya berdering. Ia kembali meraih telepon itu dan melihat siapakah yang meneleponnya tengah malam.
Ternyata itu adalah sebuah pesan dari Dita pacarnya. Ia membuka pesan itu dan membacanya.
"Bar, besok sore kita ketemu yah, Aku kerja kedaerah kamu besok. Aku kesana pukul 09:00 Wib."
__ADS_1
"Ehmmm bagus deh. Besok biar cerita ke Dita ajah." gumam Barry meletakkan kembali telepon genggamnya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Ia memejamkan matanya setelah beberapa menit menatap atap kamar sembari melamun.