
Dua minggu kemudian....
Hari berganti hari, Pak Dimas menjalankan tugas gandanya. Ia melakukan semua pekerjaan rumah yang biasa dilakukan oleh isterinya. Ia bekerja sangat keras demi keempat anaknya. Dimas yang tak tega melihat Bapaknya bekerja sendirian pun berdiskusi dengan ketiga adiknya.
Lyli bertugas menyapu rumah, sementara Susi mencuci piring, Reno yang masih kelas satu SD hanya menemani apa saja yang dilakukan oleh ketiga kakaknya. Dimas bertugas memasak untuk makan malam. Biasanya hal itu didampingi oleh Ibunya. Namun sejak dikatakan oleh Bapaknya jika Ibunya masih sakit, Dimas tak ingin merepotkan Bapaknya yang tentu sudah lelah bekerja di Ladang.
Reno yang bermain didapur menemani Dimas berteriak karna melihat Bapaknya sudah kembali dari Ladang.
"Bapak pulang....Bapak pulang...!" teriaknya memanggil sambil melompat kegirangan.
Wajah letih lesu Pak Dimas seketika hilang melihat Reno yang begitu girang menyambutnya.
Pak Dimas terkejut melihat semua pekerjaan rumah sudah selesai. Bahkan menu makan malam sudah hampir selesai dimasak oleh Dimas.
"Oh terimakasih kakak Dimas karna udah membantu Bapak." ucapnya.
"Ia pak, Bapak pergilah mandi, jika Bapak kedinginan biar Dimas masak air hangat untuk Bapak." tanya Dimas semangat walaupun diwajahnya ada noda hitam bekas arang api yang digunakannya memasak nasi. Dimas memasak pada tungku yang harus di bakar pakai kayu agar sayur, nasi dan ikan bisa dimasak.
"Gak perlu nak, bapak masih kuat mandi air dingin." ucapnya begitu terharu seakan hatinya disaat tak tega melihat kepolosan anak-anaknya.
Pak Dimas pun pergi kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah kotor karna membajak sawah.
Makan malam pun tiba, keempat anak pak Dimas menyediakan makan malam dibentangan tikar. Mereka melakukan itu setiap hari dan berdoa bersama sebelum menyantap makan malam mereka.
Setelah selesai makan bersama, Pak dimas bermaksud meninggalkan anak-anaknya kedalam kamar dan istirahat.
"Pak, Ibu kapan pulang? ini udah dua minggu berlalu sejak Bapak pulang??" tanya Dimas membuat Pak dimas kembali duduk.
__ADS_1
"Ia pak, kata Bapak Ibu sakit. Tapi, kenapa kita gak pernah menjenguknya??" tanya Susi lagi.
"Reno rindu Ibu pak....," tiba-tiba Reno menangis setiap kali mereka membahas tentang Ibu.
Tak sanggup rasanya Pak Dimas menjawab pertanyaan-pertanyan anak-anaknya. Hanya diamlah yang bisa ia lakukan.
"Ibu kalian pasti pulang, ditunggu saja ya nak. Berdoa biar Ibu kalian cepat sembuh." ucapnya dengan sangat berat. Lalu Pak dimas memanggil Dimas untuk menemaninya mengobrol di depan rumah.
"Dimas, temani Bapak kedepan. Kalian Susi, Reno dan Lyli, belajarlah di meja. Kerjakan PR sekolahnya ya." katanya beranjak berdiri, begitu juga dengan Dimas.
Sang Bapak merasa jika Dimas sudah lebih mudah memahami dibanding ketiga adiknya.
Dimas pun duduk dikursi yang terbuat dari papan yang sengaja diletakan Pak Dimas didepan rumah agar bisa duduk menikmati sore hari jika ia cepat pulang dari ladang.
Pak Dimas duduk tepat disamping anak pertamanya dan sama-sama memandang langit yang gelap.
"Bapak mau bilang apa sama Dimas." tanya Dimas penasaran.
"Ehm-m. Begini nak, sebenarnya Ibu kamu begitu syok mengetahui adik bungsu kamu hilang."
"Jadi, Ibu sakit karna tahu Tino hilang pak?"
"Ehm, sebenarnya Ibumu punya penyakit yang sulit disembuhkan. Ibumu tak boleh mengalami syok berat. Jadi, terpaksa Ibumu di rawat di Rumah Sakit khusus nak. Dan Bapak gak bisa menjenguknya. Rumah sakit itu tidak boleh sembarangan masuk. Susterlah yang merawat Ibu kamu dengan maksimal."
"Oh astaga, pasti Ibu sangat menderita Pak." kata Dimas sedih.
"Bapak gak mau membuat ketiga adikmu semakin sedih. Mereka tentu tak terlalu paham soal ini. Makanya Bapak kasih tahu ke kamu nak. Kamu harus kuat dan harus bisa menghibur ketiga adikmu sampai Ibu ditanyakan sembuh dan kembali kerumah ini lagi." Pak Dimas memeluk anak pertamanya begitu erat.
__ADS_1
Pak Dimas sebenanrnya tak sanggup mengatakan itu semua karna tak ingin anak-anaknya sedih. Cukup Bapaknya saja yang merasakan kepedihan keluarganya.
"Bapak...., jangan sedih. Aku sering melihat Bapak menangis sendirian dikamar. Kadang Bapak juga melamun di waktu siangmu pada saat disawah. Bapak harus kuat...!" Dimas memeluk Bapaknya sangat erat.
***
Begitulah yang dialami oleh keluarga Pak Dimas selama beberapa bulan hingga Ibu anak-anaknya dinyatakan sembuh dan menjalani terapi kesehatan mental dirumah. Setelah bisa kembali menjalani aktifitas normal, perlahan Pak Dimas memberitahukan kepada isterinya apa yang sudah terjadi.
Pak Dimas begitu mencintai isterinya hingga dengan sangat tulus merawat dan menjaga kebahagian keluarganya. Ia tak mau isterinya sakit lagi. Jadi peran yang paling besar adalah perannya. Perlahan keempat anaknya mulai tumbuh remaja dan Dimas mulai dewasa.
Pengalaman pahit dan sangat sedih mereka begitu membekas dihati keempat anaknya. Kejadian itu membuat keempat anak itu memilih untuk tidak terlalu mau bergabung dengan lingkungannya. Apalagi perlahan-lahan semua penduduk desa mengetahui kisah sedih keluarganya.
Untung saja penduduk desa sangat menjaga kisah keluarga Pak Dimas sehingga tak mau membicarakan hal buruk kepada orang-orang. Penduduk desa selalu memberikan semangat dan dukungan kepada keluarganya.
Seiring berjalannya waktu, tahun demi tahun, Dimas dan ketiga adiknya mulai menerima sang adik bungsu yang tak kunjung ditemukan. Namun disetiap doa mereka selalu ada nama sang adik agar dijaga dan dirawat oleh orang yang baik. Mereka berdoa agar siapapun keluarga yang menemukan adik mereka dibesarkan dengan kasih sayang sepert yang mereka berikan kepada sang adik.
Dimas sudah semakin dewasa, disetiap doa dan harapannya, ingin sekali rasanya ia membahagiakan kedua orangtuanya yang sudah begitu keras berjuang kepada mereka dengan mempertemukan sang adik didepan mereka. Namun sepertinya belum dapat ia wujudkan karna ia tak tahu harus bagaimana mencari sang adik.
Dalam benaknya, ketika ia pertama kali menginjakan kakinya di kota. Hal yang pertama ia lakukan adalah mencari sang adik. Namun ternyata kota begitu luas tentu sangat sulit mencari informasi terkait sang adik yang sudah hilang bertahun-tahun yang lalu.
Begitu juga dengan Lyli, Susi dan Reno. Tanpa saling memberitahu harapan masing-masing. Mereka memiliki tujuan yang sama yaitu mencari sang adik di kota.
Namun sampai Dimas,Susi dan bahkan Lyli sudah menyelesaikan pendidikan Sarjana di kota, mereka tak juga mendapat informasi apa-apa tentang sang adik bungsu. Jangankan informasi,cara mereka mencari informasi pun mereka tak tahu memulai dari mana.
Namun siapa sangka Lyli yang mengenal Samuel ditempat pekerjaan yang baru saja ia jalani setelah Sarjana malah membuat kisah lama terungkap kembali.
Siapa sangka jika Tuhan begitu baik dalam merancang kehidupan setiap umatnya. Walaupun butuh waktu tiga tahun pertemanan Samuel dan Lyli barulah Tuhan menunjukan rencana indahnya di keluarga yang begitu tabah menghadapi kisah pahit kehidupan itu.
__ADS_1
Siapa sangka juga jika sang adik bungsulah yang malah berusaha mencari siapa dirinya setelah beranjak dewasa. Siapa sangka jika adik merekalah yang malah datang menghampiri mereka dan mengatakan jika ia adalah adik bungsu yang dulu hilang dari keluarga mereka. Anak yang dulu hilang distasiun Bus kota.